Moderasi Beragama: Bukan Ekstrem Kanan dan Kiri - IBTimes.ID
Humaniora

Moderasi Beragama: Bukan Ekstrem Kanan dan Kiri

3 Mins read

Anugrah besar yang dimiliki Indonesia sebagai potensi luar biasa yang harus kita syukuri. Cara mensyukurinya yakni dengan menjaga dan merawatnya jangan sampai terceraiberai oleh paham ekstremisme dan radikalisme. Yang mana, hal itu berkembang dengan cara menyusup melalui arus globalisasi dan keterbukaan informasi.

Tantangan Umat Islam

Islam dan umat Islam saat ini paling tidak menghadapi dua tantangan; pertama, kecenderungan sebagian kalangan umat Islam untuk bersikap ekstrem dan ketat dalam memahami teks-teks keagamaan dan mencoba memaksakan cara tersebut di tengah masyarakat muslim, bahkan dalam beberapa hal menggunakan kekerasan.

Kedua, kecenderungan lain yang juga ekstrem dengan bersikap longgar dalam beragama dan tunduk pada perilaku serta pemikiran negatif yang berasal dari budaya dan peradaban lain.

Untuk itu, moderasi menawarkan solusi sebagai pilihan jalan tengah untuk menangkal paham yang tidak sesui dengan identitas bangsa. Dalam konteks agama, moderasi dipahami oleh penganut dan pemeluk Islam dikenal dengan istilah Islam wasatiyah atau Islam moderat yaitu Islam jalan tengah yang jauh dari kekerasan, cinta kedamian, toleran, menjaga nilai luruh yang baik, menerima setiap perubahan, dan pembaharuan demi kemaslahatan.

Oleh karena itu, pemahaman tentang moderasi beragama harus dipahami secara kontekstual bukan secara tekstual. Artinya bahwa, moderasi dalam beragama di Indonesia bukan Indonesia yang dimoderatkan, tetapi cara pemahaman dalam beragama yang harus moderat karena Indonesia memiliki banyaknya kultur, budaya, dan adat-istiadat.

Dengan perkembangan dunia dalam keterbukaan informasi memiliki pengaruh terhadap pola berpikir dan informasi yang diterima yang semakin liar jika tidak ada filter. Maka, akan menghilangkan identitas pengenal dan jati diri individu dalam hubungan interaksi sosial antar bangsa.

Moderasi Beragama Sebagai Diskursus

Islam sebagai sistem agama yang dianut mayoritas oleh masyarakat Indonesia, memiliki dua pijakan ajaran yaitu tekstual yang bersumber dari Al-Qur’an sebagai kalamullah dan hadis sebagai sunah Rasulullah, serta ajaran yang yang didasarkan kepada konteks sebagai hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia yang terpengaruhi oleh kondisi geografis, sosial, dan budaya. Sehingga, memiliki kearifan dan tradisi yang berbeda menjadi corak praktik ajaran ajaran agama yang khas.

Baca Juga  Moderasi Beragama Al-Azhar

Wasathiyah atau moderasi saat ini telah menjadi diskursus dan wacana keislaman yang diyakini mampu membawa umat Islam lebih unggul dan lebih adil serta lebih relevan dalam berinteraksi dengan peradaban modern di era globalisasi dan revolusi industri, informasi, dan komunikasi.

Hal ini dapat dilihat dan dirasakan oleh umat Islam yang mampu memahami dan menjiwai Islam sesuai dengan orisinalitas nash-nya dan sesuai dengan konsep dan pola hidup Nabi Muhammad saw, sahabat, dan para salafushalih.

Konsep pemikiran moderasi Islam atau wasathiyatul Islam menjadi menarik dan menjadi impian semua entitas, gerakan dakwah Islam bahkan negara-negara Islam, setelah dunia Islam dirisaukan dengan munculnya dua arus pemikiran dan gerakan yang mengatasnamakan Islam.

Model Gerakan Islam

Pemikiran dan gerakan pertama, mengusung model pemikiran dan gerakan yang kaku dan keras, atau sering disebut dengan Al-Khawarij al-Judud (New Khawarij).

Kelompok ini melihat bahwa Islam adalah agama nash dan konstan, tidak menerima perubahan dan hal-hal baru dalam ajaran-ajarannya khususnya dalam akidah, ibadah, hukum, dan muamalat, sehingga perlu membersihkan anasir-anasir syirik dan bid’ah dari akidah, ibadah, hokum, dan muamalat umat.

Sementara, arus pemikiran dan gerakan kedua yang juga mengatasnamakan Islam adalah pemikiran dan gerakan liberasi Islam, atau sering disebut dengan Muktazilah Al-Judud (New Muktazilah), yang mengusung narasi dan pemikiran rasionalis dan kebebasan penuh terhadap Islam.

Bila arus pemikiran pertama kaku, keras, dan tidak mudah menerima hal-hal baru dalam agama, maka arus pemikiran atau arah pemikiran kedua berpendapat sebaliknya. Mereka menerima semua perubahan, membolehkan semua hal-hal baru ke dalam Islam termasuk pemikiran, budaya, dan kehidupan Barat.

Para ulama Islam modern, menyadari kondisi benturan dua arus pemikiran yang saling bertentangan ini. Antara arus pemikiran ekstrem kanan (tafrith) dan ekstrem kiri (ifrath), sangat berbahaya bagi peradaban Islam dan kehidupan umatnya dalam persaingan peradaban dunia.

Baca Juga  Islamic Deep Ecology: Mazhab Ekologi Moderat

Sedangkan, konsep moderasi di Indonesia dapat merujuk kepada para pendakwah Islam wali songo, sunan, syeikh, sayid, habaib, kiyai yang arif, bijaksana, ajur, berbaur menyatu dengan masyarakat dengan pendekatan budaya menanamkan ajaran Islam yang jauh dari kekerasan, menciptakan kedamaian yang diadopsi oleh para pendiri bangsa sebagai cikal bakal ideologi pancasila.

Sayangnya, sebagian kelompok dengan keyakinannya merusak kemesraan dalam keragamaan yang sudah terjalin mengatasnamakan agama Islam dengan kekerasan, kezaliman, tidak menghargai perbedaan. Sehingga, seperti tidak ada lagi nilai kemanusian menyebabkan phobia terhadap Islam.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Sekbid RPK Pimpinan Cabang IMM Sukabumi Raya
Articles
Related posts
Humaniora

Islam: Melebur dalam Seni dan Budaya Indonesia

4 Mins read
Islam Budaya | Indonesia dengan puluhan ribu pulau dari Sabang sampai Merauke memiliki beragam budaya dan adat istiadat. Keragaman budaya itu menghasilkan…
Humaniora

Empat Penyebab Intoleransi kepada Minoritas

3 Mins read
Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia sering kali dilanda oleh berbagai macam fenomena keagamaan, terutama pada umat Muslim. Intoleransi dan diskriminasi golongan tertentu…
Humaniora

Potret Pembelajaran Islam di Rusia

1 Mins read
Dilansir dari World Population Review, jumlah pemeluk agama Islam di muka bumi ini pada tahun 2020 yakni sebanyak 1,91 miliar orang. Dengan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.