Mengenal Jejak Dakwah Digital Habib Ja’far Al Hadar

 Mengenal Jejak Dakwah Digital Habib Ja’far Al Hadar

Sempat muncul di beberapa media massa baik digital maupun cetak. Nama Habib Ja’far, atau lengkapnya Husein Ja’far Al Hadar kian naik daun di dunia dakwah kekinian, ia tampil di permukaan publik sebagai sosok ‘Habib Anti Meanstrem’.

Pria yang masih berdarah Madura, dan juga masih memiliki garis keturunan Nabi Muhammad tersebut, menampilkan sosok seorang Habib yang tidak seperti biasanya kita jumpai berlalu lalang di sekitar kita saat ini. Terbiasa memakai kaos dan juga celana levis, serta hanya dilengkapi peci putih dikepalanya, membuat habib satu ini dijuluki sebagai ‘Habib Milenial’.

Habib Ja’far

Tutur katanya yang halus nan lembut, tidak terkesan meledak-ledak, serta senyum yang selalu menghiasai habib satu ini, menjadi ciri khas tersendiri bagi sosok Habib Ja’far Al Hadar, sapaan ramah baginya. Penulis pertama mengetahui Habib unik satu ini, saat ia tampil di Podcast Deddy Corbuzier, akhir April lalu.

Ada hal menarik yang penulis lihat dari percakapannya dengan seorang artis kondang Deddy Corbuzier pada kesempatan tersebut, ia dengan santai memakai kaos, dan juga celana jeans pada saat rekaman, membuat Dedy juga heran terhadapnya, mengingat ia menyandang gelar ‘Habib’. Sebuah gelar yang tidak sembarangan bagi seorang muslim, terutama di Indonesia.

Akan tetapi saat ia ditanya oleh Deddy Corbuzier atas style-nya tersebut, Habib Ja’far hanya menimpali dengan nada santai, “Islam tidak pernah mengatur fashion seorang muslim, intinya menutup aurat saja, selanjutnya disesuaikan kebutuhannya sendiri. Karena saya selama ini konsen untuk berdakwah dikalangan milenial, makanya saya memutuskan untuk memillih style yang sesuai di kalangan mereka. Harapannya agar dakwah saya dapat diterima di kalangan milenial, serta tidak membangun jarak antara saya dengan objek dakwah yang saya sendiri”.

Antara Jubah dan Hjrah

Di tengah arus hijrah yang akhir-akhir gencar dikampanyekan untuk memakai pakaian ‘khas Islam’, Habib satu ini memilih memakai kaos dan celana levis daripada harus memakai jubah, imamah, serta jenggot yang panjang.

Namun, karena tekad berdakwah secara luwes, dan tidak terkesan kaku, beliau pun juga mengikuti trend anak muda yang familiar dengan mereka. Pernyataanya yang membuat penulis sedikit tersentak adalah ia bahkan rela memakai pakaian badut jikalau memang objek dakwahnya menyukai style badut. MasyaAllah, Bib.

Aktif Sebagai Penulis

Aktif menulis sejak dibangku kuliah, membuat tulisannya tersebar di berbagai media massa terkenal Indonesia. Sehingga penulis rasa, habib satu ini memang tidak bisa diragukan dari segi keilmuannya. Sempat mondok di Pondok Pesantren Bangil, Jawa Timur, lalu lulus sebagai seorang Sarjana Filafat Islam (S.Fil.I) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Beliau kemudian melanjutkan program master Tafsir Hadist di universitas yang sama. Hal ini membuat penulis semakin yakin bahwa Habib Ja’far adalah sosok cendekiawan Islam yang tekun Tafaqquh Fid Diin (Mendalami Ilmu Agama) dengan rentan waktu yang cukup lama. Sehingga narasi-narasi yang ia sampaikan kental akan nilai-nilai keislaman dan keagamaan.

Mengambil Langkah di Media Digital

Sejak dulu, karena sering menulis di berbagai platform media massa, Habib Ja’far hanya konsen di kepenulisan saja. Akan tetapi, berangkat dari keresahan Habib, melihat medsos  saat ini yang hanya diisi oleh konten negatif, ujaran kebencian, serta berita hoaks, mendorongnya untuk tampil di depan layar. Salah satunya adalah, ia membuat kanal media youtube berjudul “Jeda Nulis”. Hingga saat ini telah memiliki kurang lebih 176 ribu subscriber, merekalah semuanya adalah ‘Jamaah Al Digitaliyah’ Habib Husein Ja’far.

Media sosial menjadi salah satu media yang dipilihnya karena melihat masyarakat menghendaki keberislam secara instan, dengan dalih ingin berhijrah. Sehingga kebiasaan masyarakat saat ini, mereka ingin mengetahui Islam, namun tidak mau nyantri, belajar kitab, dan belajar bahasa arab. Sehingga keberislam seperti inilah yang dirasa tidak sehat, dan dikhawatirkan habib tidak akan komprehensif dan holistik (menyeluruh) sampai ke akarnya.

Anak Muda Perlu Perhatian Khusus

Bagi habib, anak muda dan orang yang jauh dan belum mengenal Islam perlu sentuhan ‘khusus’ oleh para da’i dan muballigh. Saat ini, kita tidak hanya sekadar mengkritisi mereka yang sering nongkrong di warung atau menghabiskan hari-harinya dengan menghambur-hamburkan kuota untuk mengakses konten internet yang tidak jelas.

Namun, kita juga harus berani dan mau untuk langsung terjun ke mereka, sehingga ranah dakwah tidak sempit hanya di mimbar-mimbar masjid ataupun majelis taklim. Melihat semakin hari kebutuhan umat semakin beragam dan juga makin aneh-aneh saja.

Kultum Pemuda Tersesat

Akhir-akhir ini juga, sang Habib terlihat berkolaborasi dengan salah satu Kumpulan Komika Indonesia, Majelis Lucu Indonesia di media youtube MLI. Habib Ja’far hadir sebagai seorang pembicara pada program “Kultum Pemuda Tersesat”. Bersama host bernama Tretan Muslim dan juga Coki Pardede, ia menjawab berbagai pertanyaan dari para ‘Pemuda Tersesat’, sebutan Tretan Muslim dalam acara tersebut.

Pertanyaannya pun beragam, mulai dari yang berat-berat yang bersifat subtansial dan prinsipil, hingga yang nyleneh-nyleneh. Akan tetapi semuanya dijawab dengan mudah, ringkas, dan juga dibumbui dengan guyonan-guyonan ala Habib Ja’far dan MLI “Chuarkss”. Alhasil, program yang terbit selama Ramadan kali ini, disambut positif oleh para warganet kita. banyak yang tertarik dengan program tersebut, karena dirasa ‘kekinian banget’ dan juga sesuai kebutuhan masyarakat kita saat ini, terutama kaum-kaum awam.

Wajah Dakwah Islam di Indonesia

Pada akhir tulisan ini, izinkan penulis memberikan beberapa opini penutup sebagai sebuah konklusi dan penjabaran singkat mengenai sepak terjang Habib Husein Ja’far Al Hadar di dunia Sosmed saat ini. Terlepas dari stigma-stigma negatif yang mampir kepada beliau. Penulis tetap mengedepankan nilai-nilai husnuudzon kepada beliau sebagai seorang Ahli Agama.

Munculnya banyak aliran Islam, serta organisasi islam yang bermacam-macam ajarannya, dari yang ekstrimis hingga liberalis, membuat ummat semakin terbelah, serta terpecah. Alhasil, Islam yang dipahami oleh masyarakat Indonesia saat ini adalah islam yang gado-gado. Semuanya dimasukkan, dicampur-aduk menjadi satu.

Sehingga, terkadang salah dalam memahami esensi dari ajaran Islam itu sendiri. Maka Habib Ja’far, hadir sebagai seseorang yang membawa oase islam yang damai, indah, dan dapat diterima oleh banyak kalangan. Sehingga wajah islam hadir sebagai agama yang sejuk, damai, serta merangkul semua

Wallahu A’laam.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Faiz Arwi Assalimi

Ketua PD IPM Kota Yogyakarta Bidang Advokasi. Anggota Bidang Kader PK IMM A.R Sutan Mansur, UNY

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.