Oleh: Habib Iman Nurdin Sholeh

 

Hingga tulisan ini dibuat pada 26 September 2019, luapan masa pada aksi demonstrasi yang diinisiasi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi masih gencar dilakukan. Berpusat di gedung-gedung pemerintah dan DPRD masing-masing daerah. Akun-akun media sosial (medsos) tak luput memviralkan aksi-aksi tersebut hingga menjadi trending topic. Yang menjadi pertanyaan, Mengapa Aksi Mahasiswa-Pelajar Begitu Masif?

Tidak ada yang menyangka bahwa gerakan-gerakan tersebut menjadi viral di jagat maya dan massif di dunia nyata. #GejayanMemanggil dan #MahasiswaBergerak sempat menjadi the first trending in social media. Dari ujung barat sampai ujung Timur gerakan ini terus dibicarakan. Juga dibuktikan sebagai gerakan organik bebas kepentingan oleh Drone Emprit.

Selain tren percakapan yang terus meningkat, tagar-tagar gerakan mahasiswa yang memenuhi arena medsos dan media online dimotori oleh energi baru. Mereka tidak masuk dalam aliansi dua kubu politik yang biasanya menguasai akun-akun media sosial. Justru data percakapan ini menunjukkan adanya cluster baru.

Mengapa Aksi Mahasiswa-Pelajar Begitu Masif?

Bukannya berhenti, tagar-tagar ini justru makin kuat. Makin masif dan meluas. Hingga Rabu (25/9) malam, tagar #STMMelawan tak terkalahkan. Bahkan hari ini (26/9), tagar #STMMahasiswabersatu menjadi top trending in social media.

Tidak hanya gempar di dunia maya, ternyata tagar-tagar gerakan tersebut memang nyata di lapangan. Ratusan pelajar STM meleburkan diri bersama para mahasiswa melakukan aksi protes. Bahkan saat diwawancara oleh wartawan, pelajar STM ada yang mengatakan, “Kami akan meneruskan perjuangan kakak-kakak kami”. Ada juga yang dengan semangat menyampaikan, “Kakak yang orasi, kami yang eksekusi”.

Tentu statement-statement mereka membuat kita terpukau. Ternyata pelajar STM yang selama ini selalu dipersepsikan dengan kenakalan remajanya, bisa terkonversi menjadi gerakan massa. Bahkan merepresentasikan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan menyikapi kondisi nasional bangsa.

Romantisme gerakan pelajar dan mahasiswa tidak bisa dianggap remeh dalam melakukan aksi protes akhir-akhir ini. Mereka adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki nilai historis sebagai kelompok influencer bangsa. Nalar dan nurani masyarakat ada pada mereka.

Mereka memiliki tanggungjawab moral untuk melakukan social control juga melakukan check and balances terhadap kekuasaan. Juga menghidupkan iklim demokrasi, dan mengawal serta mengisi reformasi. Sehingga pertanyaan “Mengapa Aksi Mahasiswa-Pelajar Begitu Masif?” pun terjawab

Tidak Ada Hubungannya Dengan Pemilu

Gerakan massa beberapa bulan yang lalu menerima stigma buruk karena tidak memiliki otentisitas perjuangan. Selalu ada isu politik yang menungganginya. Atau kepentingan isu-isu sensitif identitas privat yang menjadi penumpang gelap.

Bahkan tak dapat disangkal lagi bahwa banyak gerakan-gerakan massa lahir karena dilatarbelakangi oleh peristiwa politik. Atau pra-kondisi kontestasi politik dalam rangka berkompetsisi untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya gerakan-gerakan massa itu tidak bisa survive dalam jangka panjang. Karena mereka harus berkompromi dengan kelompok-kelompok kontestan politik, sehingga terkonversi menjadi kekuatan politik elektoral.

Berbeda dengan gerakan-gerakan yang diinisiasi pelajar dan mahasiswa. Gerakan ini dilatar belakangi oleh kegelisahan-kegelisahan akan kehidupan berbangsa. Isu yang diangkat ke permukaan tidak dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa politik tertentu. Tidak berkaitan dengan kelompok kontestan dan kontestasi politik. Juga tidak masuk dalam kubangan polarisasi politik yang selama ini berkembang. Gerakan-gerakan ini justru lahir karena kegelisahan kaum terpelajar dalam membaca realitas politik kebangsaan yang penuh dengan kezaliman dan ketidakadilan.

Isu yang digaungkan oleh gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh mahasiswa ini adalah isu strategis mengenai kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan. Berbagai RUU dan pengesahan UU banyak yang mencederai nurani keadilan dan mengebiri demokrasi. Kita sebut saja pengesahan UU KPK yang terkesan dipaksakan dan menjadi paradoks agenda reformasi selama ini.

Keprihatinan dan Duka Kolektif

Agenda reformasi lain seperti supremasi hukum juga menemui jalan buntu. Pasal-pasal karet yang menghantui setiap orang. Menjadi kekuatan untuk menghancurkan iklim demokrasi seperti pasal yang mengatur tentang kehormatan Presiden, makar, tindak pidana korupsi dan pasal-pasal yang mengatur ranah privat masyarakat.

Belum lagi dengan adanya RUU Ketenagakerjaan dan RUU Pertahanan yang menjadi perwujudan neo kolonialisme bagi rakyatnya sendiri. Padahal UU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual yang sudah lama dikaji dan menjanjikan keadilan tak kunjung disahkan.

Tidak berhenti di situ, aktivitas medsos dan percakapan jalanan para mahasiswa juga dipenuhi isu-isu kemanusaiaan dan lingkungan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat luas. Bahkan menjadi keprihatinan nasional, menjadi duka kolektif yang mendalam.

Tidak sedikit elemen masyarakat yang melakukan gerakan-gerakan sosial sebagai aksi solidaritas kemanusiaan dan lingkungan. Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra seakan tidak mencuri atensi. Apalagi sampai membuka pintu nurani para elit politik.

Ketidakhadiran Negara

Kompleksitas problem kebangsaan yang saat ini sedang terjadi tentu bisa mengaktifkan nalar publik secara kolektif. Kejernihan dan ketajaman nalar publik dalam menyaring isu-isu dan wacana-wacana kebangsaan menjadi pendobrak kegelisahan nasional. Menyalakan bara api semangat perjuangan di tengah ketidakhadirannya Negara dalam menjawab multi aspek krisis kebangsaan. Mulai dari ketidakadilan, problem kemanusiaan, problem lingkungan, dan problem kehidupan bangsa lainnya.

Aksi demonstrasi oleh puluhan ribu kaum terpelajar secara serentak di seluruh wilayah Indonesia merepresentasikan perjuangan keadilan. Menggugat elit bangsa yang ugal-ugalan dalam penyelenggaraaan negara, arogan dalam menjalankan amanah kekuasaan. Tak pelak, aksi-aksi ini menjadi harapan baru di saat macetnya saluran-saluran politik melalui lembaga parlemen dan partai politk.

Hadirnya gerakan baru yang diinisiasi oleh mahasiswa memberikan energi baru. harapan segar bahwa masih ada kelompok masyarakat yang memperjuangkan hak-hak konstitusionalnya di ruang publik. Dengan kekuatan intelektual dan moral force yang dimiliki kaum terpelajar diharapkan konsisten mengawal agenda reformasi. Bahkan di tengah sikap pesimisme publik dan public distrust terhadap negara.

Ekspektasi publik terfokus pada pada gerakan-gerakan mahasiswa agar tetap berada dalam rel konsistensi idealisme gerakan. Karena idealisme yang ditopang oleh kekuatan intelektual dan moral force bisa membangkitkan api semangat perjuangan. Meski tanpa figur personal yang menjadi komando barisan perjuangan.

***

Harus kemana dan kepada siapa lagi mereka menyuarakan aspirasi dan keluh kesah akan suramnya masa depan demokrasi kita? Saat sikap pesimisme dan public distrust yang tinggi terhadap para elit bangsa. Ketika reformasi dikorupsi. Saluran-saluran politik ikut mengalami kemacetan. Bahkan negara tidak hadir dalam pelbagai persoalan kebangsaan.

Menyampaikan aspirasi, pendapat di muka umum, dan menyuarakan keadilan di jalanan pun tak luput dari represifitas, arogansi, dan kebrutalan aparat dalam mengamankan jalannya aksi. Alih-alih mereka melakukan pengamanan namun yang dirasakan justru sebaliknya. Ancaman yang justru dirasakan.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda