back to top
Selasa, April 28, 2026

Perjalanan ke Negeri Para Mullah: Antara Tradisi, Ilmu, dan Harapan Persatuan

Lihat Lainnya

Susiknan Azhari
Susiknan Azhari
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Direktur Museum Astronomi Islam.

Ada satu ayat yang terasa sangat hidup sepanjang perjalanan ini: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Q.S. Al-Hujurat: 10). Ayat itu bukan sekadar dibaca, tetapi benar-benar “terasa” ketika berada di Iran. Sebuah negeri yang selama ini sering dipahami dari jauh, namun ternyata menyimpan banyak kejutan ketika didekati.

Menjelajah Negeri Persia

Iran, atau Persia dalam sejarahnya, sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat peradaban besar dunia Islam serta dikenal dengan sebutan “The Gate of All Nations”. Dalam realitasnya negeri ini benar-benar menjadi gerbang pertemuan berbagai tradisi, pemikiran, dan warisan intelektual. Kesempatan untuk menyaksikan langsung semua itu datang melalui program Cultural Workshop-Tour of Today Iran yang diikuti peserta dari berbagai negara Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan, hingga Amerika dan Eropa.

Perjalanan dimulai dari Teheran, kota besar yang memadukan modernitas dan sejarah. Di sini, kesan pertama langsung terasa, Iran tidak sesederhana yang sering dibayangkan. Kunjungan ke Shahid Beheshti University dan Al-Zahra University memperlihatkan bagaimana dunia akademik di Iran berkembang sangat dinamis. Diskusi dengan para akademisi membuka wawasan bahwa Iran aktif dalam percakapan global, bukan negara yang tertutup seperti sering distereotipkan.

Di Iranology Foundation, para peserta diajak menyelami lebih dalam akar budaya Persia. Manuskrip kuno, alat percetakan tradisional, hingga pakaian khas Iran menjadi bukti bahwa peradaban ini tidak pernah benar-benar putus dari masa lalunya. Semuanya dirawat dengan penuh kesadaran sejarah.

Hari berikutnya, suasana berubah lebih serius ketika mengikuti konferensi tentang Revolusi Islam Iran. Dari sini terlihat bahwa Iran adalah negara dengan pengalaman politik yang unik. Selanjutnya rombongan diajak melihat sisi lain pengelolaan haji di Iran dan peran perempuan dalam masyarakat.

Dalam diskusi bersama Dr. Masoumeh Ebtekar, muncul fakta yang cukup menarik—perempuan Iran mengalami peningkatan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk olahraga internasional. Ini mungkin berbeda dari bayangan banyak orang. Iran ternyata tidak sepenuhnya statis; ada dinamika sosial yang terus bergerak.

Baca Juga:  Puasa dan Reorientasi Work–Life Balance dalam Islam

Di sela-sela kegiatan akademik, Kota Teheran juga menunjukkan wajah estetiknya. Milad Tower yang menjulang tinggi memberi pemandangan luas kota, sementara Tabi’at Bridge menghadirkan ruang publik yang modern dan nyaman. Bahkan, di sekitar kawasan ini terdapat fasilitas observatorium, sebuah tanda bahwa minat terhadap astronomi tetap hidup. Kunjungan terakhir selama di kota Teheran adalah berziarah ke Mousaleum Ruhollah Khomaini.

Di dalamnya terdapat makam Ayatullah Imam Khomaini beserta keluarga. Masjid ini sangat megah yang dirancang oleh Parviz Mouayyed. Dalam konteks Kalender Islam Global kota Teheran pernah menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) ke-8 pada tanggal 9-11 Syakban 1418 H/9-11 Desember 1997 yang menyepakati perlunya Kalender Islam Global.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Qom, kota yang sering disebut sebagai “jantung spiritual” Iran. Jika Teheran terasa modern, Qom justru menghadirkan suasana religius yang kental. Kota ini mirip “kota santri” dalam konteks Indonesia—tenang, sederhana, tetapi penuh aktivitas keilmuan. Di sini, diskusi tentang perempuan dalam perspektif Syiah menjadi salah satu sesi penting.

Pemateri mengaitkannya dengan pemikiran tokoh-tokoh reformis seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan Muhammad Husayn Tabataba’i. Mereka adalah figur-figur penting yang mencoba menggeser cara pandang umat dari tekstual ke kontekstual.

Diskusi pun berkembang ke arah yang cukup berani, apakah perempuan bisa menjadi pemimpin tertinggi, bahkan mufti atau presiden? Pertanyaan ini mungkin sensitif, tetapi justru menunjukkan adanya ruang dialog yang terbuka.

Jejak Ilmu dan Astronomi Islam

Pengalaman di Qom semakin lengkap dengan pertemuan bersama Ayatullah Shahrestani. Ia menekankan pentingnya berpikir filosofis dalam menghadapi persoalan umat. Tidak cukup hanya tekstual, tetapi juga perlu kedalaman refleksi.

Salah satu momen yang paling membekas adalah penampilan seorang hafidz muda yang luar biasa. Ia bukan hanya hafal Al-Qur’an, tetapi mampu menjelaskan maknanya dengan cepat dan tepat. Banyak peserta yang terkesima bahkan ada yang menyebut kecepatannya “mengalahkan komputer”.

Baca Juga:  Lebaran dan Hiperealitas Kecantikan: Antara Tren, Budaya, dan Syariat

Perjalanan spiritual juga terasa saat berziarah ke makam Fatimah Al-Ma’shumah. Arsitektur masjid yang megah dengan ornamen Persia menghadirkan pengalaman religius yang sulit dilupakan. Di tempat ini, suasana khusyuk benar-benar terasa.

Dari Qom, perjalanan berlanjut ke Kashan kota seni dan industri. Di sini, rombongan mengunjungi pabrik karpet dan melihat langsung proses pembuatannya. Karpet Persia memang terkenal mendunia, dan melihat prosesnya secara langsung memberikan apresiasi yang sangat positif.

Namun yang lebih menantang adalah pengalaman menjelajahi padang pasir Kashan. Perjalanan ini bukan sekadar wisata, tetapi juga refleksi. Di tengah hamparan pasir yang luas, terbayang bagaimana beratnya perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. Tanpa fasilitas modern, tanpa kemudahan, tetapi penuh keyakinan.

Di Kashan pula, rombongan mengunjungi rumah Muhammad Husayn Tabataba’i, ulama besar penulis Tafsir al-Mizan. Dari luar tampak sederhana, tetapi bagian dalamnya luas dan indah. Seolah menggambarkan bahwa kedalaman ilmu tidak selalu tampak dari luar.

Perjalanan dilanjutkan ke Isfahan, kota yang sering disebut “setengah dunia”. Julukan ini tidak berlebihan. Kota ini penuh dengan keindahan arsitektur, terutama Masjid Imam yang merupakan mahakarya era Safawi. Detail ornamen, akustik bangunan, hingga tata ruangnya menunjukkan kecanggihan peradaban masa lalu.

Isfahan juga memiliki tradisi intelektual yang kuat. Di kota ini terdapat perguruan tinggi yang sangat terkenal yaitu University of Isfahan. Salah seorang alumninya adalah Mohammad Khatami, yang pernah menjadi Presiden Iran menggantikan Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Ini menunjukkan bahwa tradisi ilmu di Iran tidak hanya berhenti di masa lalu, tetapi terus berlanjut.

Perjalanan kemudian mencapai puncaknya di Mashhad, kota suci yang menjadi pusat ziarah. Di sinilah dimakamkan Imam Reza, salah satu tokoh penting dalam tradisi Syiah. Kompleks makamnya sangat luas dan megah, dipenuhi peziarah dari berbagai negara. Mashhad bukan hanya kota spiritual.

Baca Juga:  Epistemologi Ibn Taimiyyah: Menjembatani Wahyu dan Akal

Dalam sejarah, kota ini juga melahirkan ilmuwan besar di bidang astronomi Islam. Di antaranya adalah Jabir ibn Hayyan (103-237 H/721-851 M), Abu Ja’far al-Khazin (288-387 H/900-997 M), Abu al-Wafa’ Buzjani (w. 378 H/988 M), dan Nasir al-Din al-Tusi (11 Jumadil awal 597- 18 Zulhijah 672 H/17 Februari 1201-25 Juni 1274 M).

Nama-nama ini bukan sekadar catatan sejarah. Mereka adalah bukti bahwa dunia Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, termasuk astronomi yang hingga kini masih relevan terutama dalam diskusi seputar kalender Islam global. Melihat semua itu, muncul satu kesadaran penting bahwa perbedaan yang selama ini terasa besar, sering kali justru mengecil ketika kita bertemu langsung.

Ketegangan antara Sunni dan Syiah, misalnya, tidak sepenuhnya disebabkan oleh perbedaan teologis, tetapi juga oleh kurangnya interaksi. Banyak karya telah mencoba menjembatani perbedaan ini, termasuk tulisan M. Quraish Shihab. Namun pengalaman langsung seperti workshop dan kunjungan ini memberikan dampak yang jauh lebih kuat. Kita tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan apa yang terjadi.

Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang Iran. Ini adalah perjalanan tentang cara kita melihat umat Islam secara lebih luas. Bahwa di balik perbedaan, ada banyak titik temu. Bahwa dialog lebih penting daripada prasangka. Dan bahwa persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diusahakan.

Pertanyaan yang tersisa justru sederhana tetapi mendalam, mengapa kita bisa bekerja sama dengan pihak lain, tetapi sering kesulitan bersatu dengan sesama Muslim?

Mungkin jawabannya ada pada cara kita beragama. Jika agama menghadirkan ketenangan dan kegembiraan, maka ia akan mendekatkan. Tetapi jika justru melahirkan ketegangan, mungkin ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita memahaminya. Perjalanan ini mengajarkan satu hal penting bahwa keberagamaan yang sejati adalah yang menggembirakan dan dari Iran, pelajaran itu terasa begitu nyata.

Wallāhu a‘lam bi as-Sawab

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru