Pendidikan: Ruang Aktualisasi Ideologi - IBTimes.ID
Perspektif

Pendidikan: Ruang Aktualisasi Ideologi

4 Mins read

Pendidikan tidak pernah netral, malahan ia adalah ruang kontestasi ideologi. Bagi ideologi mekanisasi, pendidikan sekedar alat untuk menciptakan tenaga ahli siap kerja pengisi sektor industri. Akibatnya, manusia dibentuk menjadi objek yang patuh kepada instruksi-instruksi.

Ideologi pendidikan ini menanamkan kepercayaan bahwa selama kamu bekerja keras, kamu tidak perlu khawatir untuk gagal. Terlepas dari hanya para pemodal yang betul-betul memenangkan kompetisi.

Ideologi Humanis

Sebaliknya menurut ideologi humanis, manusia adalah mahkluk yang unik yang memiliki kemampuan untuk memberi makna. Nah, konsekuensi dari bermakna adalah berani berbeda. Manusia humanis dikenal ‘bising’ karena terbuka untuk menyatakan ketidakadilan sekali mereka melihatnya.

Esai ini akan mendiskusikan kedua konsepsi pendidikan tinggi sembari menawarkan satu sisi sebagai ruang untuk manusia mengaktualisasikan diri dan melawan alienasi manusia dari eksistensinya yang sejati.

Pendidikan Tinggi dan Ideologi Mekanisasi

Ideologi mekanisasi adalah konsekuensi logis dari kapitalisme. Kapitalisme sendiri adalah sistem ekonomi yang mendorong perluasan kapital dan pengerdilan intervensi negara atas pasar (Harvey, 2007). Kapitalisme mengizinkan eksploitasi sebesar-besarnya selama profit dapat terus meningkat. Negara tidak boleh membatasi, sebab ketika negara membatasi, maka negara telah membatasi kebebasan manusia pula. Orang boleh berbisnis, menggaji rendah karyawannya dan tidak begitu peduli dengan pengolahan limbah hasil produksi. Hal semacam itu diizinkan dalam dunia kapitalis. Toh, kesejahteraan pegawai dan menangani polusi hanya akan mengurangi keuntungan.

Kapitalisme selalu mencari keuntungan. Nah, ideologi mekanisasi berperan penting dengan menjustifikasi objektifikasi manusia. Manusia tidak beda dengan alat produksi. Bila ia rusak atau kalah produksi, ia segera diganti.

Karena tidak boleh dibatasi, kapitalisme sebagaimana kita pahami telah menyebabkan kesenjangan luar biasa. Banyak orang-orang yang tidak memiliki rumah, sementara di saat yang sama banyak rumah yang tidak ditinggali orang-orang. Obat diet dan obat penambah berat badan laris dibuat masif oleh industri besar farmasi dan laris di pasaran. Namun, vaksin untuk menangkal virus terlambat untuk dibuat karena kurangnya investasi.

Baca Juga  Cara Milenial Mengatasi Quarter Life Crisis Kala Pandemi

Pendidikan Semakin Mahal

Biaya kampus negeri semakin mahal, sementara orang miskin makin sulit menembusnya karena biaya-biaya bimbel yang makin mahal. Namun, betapapun kejamnya kapitalisme, ia tetap diterima oleh masyarakat.

Penerimaan itu utamanya terjadi melalui indoktrinasi dalam proses pendidikan (Davis & Bansel, 2007). Pendidikan adalah cara paling efektif karena ia memungkinkan miliaran orang dalam saat yang bersamaan untuk ‘dicuci otak’ melalui pengondisian sikap dan perilaku. Dalam pendidikan mekanis, nalar kritis peserta didik disuntik mati.

Siswa datang ke sekolah dengan seragam yang sama. Duduk sebaris dengan tegap dan mata memperhatikan seorang guru. Guru adalah sang maha tahu, murid adalah sang maha bodoh (Freire, 2007). Murid hanya mendengar, guru mengajar. Guru ingin apa, murid hanya mengangguk.

Demikian pula di universitas, ruang-ruang kelas dibuat besar. Enam puluh mahasiswa duduk berdempetan dengan meja yang hanya seluas satu binder terbuka. Mereka dipaksa mencatat apapun yang dosen tulis di papan atau ditampilkan di layar proyektor. Tidak ada alternatif, apa yang menurut dosen benar adalah benar, apa yang menurut dosen salah adalah salah. Terlepas dari fakta bahwa dosen terlalu sibuk dengan administrasi, mengejar projek sampingan dan tidak pernah belajar memperbaharui pengetahuannya.

Tapi toh nalar kritis tidaklah penting dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak pernah dijanjikan untuk lebih mampu berpikir. Mahasiswa hanya diimingi dengan selembar kertas bernama ijasah. Ijasah yang nanti digunakan untuk melamar kerja. Kerja yang seringkali tidak ada hubungannya sama sekali dengan jurusan kuliah-Lha terus buat apa kuliah?

Bukan main takut benar mahasiswa dengan huruf apa yang akan ditulis di ijasah. Untuk itu mahasiswa rela menggadaikan segalanya. Asalkan di ijasah berjejeran nilai A. Sampai disini kita patut bertanya. Apakah mahasiswa mendapat suatu pengetahuan atau hanya sekedar mendapat kertas dengan goresan tinta berbentuk huruf A?

Baca Juga  Jasa Universitas Islam Indonesia untuk Pendidikan Indonesia

Pendidikan mekanis pada akhirnya menciptakan alienasi. Manusia yang dapat berpikir, menciptakan makna dan berinteraksi dalam keintiman telah kehilangan hak untuk itu. Manusia hanya mesin atau teknisi yang membantu kerja-kerja produksi. Manusia hanya menerima dan menghafal makna-makna yang telah ditentukan. Manusia disibukkan dengan rutinitas, dengan targetan-targetan, hingga mereka lupa, “kapan terakhir kali dapat tertidur tenang..”

Pendidikan Tinggi dan Konstruksi Humanis

Manusia memiliki satu keunikan yang tidak terdapat pada hewan. Manusia eksis dan menyadari eksistensinya. Atas dasar itu, manusia mengarahkan pikiran dan tenaganya untuk memberi makna kepada eksistensi mereka. Entah seseorang memaknai kehidupan sebagai pencarian kesenangan material, pencapaian karya paripurna, peningkatan status sosial, atau penerimaan dari orang lain, semua manusia mencari dan memberi makna kepada eksistensi diri mereka (Maslow, 1997).

Tanpa pemaknaan, hidup manusia terasa hampa. Daya juangnya menghilang, semangatnya luluh. Bahkan ia mungkin mempertanyakan kenapa ia harus terus hidup. Manusia yang tanpa makna, tidak ubahnya dengan mesin-mesin yang bekerja di pabrik. Mesin-mesin itu bergerak namun tidak bekerja untuk suatu nilai. Bahkan mesin-mesin itu tidak memiliki nilai, bila bukan karena produk jadi yang diciptakannya. Sementara manusia, ia sudah bernilai oleh eksistensinya di dunia ini.

Demikian pula dalam proses belajar, manusia mengarahkan pengetahuan yang ia dapat untuk memaknai kehidupan. Setiap informasi baru yang ia pelajari sesungguhnya merupakan bekal baru untuk dia meredefinisi ulang kehidupan setiap harinya. Sulit membayangkan seseorang belajar 24 SKS satu semester dengan rela hati bila ia tidak menemukan bahwa ketika ia kelak lulus, ia dapat meraih cita-citanya.

Sulit pula membayangkan bila mahasiswa itu belajar bersama dengan dosen yang sekedar mengajar untuk menggugurkan kewajiban. Dosen yang miskin interaksi dan tidak peduli betul pada mahasiswanya. Ia hanya menilai mahasiswa dari absen-hadir, kumpul tugas dan kepatuhan mahasiswa untuk tidak mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang ia buat di kelas.

Baca Juga  Perjuangan Pendidikan dalam Melawan Korupsi
***

Belum lagi bila mahasiswa itu sudah terlatih bungkam dan menahan rasa, hanya berharap hari-hari di mana ia belajar dapat segera berlalu dan ia segera memakai toga. Sekalipun suatu saat ia wisuda, mahasiswa semacam itu sungguh memikul derita tiada tara. Empat tahun diam dalam suatu hubungan yang menyakitkan, siapa yang sanggup bila bukan mahasiswa?

Pendidikan seharusnya merupakan aktivitas yang bebas dan membebaskan (Freire, 2007). Dengan pemahaman seperti itulah pendidikan dapat menjadi ruang humanisasi di mana nilai-nilai kemanusiaan ditegakkan. Untuk itu mahasiswa perlu berdialog dengan penuh kehangatan dalam kelas, mendapat tugas-tugas yang signifikan bagi kehidupannya, dan betul-betul dipahami cita-cita dan minat pribadinya.

Seperti layaknya manusia, mahasiswa memerlukan waktu untuk memahami kelemahannya, mengkorelasikan ilmu yang dia dapat dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Seperti manusia juga, kebenaran bagi manusia tidak hanya didefinisikan oleh data dan fakta, yang segala itu mudah didapatkan di dunia maya. Manusia perlu mendengar cerita-cerita tentang manusia pula. Agar mereka semakin dekat dengan sisi kemanusiaan mereka. Ciptakan ruang-ruang kelas bagi manusia, bukan robot.

Pendidikan dapat menjadi ruang bagi mekanisasi manusia atau penciptaan manusia yang merdeka dan kreatif. Esai ini memperlihatkan bahwa ideologi mekanistik dalam pendidikan adalah konsekuensi dari kapitalisme dan ia mencerabut manusia dari jati dirinya. Sebaliknya, ideologi pendidikan humanis adalah ideologi pendidikan yang membebaskan yang memberi ruang bagi proses humanisasi manusia.

Editor: RF Wuland

Avatar
3 posts

About author
Dosen Fakultas Psikologi UMM dan Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Articles
Related posts
Perspektif

Saat Negara Robin Hood Bantu Media Semaput

2 Mins read
Alkisah di Australia, perusahaan-perusahaan media makin semaput. Banyak yang gulung tikar bahkan bangkrut. Bagaimana tidak, orang sudah enggan membaca koran, apatah lagi…
Perspektif

KH Abdullah Hasyim (2): Sosok Ulama Berkarakter Sederhana

4 Mins read
Setelah menyelesaikan sekolahnya di PHIN Yogyakarta pada tahun 1963, KH Abdullah Hasyim ditugaskan menjadi abdi negara (PNS) oleh pemerintah di Kantor Inpeksi…
Perspektif

KH Abdullah Hasyim (1): Alasan Masuk Muhammadiyah

3 Mins read
KH. Abdullah Hasyim dilahirkan pada 18 Februari 1943 di Kediri dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana, dari pasangan Kisman dan Siti…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa