Muslim Progresif: Keadilan, Kesetaraan, dan Keragaman

 Muslim Progresif: Keadilan, Kesetaraan, dan Keragaman

Gambar: ResearchGate

Terkait peristiwa-peristiwa yang seringkali menyudutkan Islam seperti tragedi 11 September 2001 ataupun bom-bom yang tentu saja diatasnamakan Islam. Maka, muncullah wacana Islam progresif yang merupakan pembanding dari Islam militant. Dalam buku Progressive Muslim: On Justice, Gender and Pluralism, Omid Safi menawarkan konsep “muslim progresif”.

Muslim Progresif

Muslim progresif atau Islam progresif yang diusung oleh Omid Safi tentu saja bukan lagi sesuatu yang baru. Karena sebelum itu ada “Islam berkemajuan” seperti yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan atau lainnya. Secara sederhana, Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan.

Hal ini tentu berbeda dengan Islam militan dan ekstrimis yang tetap berusaha menghadirkan wacana penafsiran masa lalu serta menutup diri terhadap ide-ide baru yang berasal dari luar kelompoknya.

Dalam hal ini Omid Safi dalam Islam Progresif-nya menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pluralisme keagamaan. Islam progresif meyakini bahwa semua pembelaan itu mempunyai dasar dan tradisi yang kuat dalam Al-Quran dan hadis. Di dalam Al-Quran sendiri, banyak ditemukan ayat-ayat yang menjelaskan tentang pentingnya kepedulian sosial seperti yang tertera dalam surat al-Maun.

Dalam buku ini dikatakan bahwa pada akhirnya agama seperti Islam, Kristen, dan Yahudi ditentukan oleh apa yang muslim, umat Kristiani, dan Yahudi sebenarnya katakan dan lakukan. Tidak ada agama di luar penganut agama untuk lebih baik atau lebih buruk.

Tradisi keagamaan erat kaitannya dengan penganut agama itu sendiri bagaimana mengajarkan, melakukan ataupun mereformasi sebuah tradisi keagamaan. Hal itu berarti mereformasi penganut agama itu sendiri.

Artinya bahwa tujuan dari buku Safi adalah untuk mengekspos beberapa masalah terkait apa yang muslim katakan dan lakukan dan kemudian menjelaskan bagaimana ajaran dan tindakan dapat ditingkatkan atas nama keadilan dan pluralisme.

Keadilan, Kesetaraan, dan Pluralisme

Dalam buku Progressive Muslim: On Justice, Gender and Pluralism dikatakan bahwa:

“As Muslims, we owe it to ourselves to come to terms with the problems inside our own communities. All societies have their beautiful and noble citizens, along with their share of hateful and extremist ones. Muslims are human, not one ounce less and not one ounce more than any other people. We too have our saints and sinners, our fanatical zealots and compassionate exemplars. At this stage of history our primary responsibility is to come to terms with the oppressive tyrants and fanatics inside our own communities, our own families, and our own hearts. Hiding behind the simple assertion that “Islam is a religion of peace” does not solve our problems.”

Hal ini bisa dikatakan bahwa sebagai muslim, patut bagi kita untuk berdamai dengan masalah dalam masyarakat kita sendiri. Semua masyarakat memiliki warga negara yang indah dan mulia mereka, bersama dengan sebagian dari mereka yang penuh kebencian dan ekstrimis.

Sama halnya dengan manusia, yakni ada yang baik ataupun yang tidak baik, fanatik ataupun teladan welas asih. Buku yang ditelurkan oleh Omid Safi ini tidak hanya berupa artikel yang secara eksplisit berurusan dengan pertanyaan tentang bagaimana muslim progresif, tetapi juga berurusan dengan Al-Quran atau hadis.

Selain itu, buku ini juga menawarkan adanya dialog muslim atas keadilan, kesetaraan, dan pluralisme. Akan tetapi, dalam teks Al-Quran dan hadis, Safi tidak memberikan sistematika secara khusus terkait pendekatan terhadap Al-Quran dan hadis. Karena Al-Quran sendiri datang secara langsung dari Tuhan dan sulit untuk menginterpretasikannya.

Terepas dari berbagai kekurangan, buku ini telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap pemahaman Islam. Menjadi muslim yang progresif dan menentang keras terhadap adanya ide bahwa Islam tidak lagi sesuai dengan modernitas. Karena menurut Safi, Islam progresif memilki nilai-nilai yang sesuai dengan kemanusiaan seperti keadilan, gender, dan pluralisme.

Editor: Nirwansyah/Nabhan

Lutfiyah Alindah

Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.