Perspektif

Merdeka Lahir dan Batin, Sudahkah Indonesia Mencapainya?

4 Mins read

Pada tanggal 17 Agustus 2020 mendatang, bangsa Indonesia kembali memperingati hari ulang tahun kemerdekaannya, tepatnya yang ke-75 tahun. Tentu saja kita tahu bahwa untuk mencapai kata merdeka tersebut, bangsa Indonesia membutuhkan proses perjuangan yang panjang serta pengorbanan jiwa dan raga dari para pahlawan bangsa. Lalu, apakah Indonesia sudah merdeka lahir dan batin?

Momentum Mengenang Jasa Pahlawan

Momen kebahagiaan seiring dengan bertambahnya usia bangsa ini, akan sekaligus menjadi hari untuk kembali mengenang semua jasa para pahlawan yang telah gugur untuk kemerdekaan.

Penulis ingin sedikit mengingat kembali jasa para pahlawan yang telah berjasa untuk bangsa ini. Bagaimana perjuangan dan kerja keras mereka dalam membebaskan negeri dari belenggu para penjajah.

Kita bisa saja membayangkan bagaimana jika para orang-orang tersebut tidak berhasil membuat bangsa ini merdeka. Tentu, warga Indonesia saat ini tidak akan mampu merasakan yang namanya kebebasan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Kita kembali melihat bagaimanakah historis dari lahirnya naskah proklamasi, yang akan menjadi tanda bahwa bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan. Tepatnya pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima, Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia.

Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momentum ini pun dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya.

Pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Sjahrir mendengarkan berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Saat itu, Soekarno dan Hatta selaku pimpinan PPKI ikut membersamai Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.

Baca Juga  Kemerdekaan Indonesia dan Permasalahan Umat Islamnya

Selanjutnya pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta, dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari.

Pada tanggal 14 Agustua 1945, Jepang secara resmi menyerah kepada sekutu di kapal USS Missouri. Tentara dan Angakatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu.

Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Pada tanggal 16 Agustus, PPKI hendak melaksanakan rapat tetapi gagal dikarenakan Soekarno dan Hatta tidak hadir.

Peristiwa Penting Menjelang Kemerdekaan

Pertama, peristiwa Rengasdengklok. Terdengarnya kabar bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu membuat beberapa golongan muda yaitu Sutan Sjahrir, Chaerul Saleh, Darwis, dan Wikana mendesak para golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

Namun tokoh utama golongan tua yaitu Soekarno dan Hatta tidak setuju akan hal tersebut. Mereka menganggap bahwa pengambilan keputusan secara mendadak dalam proklamasi kemerdekaan akan menyebabkan pertumpahan darah antara kekuasaan Jepang yang belum sepenuhnya diambil alih oleh Indonesia. Perdebatan inilah yang menyebabkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok.

Kedua, perumusan teks proklamasi kemerdekaan. Mungkin pada bagian inilah yang menjadi tonggak penting sejarah kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya peristiwa Rengasdengklok, akhirnya Soekarno dan Hatta tergugah untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Dengan mengadakan rapat perumusan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda pada tanggal 16 Agustus 1945 lengkap dihadiri oleh beberapa anggota para golongan muda. Setelah rapat yang diselenggarakan oleh Soekarno, Moh Hatta, dan Ahmad Soebardjo, tersusunlah sebuah naskah teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno.

Baca Juga  Kado Kemerdekaan Wujudkan Keadilan Sosial

Dengan telah disetujuinya naskah proklamasi oleh para anggota golongan tua dan muda, dan mengalami beberapa perubahan. Akhirnya Soekarno dan Hattamenandatangani teks tersebut dengan disaksikan oleh semua pihak yang menjadi saksi.

Ketiga, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia ditandai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Dihadiri oleh para tokoh pergerakan kemerdekaan dan rakyat Indonesia yang ingin menyaksikan buah hasil dari perjuangan para pahlawan dan tokoh penting demi kemerdekaan Indonesia.

Merdeka Lahir dan Batin?

Menurut Hajriyanto Y. Thohari di dalam buku Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia, beliau mengatakan seperti ini: “Aku kader Muhammadiyah, aku kader umat, aku kader bangsa. Aku sangat mencintai bangsa dan negara ini. Aku seringkali termenung memikirkan nasib bangsa dan negara ini. Tak jarang dalam kesendirian itu aku menangis, tanpa kusadari air mata ini meleleh, entah sedih, resah, ataupun gelisah. Yang pasti aku tidak, atau tepatnya belum, bahagia.”

Mengutip kembali sebuah penuturan sedih yang disuarakan oleh seorang tokoh perempuan yang sangat senior yang selama ini berjuang di luar pemerintah, Ibu Herawati Diah. Beliau adalah istri almarhum Burhanuddin Muhammad Diah, yang dikenal dekat dengan sebutan BM Diah, pemilik surat kabar tua, kalau bukan yang tertua di Indonesia.

Pada Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Ibu Herawati hadir di sana. Setelah enam dasawarsa merdeka, beliau menyaksikan bahwa keadaan sebagaian besar rakyat Indonesia masih sama saja: menderita! Pengangguran dan kemiskinan merajalela di mana-mana.

Pendidikan dan kesehatan semakin mahal dan tak terjangkau. Bahkan, soal air bersih pun masih banyak yang belum terpecahkan sampai saat ini. Rasanya masih banyak rakyat yang nasibnya belum banyak berubah dari masa kolonial Belanda dulu.

Baca Juga  Penolakan Jenazah Covid: Kekecewaan Pahlawan Tanah Air

“Saya sedih sekarang. Ketika proklamasi diumumkan tahun 1945, saya hadir. Sekarang, setelah 60 tahun lebih merdeka, keadaan masih sama saja. Rakyat masih menderita”, demikian penuturan Ibu Herawati dalam pidatonya pada peringatan ulang tahunnya yang ke-90.

Perhatian Kita Bersama

Kini Indonesia telah berumur 75 tahun, usia 75 tahun tentu bukanlah usia yang bisa dikatakan relatif muda lagi. Sehingga menjadi sebuah harapan besar bagi kita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju dan sejahtera.

Tetapi faktanya, cita-cita nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaaan UUD 1945 masih jauh dari gapaian. Kita patut bangga dengan apa yang telah kita gapai, tetapi harus diakui. Maka, secara umum kita masih jauh dari kemajuan dan kejayaan yang kita cita-citakan.

Beberapa problem di atas perlu menjadi perhatian kita bersama, saya merasa persoalan kemiskinan, pengangguran dan lain-lain merupakan persoalan yang seringkali terlupakan. Dan inilah yang saya rasa mengapa bangsa Indonesia belum bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka secara lahir dan batin.

Melalui momentum hari kemerdekaan nanti, selain sebagai momen kebahagian. Tetapi juga sekaligus menjadi momen untuk kita berinstropeksi diri dari berbagai permasalahan yang ada. Sehinngga angan terciptanya Indonesia yang merdeka secara lahir dan batin bisa kita gapai bersama. Sekali lagi, dirgahayu 75 tahun Republik Indonesia, merdeka!

Editor: Rifqy N.A./Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
31 posts

About author
Muhammad Saleh Kader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran Cabang Sukoharjo Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta PD IPM SUMBAWA
Articles
Related posts
Perspektif

Memimpin adalah Mengelola Perubahan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Frasa ini acap kali penulis sampaikan ketika menyampaikan sambutan atau amanat yang mengiringi upacara pelantikan pimpinan atau…
Perspektif

Piala Dunia Qatar: Ajang Syiar Islam Moderat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagelaran akbar sepakbola empat tahunan Piala Dunia (World Cup) tahun 2022 untuk pertama kalinya diadakan di negara…
Perspektif

Mencoba Memahami Konsep Habitus, Kapital, dan Arena Pierre Bourdieu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pierre Bourdieu lahir di kota kecil pedesaan di Perancis tenggara pada 1930, Bourdieu tumbuh di rumah tangga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *