Pemikiran Ir. Soekarno tentang Konsep Islam Kebangsaan - IBTimes.ID
Inspiring

Pemikiran Ir. Soekarno tentang Konsep Islam Kebangsaan

3 Mins read

Presiden Soekarno merupakan sosok guru bangsa sekaligus sebagai pendiri serta presiden pertama Republik Indonesia tercinta. Sekian lama beliau wafat, pemikiran-pemikiran beliau berkaitan dengan nasionalisme, politik, maupun agama, masih tetap bergaung dari generasi ke generasi, menunjukkan bahwa beliau adalah cendekiawan yang memiliki visi jauh ke depan.

Tulisan ini akan mengulas sedikit tentang pemikiran beliau berkaitan dengan konsep Islam kebangsaan. Dengan tujuan bahwa, konsep yang telah dimunculkan beliau sudah diejawantahkan dalam pendirian bangsa kita yang memang memiliki karakter unik tersendiri. Serta mampu mengakomodasi segala perbedaan dalam berbagai aspek. Seperti ras, suku, tradisi, agama , maupun budaya. Terbukti, 75 tahun kemerdekaan Indonesia, konsep kebangsaan inilah yang bisa mempertahankan eksistensi negara kita di mata dunia sebagai negara yang cinta damai.

Sebagai Negara dengan mayoritas muslim, Indonesia memiliki caranya sendiri dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini tentu sudah diajarkan oleh para pendiri bangsa terhadulu, salah satunya adalah Ir. Soekarno.

Menggaungkan Kembali Pemikiran Soekarno

Mengulas pemikiran-pemikiran beliau, tentu didasari oleh banyaknya fenomena menjamurnya paham yang datang dari gagasan Islam Transnasional. Dengan gerakan senyap maupun terbuka,  telah meracuni generasi bangsa di ruang-ruang akademik agar menolak NKRI.

Indikasi ini makin meresahkan sebab mereka mulai bergerak ke permukaan, yang jika dibiarkan, akan membahayakan kesatuan NKRI di masa depan. Harapan penulis tentunya adalah menggaungkan kembali pemikiran Ir. Soekarno agar kita diingatkan lagi bagaimana tujuan berbangsa dan bernegara

Terutama bagi umat Islam sebagai umat mayoritas pemeluk agama di Indonesia juga memahamkan betapa pentingnya harmoni, toleransi, juga bagaimana bermoderasi dalam beragama.

Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pemikiran Soekarno

Dalam mencetuskan ide–idenya yang brilian dan jauh ke depan, tentu ada guru-guru dan tokoh yang mempengaruhi dan mengajari beliau dalam berpikir, antara lain:

Baca Juga  Pemerataan Pendapatan: Konsep Keadilan Ekonomi Islam ala Choudhury

Keluarga. Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat demokratis. Yakni ayahnya Raden Soekemi adalah seseorang yang beragama Islam. Sedangkan ibunya, seorang hindu Bali. Kedua orangtua yang berbeda dalam menganut keyakinan inilah yang mengajarkan Soekarno tentang bagaimana hidup dalam perbedaan.

Latar Belakang Pendidikan. Soekarno tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren maupun madrasah. Beliau hanya mengenyam pendidikan dari Hindia Belanda. Salah satunya adalah  Eruropeeshcee  Lagere School (ELS) di Mojokerto. Beliau juga mengikuti kursus bahasa asing yaitu di Byernette  de La Roche Brune.

KH. Ahmad Dahlan. Beliau merupakan Tokoh Islam pertama yang mempengaruhi pemikiran Soekarno. KH. Ahmad Dahlan merupakan pendiri organisasi masyarakat “Muhammadiyah”. Perjumpaan beliau dengan Soekarno terjadi sekitar tahun 1916 di Surabaya di kediaman HOS Cokroaminoto.

HOS Cokroaminoto. Beliau merupakan ketua organisasi SDI (Sarikat Dagang Islam). Beliau sangat mempengaruhi cara berpikir Soekarno. Di kediaman beliau, Soekarno indekos dengan beberapa pemuda. Saat itu, Soekarno disekolahkan di Hogere Burger School (HBS) yaitu sebuah sekolah menengah tertinggi Hindia, Belanda di Jawa.

Pemikiran Soekarno tentang Islam Kebangsaan

Adapun tiga pemikiran beliau tentang Islam kebangsan antara lain :

  • Tentang hubbul wathon minal iman. Dalam konteks nasionalisme, Soekarno menegaskan bahwa dirinya adalah seorang nasionalisme tulen. Dalam tulisannya di Surat Kabar Pemandangan  yang terbit di Bengkulu pada 14 Juni 1941, Soekarno menulis:

“Padahal, Islam tidak bertentangan dengan nasionalisme yang luhur. Islam hanyalah bertentangan dengan nasionalisme yang sempit yaitu nasionalisme yang membuat satu bangsa membenci bangsa lain. Islam hanyalah bertentangan dengan nasionalisme manakala nasionalisme itu bersifat kauvinisme atau provinsialisme yang memecah. Ashabiyah yang dikutuk oleh Allah itu bukanlah nasionalisme yang longgar dan luhur, tetapi kauvinisme yang dan provisialisme yang yang sempit budi.

  • Tentang Kebangkitan Islam. Soekarno tidak pernah secara khusus mengenyam pendidikan Islam di pesantren maupun madrasah. Namun, beliau turut aktif menyuarakan kepeduliannya terhadap Islam agar tidak menjadi agama “sampah” dan tidak sepaham dengan pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Menurut Soekarno, Islam adalah agama yang rasional yang bersandar pada kemerdekaan akal yang berbeda setinggi langit dengan agama-agama lain. Dalam hal ini, Soekarno juga membangun suatu visi Islam yang bersandar pada “elastisitas” dan pemikiran yang merdeka.
  • Modernism Islam. Mengapa generasi muda jarang yang tertarik dengan Islam dengan berbagai khazanah keilmuannya? Menurut Soekrno, hal tersebut terjadi jika umat Islam menyajikan Islam secara jumud dan sempit. Soekarno sendiri menggelorakan semangat “perang-nya” dengan kejumudan dalam beragama (Islam) melalui suratnya yang beliau tulis pada 22 Februaru 1936:
Baca Juga  Buya Hamka: Difitnah Secara Keji, Dipenjara Tanpa Diadili

“…Adalah suatu perjuangan yang berfaedah bagi umat Islam, yakni perjuangan melawan kekolotan itu barulah ia bisa berlari secepat kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya ke muka itu. Perjuangan inilah yang Kemal Attarturk maksudkan, tatkala ia berkata bahwa Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari dalam masjid memutarkan tasbih, tetapi Islam adalah perjuangan/Islam is progress. Islam itu kemajuan.

***

Pernyataan Soekarno di atas jelas mengindikasikan bahwa dia juga penganjur juga pengkhotbah modernisasi Islam agar umat Islam tidak terjerumus dalam lumpur kekolotan yang justru akan menyimbolkan Islam sebagai agama kaum ortodoks yang tidak mengetahui perkembangan dan perubahan zaman.

Tiga pemikiran mendasar Soekarno tentang Islam kebangsaan setidaknya dapat kita ambil manfaatnya terutama agar bisa kita terapkan sebagai warga negara serta bangsa Indonesia antara lain  adalah; pertama, memahami nasionalisme Islam di Indonesia, dapat menghargai perbedaan, dan selalu berpusat pada bagaimana hidup damai .

Kedua, memberikan kita semangat untuk bangkit sebagai umat yang memiliki pemikiran maju dan bervisi pada asas, maslahat bagi bangsa, dan berloma-lomba dalam memajukan bangsa dan Negara Indonesia melalui peran masing – masing.

Dan yang terakhir, adalah memahamkan kembali konsep modernisme Islam adalah konsep beragama Islam yang selaras dengan perkembangan zaman dengan tanpa melupakan sejarahnya di masa lalu sebagai pelajaran dan cerminan dalam menjalani masa depan.

Editor: Yahya FR
Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI
5 posts
Related posts
Inspiring

Lukman Harun (2): Memotret Dunia Islam

4 Mins read
Salah satu buku karya Lukman Harun ialah Potret Dunia Islam (1985). Buku tersebut merangkum catatan perjalanan beliau mengunjungi berbagai negara di lima…
Inspiring

Buya Hamka: Difitnah Secara Keji, Dipenjara Tanpa Diadili

4 Mins read
Buya Hamka atau Dr. Abdul Malik Karim Amrullah adalah salah satu Ulama besar Minangkabau yang dikenal sebagai seorang pendidik, orator, dan penulis….
Inspiring

Abd Al-Jabbar: dari Asy'ariyyah menuju Mu'tazilah

2 Mins read
Al-Jabbar memiliki nama lengkap Abd al-Jabbar ibn Ahmad al-Hamdani ibn Khalil ibn Abdillah al-Hamdzani al-Asadabi. Dalam berbagai sumber, Namanya dikenal sebagai Imad…

Tinggalkan Balasan