Masa Pengobatan Kanker, Tak Lemahkan Semangat Sekolah - IBTimes.ID
Irfani

Masa Pengobatan Kanker, Tak Lemahkan Semangat Sekolah

2 Mins read

Pada dasarnya, pendidikan telah menjadi suatu kebutuhan bagi seseorang, terutama anak dalam bersaing dan mempersiapkan diri demi kehidupannya. Maka dari itu, pendidikan merupakan kebutuhan langsung yang didapat sepanjang hayat.

Pentingnya pendidikan untuk setiap orang juga akan berpengaruh pada kehidupannya, terkhusus pada remaja pejuang kanker. Pada sebagian besar remaja mengalami hambatan-hambatan dalam kehidupan mereka yang akan sangat mengganggu proses pembelajaran serta motivasi belajar remaja di ‘Sekolah-ku’. Apalagi yang dialami oleh remaja pejuang kanker. Ia tidak bisa sekolah dikarenakan masa pengobatan yang menghabiskan waktu cukup lama, di mana hal tersebut dapat menggangu hak pendidikan yang mereka dapatkan.

Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) yang memiliki program ‘Sekolah-ku’ memberikan kesempatan bagi anak-anak yang ingin tetap sekolah. Sehingga, bila mereka telah menyelesaikan pengobatan/perawatan dapat segera mengikuti pelajaran kembali di sekolah asalnya. Diharapkan dengan adanya peran ‘Sekolah-ku’, YKAKI dapat membantu pasien remaja pejuang kanker untuk dapat meningkatkan motivasi belajar serta dapat mengelola proses belajar dengan baik dalam masa pengobatan.

Terutama dalam era new normal saat ini, yang dikarenakan adanya penyebaran Virus COVID-19, tentunya menghambat proses pembelajaran siswa/siswi. Tidak hanya di sekolah-sekolah formal lainnya, di ‘Sekolah-ku’, YKAKI  juga sempat melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari proses pembelajaran daring sampai dengan luring. Namun, tetap mematuhi protokol kesehatan.

COVID-19, Kreativitas Mengajar Sangat Penting

Pandemi COVID-19 menuntut guru sebagai tenaga pendidik untuk semakin meningkatkan kreativitas mengajarnya, dalam memberikan pembelajaran daring dan luring terhadap siswa, agar pembelajaran tetap berlangsung. Saat ini, ‘Sekolah-ku’ YKAKI dalam masa new normal tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga pendidik untuk anak-anak pejuang kanker.

Baca Juga  Ironi Ide-Ide Inersia di Dunia Pendidikan

Sama seperti visi dan misi YKAKI yang mengatakan bahwa setiap anak itu berhak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk bermain, meskipun mereka dalam keadaan sakit maupun dalam masa pengobatan. Proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak-anak di ‘Sekolah-ku’ YKAKI dapat dikatakan berbeda dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah formal lainnya.

Menurut pengalaman saya selama mengajar kurang lebih 3 tahun bersama anak-anak YKAKI, terdapat beberapa perbedaan proses atau pun kegiatan pembelajaran dengan sekolah-sekolah formal. Sebagai contoh dari segi waktu. Anak-anak pejuang kanker tidak dapat kita forsir untuk melakukan jam pelajaran sesuai dengan jam pelajaran sekolah formal. Jadi, guru-guru YKAKI menyesuaikan dengan kondisi  anak ketika belajar, agar tidak berpengaruh terhadap kondisinya.

Persamaan proses belajar dengan siswa sekolah formal, mereka tetap mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai jenjang mereka dan juga sesuai kurikulumnya. Kurikulum disesuaikan dengan sekolah asalnya. Jadi, guru-guru YKAKI melanjutkan dan melakukan komunikasi dengan kepala sekolah dan juga wali kelas siswa di sekolah asal.

Pembelajaran ini tidak dapat berjalan sendiri, melainkan memerlukan kerjasama orang tua siswa maupun guru sekolah asal siswa. Meskipun dalam masa pengobatan, hal itu tidak menghambat semangat anak-anak untuk belajar, melakukan kreativitas mereka, dan juga mengembangkan hobi mereka. Karena selama belajar di YKAKI, guru-guru menggali potensi mereka. Sehingga, anak-anak di YKAKI benar-benar merasakan pendidikan dan juga hak mereka untuk bermain.

Perbedaan Sistem Pendidikan di ‘Sekolah-ku’ dengan Sekolah Biasa

Sistem evaluasinya dalam setting pendidikan, sistem penilaian yang diharapkan yaitu sistem penilaian yang fleksibel. Penilaian yang disesuaikan dengan kompetensi belajar anak. Penerapan sistem evaluasi di ‘Sekolah-ku’ tergantung kurikulum yang dipakai disekolah asal siswa. Itu sebabnya dalam setiap minggu, guru-guru melakukan evaluasi belajar siswa.

Baca Juga  Muhammadiyah dan NU: Saudara Seiman yang Kadang Bertengkar

Selain perbedaan waktu pembelajaran, perbedaan lain bisa berkaitan dengan soal ujian, artinya tingkat kesulitan terhadap soal-soal ujian. Sehingga, guru-guru juga menyesuaikan dengan kondisi dan kognitif  anak ketika menyusun soal ujian.

Selain itu, perbedaan dalam kriteria kelulusan juga, di mana YKAKI tidak memiliki wewenang terhadap kenaikan atau kelulusan siswa-siswi ‘Sekolah-ku’ YKAKI. Karena ‘Sekolah-ku’ YKAKI hanya sebagai fasilitator atau pun penyambung sekolah untuk anak-anak yang sedang dalam masa pengobatan agar mereka tidak tertinggal dalam pembelajarannya di sekolah asal.

Pada dasarnya, proses pendidikan yang diberikan ‘Sekolah-ku’ sama dengan pendidikan sekolah formal. Hanya saja, ada beberapa perbedaan yang terjadi dan sudah dibahas pada poin sebelumnya. Namun, untuk kegiatan-kegiatan belajarnya, kita kembangkan agar mereka juga semakin percaya diri terhadap potensi yang mereka miliki. Penyesuaian kurikulum siswa juga kita sesuaikan dengan kurikulum dari sekolah asalnya. Berikut cuplikan gambar kegiatan belajar siswa ‘sekolah-ku’.

Editor: Lely N

Ramanani Saragih, S.Pd
1 posts

About author
Staff Pengajar di YKAKI
Articles
Related posts
Irfani

UPOAK: Cerita tentang Buya Pegiat Masyarakat

7 Mins read
Grup Whatsapp KERINCI HILIR BERSATU, 14 juli 2020. Sebuah status tiba-tiba menghentak pikiran dan perasaanku. Status itu berupa sebuah foto dokumen kertas…
Irfani

Almanaar, Nuraini, dan Anjar Nugroho

7 Mins read
Kampus-1 UMY medio 1995. Sebuah tawaran datang dari Pak Dasron, Rektor UMY. Sebagai dosen baru, aku diminta menjadi pembina asrama mahasiswa UMY,…
Irfani

Salahkah Menuntut Ilmu di Sekolah Muhammadiyah?

3 Mins read
Sejak kecil, awal masuk sekolah di SD, aku sudah mengenal sekolah Muhammadiyah. Kebetulan waktu itu kedua kakak perempuanku menuntut ilmu di SMP…

Tinggalkan Balasan