Menjadi Terpelajar: Starter Pack ala Bumi Manusia

 Menjadi Terpelajar: Starter Pack ala Bumi Manusia

Oleh : Nabhan Mudrik Alyaum*

 

Suatu hari di bulan April 2018 silam, saya bersama salah seorang teman sedang berada dalam perjalanan menumpang rangkaian kereta ekonomi Sri Tanjung. Perjalanan dari Banyuwangi menuju Jogja dengan rute melewati Surabaya. Kebetulan, selama perjalanan dari Banyuwangi hingga di Surabaya, teman duduk di hadapan saya adalah dua pria bule dari Denmark.

Salah satu dari kedua pria bule tersebut kemudian tertarik dengan buku yang saat itu sedang saya baca. Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Bule tersebut kemudian meminta bantuan teman di sebelahnya yang memiliki ingatan visual kuat. Sang teman sesaat setelahnya menyalakan smartphone dan mengakses mesin pencari Google. Ia menunjukkan hasil pencariannya, gambar sampul buku berjudul This Earth of Mankind. Versi berbahasa Inggris dari Bumi Manusia.

Perjumpaan ini menjadi bukti yang saya temui dengan mata kepala sendiri tentang popularitas Bumi Manusia. Buku ini memang tidak hanya terkenal, namun juga mendunia, sampai diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Namun lebih daripada itu, buku yang baru-baru ini diadaptasi dalam film berjudul sama memiliki pesan moral yang begitu mendalam.

Kaum terpelajar perlu menyadari dan memahami karakter-karakter terpelajar sejak awal. Agar tidak hanya merasa terpelajar, melainkan benar-benar menjadi terpelajar.

 

Adil Sejak dalam Pikiran

Satu kalimat yang paling melekat dalam ingatan tentang Bumi Manusia adalah “menjadi kaum terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”. Kutipan ini muncul dalam percakapan Minke—sang tokoh utama—dengan Jean Marais, sahabatnya yang berkebangsaan Prancis. Kalimat ini kemudian menjadi kalimat yang Bumi Manusia banget.

Prinsip adil sejak dalam pikiran ini muncul saat Minke ragu dengan kebaikan dan kecerdasan Nyai Ontosoroh. Wajar saja, di masa kolonial, “nyai” bukanlah sekadar kata tanpa makna. Nyai adalah sebutan untuk gundik, pasangan tidak sah para Belanda totok dari kalangan pribumi. Nyai pada masa itu diidentikkan dengan kesan bodoh, tidak berpendidikan. Lengkap dengan kecenderungan mendekati lelaki untuk dorongan seksual. Dan Minke terus diingatkan oleh orang-orang di sekitarnya mengenai hal ini.

Namun, karena prinsip adil sejak dalam pikiran maka Minke tidak menggubris anggapan itu. Alih-alih percaya dengan kata orang tentang Nyai Ontosoroh, Minke lebih memilih untuk mempercayai ketulusannya. Prinsip ini kemudian diterapkan Minke dalam kehidupannya. Tidak memandang sesuatu ataupun seseorang karena kabar yang tersiar melainkan membuktikannya dengan adil.

 

Kesadaran Hukum

Nyai Ontosoroh memang bukan merupakan kaum terpelajar yang berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Namun ia menerapkan karakter kaum terpelajar. Salah satunya adalah sadar hukum.

Seperti yang telah disebutkan, status “nyai” adalah tidak sah di mata hukum. Pernikahan dianggap tidak pernah ada, sehingga hak-hak dalam ikatan pernikahan tidak dimiliki oleh Nyai Ontosoroh. Berhadapan dengan hukum pun seringkali menjadi mimpi buruk. Namun, alih-alih menghindar ataupun melawan proses hukum yang sah dengan kekerasan misalnya, mereka memilih tetap mengikuti proses hukum dengan segala tantangan yang menghadang.

Nyai Ontosoroh dan Minke berurusan dengan hukum karena kasus kematian Herman Mellema, suami Nyai Ontosoroh. Persoalan ini menjadi pelik karena hukum kolonial sangat bias dan menindas pribumi. Namun dengan kesadaran hukum dan kecermatan yang baik mereka menang. Keduanya divonis tidak bersalah dalam kasus kematian Herman Mellema. Suatu kejadian langka di mana pribumi dapat memenangkan proses peradilan.

Tidak berhenti di situ, ketidakadilan dan kejanggalan selama proses peradilan yang dialami dalam kasus kematian Herman Mellema menjadi pelajaran bagi masa-masa setelahnya. Keberhasilan mereka memunculkan simpati publik. Memunculkan solidaritas masyarakat juga berperan dalam perbaikan-perbaikan sistem hukum. Bahkan memberi kritik terhadap penggolongan pribumi-non pribumi, menjadi salah satu tonggak awal kesadaran nasional Bangsa Indonesia pra-kemerdekaan.

 

Melampaui Sekat Kemanusiaan

Sepak-terjang Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies menembus rendahnya pendidikan masyarakat dan ketidakadilan kolonial tidak dilakukan oleh mereka secara sendirian. Mereka memperluas jejaring, bekerja sama dengan banyak pihak. Mulai dari Jean Marais, Jan Dapperste (Panji Darman), Nijman dan Kommer dari S.N.v.D, sampai Asisten Residen Herbert de la Croix dan dua anaknya.

Semua pihak yang disebutkan di atas berbeda agama. Berbeda kelas, berbeda suku-bangsa, berbeda pandangan politik, juga hidup dalam masa kolonial yang minim keadilan hukum. Namun karena sikap terpelajar semuanya membantu Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies.

Jean Marais menjadi sahabat Minke. Jan Dapperste si teman sekolah berdarah campuran Indo-Belanda selalu membela Minke saat diintimidasi di sekolah. Nijman dan Kommer menerima tulisan-tulisan Minke pada harian S.N.v.D, menyiarkannya secara luas dalam Bahasa Belanda dan Melayu. Herbert de la Croix memberikan bantuan hukum pada Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies—bahkan de la Croix sampai mengundurkan diri karena Putusan Pengadilan Amsterdam tidak berpihak pada mereka bertiga. Mereka memahami bahwa penindasan dan ketidakadilan tidak semestinya diterima manusia.

Bantuan semacam ini untuk masa sekarang mungkin wajar. Namun pada masa kolonial dengan pembedaan kelas dan penindasan terhadap pribumi, bantuan-bantuan tersebut menjadi luar biasa. Begitulah semestinya kaum terpelajar bersikap pada saat ini.

Kebaikan-kebaikan tidak selamanya dipandang berdasarkan agama, kelas sosial, suku-bangsa, dan pandangan politik. Setiap manusia memiliki hak yang sama. Prinsip kemanusiaan inilah yang perlu dipegang sebagai sikap kaum terpelajar.

***

Memang benar bahwa terpelajar tidak terlepas dari ijazah dan gelar. Namun lebih dari itu, terpelajar harus memiliki nilai-nilai mendasar di luar ijazah dan riwayat pendidikan. Bumi Manusia mengajarkan kepada kita untuk menjadi kaum terpelajar yang adil, sadar hukum, dan menjunjung kemanusiaan. Karakter dan sikap yang tetap relevan diterapkan hingga hari ini.

 

*) Ketua PW IPM DI Yogyakarta Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan. Mahasiswa S1 Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM.

Nabhan Mudrik Alyaum

Mahasiswa Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM. Ketua PW IPM DI Yogyakarta Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *