Menyatukan Umat Islam dari Masjid Gedhe Hingga Masjid Syuhada

0
1787
Menyatukan Umat Islam dari Masjid Gedhe Hingga Masjid Syuhada
Ilustrasi. Sumber: Kabarkota
Oleh: Andika Saputra*

 

Sepekan terakhir, telah dan akan terjadi dua peristiwa terbilang penting di Yogyakarta yang melibatkan masjid dalam rangka mempersatukan umat Islam. Upaya menyatukan Umat Islam dari Masjid Gedhe hingga Masjid Syuhada. Peristiwa pertama adalah penyelenggaraan acara Muslim United yang telah berlangsung pada 11-13 Oktober 2019.

Muslim United atau MU pada hari pertama diselenggarakan di kompleks Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Tetapi pada hari kedua dipindah ke Masjid Jogokariyan Yogyakarta disebabkan tidak disetujuinya perizinan menempati Masjid Gedhe Kauman oleh pihak Keraton Ngayogyakarta. Peristiwa kedua ialah Tasyakuran Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara yang direncanakan akan diselenggarakan pada malam Kamis ini, 17 Oktober 2019, di Masjid Syuhada Yogyakarta.

Tafsir Orang Luar

Terhadap kedua peristiwa tadi saya sebagai penafsir memposisikan diri sebagai ‘orang luar’. Yakni pihak yang tidak terlibat atau tidak menjadi bagian dalam dua acara tersebut. Kedua peristiwa tadi menarik untuk ditafsirkan dari perspektif keilmuan arsitektur yang saya geluti. Karena melibatkan ruang masjid yang memiliki nilai simbolik dan historis.

Tentu saja sebagai ‘orang luar’ tafsir yang saya produksi bisa jadi benar dan bisa jadi salah, pun bisa jadi diterima dan bisa pula ditolak. Karena tidak dapat dilepaskan dari aspek subjektivitas saya sebagai penafsir. Namun demikian, tafsir yang akan saya sampaikan pada tulisan ini tidak sepenuhnya subjektif. Karena bersandarkan pada hal-hal yang bersifat objektif, seperti publikasi dan dokumentasi acara, bentukan fisik masjid secara arsitektural, dan kesejarahan masjid.

Peristiwa pertama sempat mengundang keributan di media sosial. Dari nama acaranya secara tekstual sudah dapat ditangkap. Jika tujuan diselenggarakannya Muslim United ialah untuk mempersatukan umat Islam dari berbagai latarbelakang organisasi, pergerakan, dan pemahaman keislaman.

Baca Juga  Dilema Perda Syariat: Kasus Poligami di Aceh

Keributan dipicu karena tanggapan pihak yang terlibat dalam acara MU terhadap keputusan Keraton Ngayogyakarta. Di mana pihak Keraton tidak menyetujui perizinan penyelenggaraan acara di kompleks Masjid Gedhe Kauman yang secara historis dan politis tidak dapat dipisahkan dari keberadaan keraton. Untuk menanggapi keputusan tersebut, narasi mulai diproduksi dan disebarluaskan bahwasanya masjid hanya dimiliki oleh Allah. sehingga tidak dibenarkan pihak manapun melarang umat Islam untuk memasuki dan berkegiatan di masjid.

Saya menangkap kesan produksi narasi dilandasi sikap ‘ngeyel’ untuk menolak keputusan pihak keraton. Sehingga penyelenggara tetap bersikukuh mengadakan acara MU di kompleks Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Sebagaimana rencana semula yang telah tertulis dalam publikasi.

Tafsir Pertama Atas Keberadaan Masjid Gedhe

Polemik seputar penyelenggaraan acara MU yang melibatkan pihak keraton memiliki kemungkinan diproduksinya dua tafsir yang berbeda. Tafsir pertama berangkat dari pemahaman bahwa Masjid Gedhe Kauman merupakan simbol kekuasaan politik keraton atas aspek keagamaan masyarakatnya. Menempatkan masjid dan pengurus masjid sebagai bagian dari struktur pemerintahan keraton.

Dengan pandangan ini, keberadaan maksura yang merupakan ruang shalat khusus bagi Sultan di ruang salat Masjid Gedhe Kauman dipahami sebagai simbol kekuasan keraton terhadap masjid. Terpisah dari jamaah shalat yang secara struktur politik memiliki kedudukan lebih rendah daripada Sultan. Sehingga sikap ‘ngeyel’ pihak yang terlibat dalam acara MU terhadap keputusan keraton dapat ditafsirkan sebagai sikap menentang otoritas keraton.

Jika tafsir ini yang diproduksi dan dipegang oleh pihak keraton, maka konflik sudah pasti tidak dapat dihindari. Penguasa mana yang rela jika kekuasaan politiknya diragukan, apalagi diacuhkan?

Maksura di Masjid Gedhe dan Tafsir Kedua

Tafsir kedua berangkat dari pemahaman bahwa keberadaan Masjid Gedhe Kauman di dekat pusat pemerintahan merupakan simbol Islamisasi terhadap keraton. Pandangan ini akan memahami keberadaan maksura di ruang salat Masjid Gedhe Kauman sebagai simbol ketundukan Sultan terhadap Syariat Islam. Tergambar dalam sikap untuk keluar dari lingkungan keraton dan salat berjamaah di masjid bersama dengan rakyatnya.

Baca Juga  Hijrah yang Tak Menyejarah?

Tafsir kedua ini memahami sikap ‘ngeyel’ pihak yang terlibat dalam acara MU sebagai upaya reislamisasi. Agar Sultan kembali berkhidmat kepada umat Islam dengan mendatangi masjid yang berada di dalam wilayah kekuasaannya. Kemudian salat di dalam bilik maksura, sebagaimana dilakukan Sultan-sultan terdahulu.

Jika tafsir ini yang ditangkap oleh pihak keraton, terutama Sultan, saya pribadi berharap dan berdoa agar Allah memberi petunjuk-Nya kepada beliau agar kembali menjadi pemimpin bergelar Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Beralih kepada peristiwa kedua. Kelahiran Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara yang diresmikan pada telah menjadi buah bibir sepekan belakangan ini di kalangan pembelajar dan cendikiawan Muslim, khususnya di Yogyakarta. Kehadirannya memberikan nafas baru dan harapan besar untuk mewujudkan individu Muslim yang beradab sebagai pondasi dibangunnya Peradaban Madinah.

Masjid Syuhada Sarat Nilai Sejarah

Tasyakuran yang direncanakan dihelat di Masjid Syuhada juga sarat akan makna terkait kesejarahan masjid. Masjid Syuhada yang mulai dibangun pada 17 Agustus 1950, merujuk pada tipologi yang dirumuskan oleh Prof. Tajuddin Rasdi, tergolong memorial mosque. Keberadaannya sebagai monumen untuk memperingati para pahlawan Indonesia yang gugur syahid mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Berangkat dari nilai historis masjid, penyelenggaraan tasyakuran di Masjid Syuhada dapat ditafsirkan sebagai upaya generasi pemuda Muslim di era kekinian untuk mempertahankan kemerdekaan. Merdeka dengan menjadi pribadi manusia yang merdeka, yakni manusia yang dengan akalnya hanya tunduk patuh kepada Allah berdasar ilmu. Sehingga tidak akan terjerumus meyakini kebenaran ideologi selain Islam, apalagi menjual kehormatan demi setumpuk uang.

Tafsir demikian dikuatkan dengan keberadaan fasilitas perpustakaan dan ruang kelas untuk diskusi yang identik dengan keilmuan, akal, dan kecendikiawanan. Seakan Masjid Syuhada menyampaikan pesan, itulah (ilmu) yang dibutuhkan untuk menjadi manusia merdeka. Agar dapat mempertahankan kemerdekaan

Baca Juga  Salam: Tak Sekadar Teologis, Namun Juga Akhlak

Menyatukan Umat Islam dari Masjid Gedhe Hingga Masjid Syuhada

Dua peristiwa yang saya tafsirkan secara spasial, saya yakin memiliki tujuan untuk mempersatukan umat Islam. Hanya saja berbeda dalam strategi yang digunakan. Peristiwa pertama menerapkan strategi bernuansa politis untuk mempersatukan umat Islam karena terjadi dan melibatkan ruang Masjid Gedhe Kauman yang bernilai politis.

Sementara itu peristiwa kedua menerapkan strategi bernuansa keilmuan. Karena direncanakan akan diselenggarakan di Masjid Syuhada yang sarat dengan nilai perjuangan dan keilmuan. Sampai di sini kita sebagai umat Islam seharusnya melakukan refleksi, dengan apakah umat Islam dapat disatukan? Dengan strategi politis ataukah keilmuan?

Yang pertama sudah terbukti selalu menimbulkan pro dan kontra, sementara yang kedua jauh dari keriuhan. Hati terdalam saya condong pada pilihan kedua sembari terngiang titah pertama iqra’ yang mengawali lahirnya umat sekaligus peradaban Islam.

 

*) Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here