Perempuan Islam Berkemajuan Itu Bernama Aisyiyah

 Perempuan Islam Berkemajuan Itu Bernama Aisyiyah
Logo Aisyiyah. Sumber: aisyiyah.or.id            

Wahai warga Aisyiyah sejati

Sadarlah akan kewajiban suci

Membina harkat kaum wanita

Menjadi tiang utama negara

Itulah lirik bait pertama dari Mars Aisyiyah, sebuah gerakan perempuan yang merupakan organisasi otonom dari Persyarikatan Muhammadiyah. Saya mendengar pertama kali lagu itu dalam bentuk new version yang dinyanyikan oleh band SMK Muhammadiyah Kepanjen Malang tahun 2015. Pertama kali mendengar lagu ini, saya langsung suka dengan lagunya yang enak dinyanyikan dan liriknya yang menggambarkan dengan baik gerakan ini.

Saya mengetahui Aisyiyah sejak usia 5 tahun, karena saya bersekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 9 Bandung.  Saya tahu bahwa Aisyiyah adalah organisasi perempuan Muhammadiyah, atau diibaratkan istrinya Muhammadiyah. Saat masih belajar di SD Muhammadiyah, dalam pelajaran Kemuhammadiyah diterangkan tentang sejarah Aisyiyah. Namun tetap saja saya tidak tahu banyak tentang Aisyiyah dibanding Muhammadiyah.

Saat mondok di pesantren, santri putri mendapatkan pelajaran Kemuhammadiyahan  dan Keaisyiyahan. Sementara santri putra hanya Kemuhammadiyahan saja. Itulah mengapa saya baru tahu lagu Mars Aisyiyah pada tahun 2015, tahun di mana saya lulus dari perguruan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana. Walaupun telat mengenal, namun perjalanan hidup membawa saya terlibat dalam gerakan yang luar biasa ini.

Bulan Februari tahun 2016 saya bergabung menjadi salah satu tenaga pendidik di Aisyiyah Boarding School Bandung. ABS Bandung adalah sebuah pesantren yang didirikan oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat terinspirasi dari Madrasah Muallimat Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta. Konon pada awalnya, pesantren khusus putri ini akan dinamai dengan Muallimat, sama dengan yang ada di Yogyakarta. Namun dengan pertimbangan branding, maka lembaga ini dinamai Aisyiyah Boarding School.

Bekerja selama 2 tahun 5 bulan di ABS Bandung membuat saya semakin kenal dengan Aisyiyah. Saya menemukan sosok ibu-ibu yang luar biasa. Mereka mempunyai semangat yang tinggi dalam membangun amal usaha. ABS Bandung diawali dengan membeli satu buah rumah dua tingkat yang menjadi asrama santriwati angkatan pertama. Adapun ruang kelas menempati asrama mahasiswi STIKes Aisyiyah Bandung.

Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya santriwati, rumah dua tingkat tidak mumpuni. PWA Jawa Barat kemudian membeli tanah di sebelah rumah itu dan membangun gedung tiga lantai. Asrama mahasiswi STIKes Aisyiyah Bandung kemudian dijadikan asrama dan kelas ABS Bandung. Gedung yang asalnya dua lantai, dipugar menjadi tiga lantai.

Tanah kosong yang memisahkan antara rumah dua tingkat dan asrama STIKes Aisyiyah Bandung dibeli juga. Di tanah itu dibangun mushola untuk tempat salat santriwati dan guru. Tak hanya itu, PW Aisyiyah Jabar mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas di daerah Bale Endah Kabupaten Bandung. Di sana direncanakan menjadi lokasi kampus utama bagi ABS Bandung. Sampai sekarang PWA Jabar masih melakukan fundraising guna pembangunan di lokasi tersebut.

Tak hanya ABS Bandung, amal usaha yang cukup maju di Jawa Barat adalah STIKes Aisyiyah Bandung. Kampus yang pada awalnya bernama akademi perawatan Aisyiyah ini semakin hari semakin berkembang. Hari ini STIKes Aisyiyah Bandung sudah mempunyai dua lokal kampus, di belakang RS Muhammadiyah Bandung dan di Jalan Palasari Bandung. Para mahasiswa-mahasiswinya pun diakui kualitasnya oleh Rumah Sakit yang dijadikan tempat magang. Ke depan PWA Jabar berencana membuat Universitas Aisyiyah Bandung setelah sebelumnya UNISA Yogyakarta berhasil didirikan.

Selain semangat dalam membangun amal usaha, PW Aisyiyah Jabar juga mempunyai program pemberdayaan masyarakat di bawah program MAMPU. Program ini menurut saya luar biasa karena langsung menyentuh akar rumput. Para perempuan di akar rumput diajak untuk menjadi berdaya dan melek anggaran di pemerintahan desanya.

Saya sampai sekarang tidak habis pikir, bagaimana bisa ibu-ibu, yang juga mempunyai tugas-tugas rumah tangga, namun ternyata bisa membuat gerakan yang hebat. Tapi itulah Aisyiyah, tugas domestik tidak menghalanginya untuk dapat turut aktif dalam ranah publik. Bagi kader Aisyiyah baik mengurus rumah tangga maupun mengurus masyarakat bisa dilakukan secara beriringan.

Jika Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan karena gagasan-gagasannya, maka Aisyiyah langsung mewujudkan apa yang dicita-citakan Kartini dalam wujud aksi nyata. Beruntung KH Ahmad Dahlan adalah seorang ulama yang juga peduli terhadap persoalan perempuan. KH Ahmad Dahlan membuat pengajian khusus perempuan.

Dikisahkan suatu ketika Kiai Dahlan bertanya kepada murid-murid perempuannya, “Apakah kalian malu jika aurat kalian dilihat oleh dokter laki-laki saat melahirkan?.” Para muridnya serentak menjawab malu. Kiai Dahlan kemudian memberikan nasehat, “Jika kalian malu dilihat auratnya oleh dokter laki-laki, maka sekolahlah kalian yang tinggi, supaya banyak dokter perempuan yang akan memeriksa pasien perempuan.”

Anjuran Kiai Dahlan sangat progresif pada masa di mana perempuan hanya disuruh mengisi tiga ranah: dapur, sumur, dan kasur. Gagasan ini diwujudkan melalui organisasi Aisyiyah yang pada awalnya merupakan kelompok pengajian bernama Sopo Tresno. Istri Kiai Dahlan, Nyai Siti Walidah turut menjadi penggerak organisasi Aisyiyah.

Pada masa kini, keinginan perempuan untuk bisa sekolah yang tinggi dan aktif di ranah publik sudah terwujud. Dua hal ini sudah tidak lagi dipertentangkan dengan kodrat perempuan seperti melahirkan dan menyusui, atau tugas domestik rumah tangga yang biasanya diemban oleh perempuan. Bahkan Indonesia pernah mempunyai presiden seorang perempuan.

Namun bukan berarti sudah tidak ada lagi tantangan yang harus dijawab organisasi perempuan pada masa kini. Persoalan kekerasan seksual dan KDRT masih menghantui perempuan. Masih banyak perempuan yang takut melaporkan kekerasan seksual yang menimpanya. Banyak juga laki-laki yang masih menyalahkan korban kekerasan seksual atas tragedi yang menimpanya. Aisyiyah dan gerakan perempuan lainnya perlu memperhatikan isu ini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan Selamat Milad yang ke-103 kepada Aisyiyah. Semoga bisa tetap senantiasa beramal dan berdarma bakti, membangun negara. Mencipta masyarakat Islam sejati, penuh karunia.

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Robby Karman

Sekretaris Jenderal DPP IMM

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.