IBTimes.ID – Robert Del Naja, personel grup musik Massive Attack, turut berkontribusi dalam album soundtrack film dokumenter tentang Gaza bertajuk Life Support. Ia menyumbangkan sejumlah lagu dan remix untuk album tersebut, termasuk tiga karya orisinal berjudul “Explosives of the Future”, “Perfect Victims”, dan “House of Healing”.
Album soundtrack ini juga memuat lagu “Resistance in the Dark” dari kolektif Five Techniques yang beranggotakan Paul Weller, David Holmes, dan Roisim El Cherif. Selain itu, terdapat remix lagu “Palestine” milik Kneecap yang menampilkan Fawzi.
Berdasarkan keterangan resmi, seluruh keuntungan dari penjualan album akan dialokasikan untuk membantu Palestina. “Seluruh keuntungan dari penjualan album dalam format vinil akan disalurkan ke dana solidaritas Health Workers 4 Palestine,” demikian keterangan mereka, sebagaimana dilaporkan Pitchfork, Jumat (30/10/26).
Sejumlah musisi lainnya juga terlibat dalam penggarapan album tersebut. Mereka di antaranya Yasmine Hamdan, Habib Shehada Hanna, Massar Egbari, 47Soul, serta Siba dan Monkyman.
Dokumenter Life Support menyajikan kesaksian beserta rekaman dari para dokter internasional yang memperoleh izin untuk memasuki Gaza. Film ini merekam pengalaman tenaga medis selama dua tahun genosida Israel di wilayah Palestina tersebut.
Dalam sinopsisnya, film ini menggambarkan perjuangan para tenaga kesehatan yang harus bekerja di tengah kondisi rumah sakit yang rusak akibat serangan bom, keterbatasan pasokan obat-obatan dan peralatan medis, kelaparan, hingga meningkatnya jumlah korban luka. Mayoritas pasien yang mereka tangani adalah perempuan dan anak-anak.
Saat ini, Life Support sudah dapat disaksikan melalui layanan video on demand. Selain penayangan secara daring, puluhan agenda pemutaran film juga telah disiapkan, khususnya di Inggris dan Irlandia. Beberapa di antaranya akan dilengkapi dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama tim pembuat film.
Massive Attack selama ini dikenal sebagai grup musik yang secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Pada April 2026, vokalisnya, Robert Del Naja, bahkan sempat ditangkap ketika mengikuti demonstrasi pro-Palestina di Trafalgar Square, London pusat. Ia menjadi salah satu dari lebih 200 orang yang diamankan dalam aksi tersebut.
Musisi berusia 61 tahun itu terlihat duduk bersama para demonstran lainnya sembari membawa poster bertuliskan, “Saya menentang genosida, saya mendukung Palestine Action”. Petugas Metropolitan Police kemudian menghampirinya, menyampaikan bahwa dirinya ditangkap, lalu membawanya meninggalkan lokasi. Penangkapan tersebut disambut sorakan dan tepuk tangan dari para peserta demonstrasi.
Kepolisian mengonfirmasi terdapat 212 orang yang ditangkap dalam aksi tersebut. Mereka diduga menyatakan dukungan terhadap Palestine Action, organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok terlarang. Para demonstran yang diamankan diketahui berusia antara 27 hingga 82 tahun.
Sebelum penangkapan berlangsung, Del Naja sempat berbicara kepada Press Association. Ia mengungkapkan tetap bertekad mengikuti demonstrasi meskipun menyadari adanya kemungkinan dampak terhadap perjalanan karier musiknya.
“Sebagai seorang musisi, tentu ada kekhawatiran besar tentang bagaimana kami mungkin tidak bisa bepergian dan mendapatkan visa,” kata dia.
Del Naja juga mengkritik langkah kepolisian yang kembali melakukan penangkapan terhadap peserta aksi. Ia menilai tindakan tersebut konyol dan menegaskan tidak akan berhenti menyampaikan pandangannya. Ia bahkan menyatakan siap menghadapi proses hukum apabila perkara tersebut dibawa ke pengadilan.
“Jika saya berdiri di pengadilan dengan pendampingan yang tepat, saya yakin bisa mengatakan ‘ini adalah penangkapan yang tidak sah, dan karena itu saya tidak menerimanya’,” kata Del Naja.
Selain Massive Attack, grup hiphop asal Irlandia, Kneecap, juga dikenal aktif menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina di berbagai panggung dunia. Mereka secara konsisten menggaungkan seruan “Free Palestine”, mengenakan atribut solidaritas seperti keffiyeh, serta menyampaikan pesan dukungan bagi Palestina dalam sejumlah festival musik internasional.
Pesan solidaritas tersebut pernah mereka suarakan di berbagai festival besar, termasuk Coachella, Glastonbury, dan Boomtown. Sikap serupa juga terus ditunjukkan dalam penampilan terbaru mereka saat menggelar konser di Meksiko.
(MS)


