Oleh: David Efendi*

Wajahnya terus gembira dan selalu antusias menolong kesulitan orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya ketua Umum PP Muhammadiyah yang selalu didekatnya dan mendapatkan ‘berkah’ dari kekuatan energik anak muda kelahiran Bali ini. Itulah seorang penjaga website sekaligus penjaga ‘ritme’ acara yang tak pernah putus-putus di Muhammadiyah. Tak ada libur kegiatan, tak ada libur menuliskan laporan dalam berita media.

Itu diniatkan semacam mencoba lead feature dalam tulisan ini, semoga gambaran saya tentang Dzar Al Bana, anak muda belia yang menikmati sebagai juru tolong dan juru selamat banyak orang.

Ada jutaan orang tentu saja yang menerima manfaat dari kiprahnya sebagai jurnalis, sebagai operator acara, sebagai supervisor, sebagai teman makan, sebagai moderator dan fasilitator. Lead di atas tidak dimaksudkan lebay tetapi saya harus menuliskan kisah ini dalam esai bukannya feature yang merupakan tanggung jawab saya memberikan materi kepada admin dan jurnalis di lingkungan Muhammadiyah pekan lalu.

Sebagai pegiat literasi, saya paling banyak memberi materi dan sharing idea di dunia penulisan artikel, berita non feature, penulisan jurnal, resensi, biografi, dan seterusnya tetapi jarang sekali memang mendiskusikan feature sebagai produk pengetahuan dan karya jurnalistme insani yang penting.

Agak termarginalkan keberadaan feature—bisa dibuktikan kanal-kanal media di Muhammadiyah nyaris tak ada nafas features. Serba formal dan acara subtantif nan super serius. Makanya, Muhamamdiyah garis lucu kurang tumbuh berkembang di Indonesia atau bia mengalami stunting akibat keseriusan akut manusia Muhammadiyah.

Dimensi emosi dan empati yang dijanjikan oleh feature akhirnya tidak banyak menjadi berkah bagi hasanah literasi dan gizi tulisan di media media Muhammadiyah.

Syukurlah website Muhammadiyah mengundang saya untuk belajar Bersama di Kaliurang (50 KM dari kampus dimana saya mengajar dan harus berlari dengan motor) menyongsong acara penting besutan Dzar Al Bana itu. Mendung dan dingin dibelah untuk menghampiri kegiatan yang menjanjikan masa depan features.

Muhammadiyah Features

Jika ada Muhamamdiyah studies, maka perlu jugalah ada Muhamamdiyah features sebagai sebuah trend kepenulisan, sebuah madzab insani di dalam menyelenggarakan tugas karya jurnalistik. Saya beruntung diskusi materi ini ditemani mbak Ninik, wartawan senior Kedaulatan rakyat yang juga penulis biografi Dien Syamsuddin, mantan ketum PP Muhammadiyah.

Ya, pastilah saya gembira ditemani bermain kata-kata dengan peserta. Apalagi mayoritas partisipan workshop sangat antusias. Banyak ujicoba memecahkan misteri kata pertama, atau lead pemula sebuah laporan berita feature. Peserta antusias secara sukarela membaca masing-masing miliknya, lalu dikomentari teman-teman lainnya. Semua berasa ingin belajar dan berhasrat bisa: will to know, will to try, will to do, will to act… Sangat menyenangkan memang.

Saya mohon izin sharing sok tahu saya. Bahwa feature kurang lebih dipahami sebagai bentuk Karangan nonfiksi alias factual. Tidak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup, sebagai pengungkapan daya kreatif.

Kelebihan tulisan ini adalah sentuhan subjektif (penulis) terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat menusiawi (human interest) untuk mencapai tujuan memberi informasi, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca. Tulisan yang ingin membagikan suasana batin penulis kepada pembaca.

Lebih terang begini, jika penulisan berita (harus taat asas pada aturan 5W + 1H dalam teras berita atau lead), penulisan feature tidak demikian. Penulis feature dapat bertindak bebas, dapat menulis seperti menulis cerita, yang terpenting feature yang ditulis menarik perhatian dan memberikan sesuatu (nilai lebih) pada pembaca.

Penulis feature merupakan penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi dan kreativitasnya untuk membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, untuk mencengangkan, untuk menjawab keragu-raguan, atau untuk membuat pembaca haru, tertawa, bahkan menangis.

Bagaimana mulai menuliskan feature? Saya buat beberapa contoh di dalam materi ini sebuah lead yang saya ambilkan dari beberapa sumber acak. Begini contoh nyata beberapa leads:

“Seorang lelaki tua berpakaian gamis dan mengenakan sarung. Sorban pelikat di kepalanya. Lelaki itu hendak melantik keempat santrinya yang sudah bersiap-siap mengemban tugas peradaban. Haji Syuja’, Haji Fachrodin, Haji Hisyam, dan Haji Mochtar. Mereka adalah santri sekaligus kawan seperjuangan lelaki kurus yang selalu mengenakan sorban pelikat itu. Lelaki itu tak lain ialah KH Ahmad Dahlan, khatib amin masjid gedhe Kauman, Yogyakarta.”

“Merapi kalau mau membuat jalan akan jalan sendiri. Tidak perlu ditutupi dam. Itu harus dibongkar,” tandas Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi…”

“Naufal Rasyid ditemukan terkapar di tepi jalan. Masih dengan sapu dan seragamnya. Di bawah jalan laying pasar Rebo. Tak sadarkan diri. Pukul 05.30 pagi dia ditemukan oleh kawan kerjanya….” (ini kalimat Anies Baswedan menggambarkan peristiwa tabrak lari petugas penyapu jalan Jakarta. Tulisan yang pas untuk lead sebuah peristiwa menyedihkan).

Leads pertama di atas sangat pas disebut sebagai genre Muhammadiyah feature yang mengkisahkan Kiai Dahlan yang saya ambilkan dari esainya kang Muarif (sejarawan yang aktifis dan jurnalis pula).

Ada banyak kisah hebat manusia Muhammadiyah, pegiat dan relawan Muhammadiyah serta Lembaga-lembaga yang mencipta peristiwa saban hari dengan segenap tenaga dan daya dobraknya. Ada jutaan peristiwa yang diproduksi dari Rumah Muhammadiyah yang bersinggungan dengan Rumah bangsa yang dapat diproduksi dalam bentuk feature yang mendidik, knowledgeable, ramah, inspiring and provoking, dan sebagainya.

Intinya ada potensi besar kita mampu memproduksi pengetahuan melalui kisah kisah humanis dalam feature. Tema pembangunan, filantropi, kedermawanan, ketokohan, keuletan warga, pencapaian, dan kemenangan kecil yang jutaan jumlahnya.

Sementara ini tulisan esai pendek, semoga menjadi motivasi kita semua untuk memulai kanal baru memproduksi Muhammadiyah feature—nuansa tulisan yang manusiawi, mengandung serat serat sehat kemanusiaan, solidaritas sosial, dan ideologis. Tentu, butuh dukungan kanal-kanal yang beragam untuk memuliakan niat baik ini. Khususnya, niat baik Dzar Al Bana dan website Muhammadiyah.or.id.

Sudah hampir Sembilan ratus kata. Saya cukupkan. Selamat mencoba, mulailah dengan keyakinan bahwa tulisan ini berguna untuk menebarkan kegembiraan dan inspirasi yang bertenaga untuk zaman. Saatnya kita turun tangan!

*Pekerja Literasi

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda