PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Cara mengukur daya tarik sebatang magnet adalah dengan melihat seberapa luas spektrum biji besi yang mampu diikatnya. Meski tidak sama persis, sesungguhnya kebesaran seseorang dapat dinilai dari seberapa jauh gagasan, tindakan, dan kebijakannya mampu mempengaruhi kehidupan publik dan menjadi panutan pribadi-pribadi tertentu yang merasa terpikat hatinya.

Eksemplar kehidupan Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar, M.Sc (1939-2020) layak di tempatkan dalam deretan orang-orang besar yang mampu meletakkan jejak-jejak pembaruan (inovasi) di setiap posisi yang ditempatinya. Oleh karena itu, tidak berlebihan dan sangat layak bila disebut sebagai seorang trendsetter, sosok panutan, yang mampu memberi arah baru dalam kehidupan yang ditekuninya.

Tidak perlu dijelaskan bagaimana kontribusi dalam pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (UMM-UMS), pembaruan pendidikan agama, maupun pembaruan pendidikan nasional. Pun, di sini tidak akan membicarakan kebesaran Prof. Malik saat menjadi Rektor, Menteri Agama, maupun Menteri Pendidikan Nasional. Hal demikian itu telah menjadi memori kolektif dan pengetahuan publik.

Esai ini merupakan refleksi pribadi disentuh dan digerakkan oleh ide-ide inovasi sekolah Prof. Malik. Penglihatan dari sudut pandang seorang praktisi pendidikan yang saat itu belum pernah bertatap muka sekalipun, tetapi malah berusaha mengakrabi tulisan-tulisannya sebagai teman bergumul dalam mengembangkan suatu sekolah.

Sudut Pandang Praktisi Pendidikan

Pada medio tahun 2003, saya menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Solo (Surakarta). Sekolah baru dan pemekaran dari SD Muhammadiyah 1 Ketelan, sehingga membutuhkan nahkoda baru juga. Uniknya, saat itu belum memiliki pengalaman mengajar di SD, meski pernah menjadi pengajar paruh waktu di UMS selama satu setengah tahun.

Belum pernah mengajar di SD, ternyata menjadi suatu keuntungan tersendiri. Sebab, dengan begitu belum ada gambaran/contoh empirik bagaimana kepala sekolah yang ideal, sehingga harus mencari referensi sendiri.

Baca Juga  Buya Yun, Ulama Moderat-Kanan (2): Menolak Sipilis, Pro-Kepemimpinan Perempuan

Ringkasnya, pilihan jatuh pada gaya kepemimpinan egaliter-akrab, bukan gaya formal-birokratis yang umum dianut kepala sekolah. Gaya kepemimpinan egaliter-akrab mungkin tumbuh kala nyantri dan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta pada dekade 1990-an. Maka, yang terjadi adalah kepala sekolah bergaya aktivis, dianggap nyleneh di mata kepala sekolah lain.

Kala tiba pada pertanyaan, arah pengembangan sekolah seperti apakah yang dipilih? Di tengah pencarian inilah kita menemukan ide-ide inovasi (pengembangan) pendidikan dari Prof. Malik yang mengalir deras dari dua penjuru, di satu sisi melalui tulisan-tulisan beliau dan melalui saluran (periwayatan) Kyai Marpuji Ali, ketua komite sekolah yang membersamai Prof. Malik saat menjadi rektor UMS.

Budaya Sekolah

Sedikitnya, ada tiga kata kunci dari Prof. Malik yang selalu dirujuk Kyai Marpuji saat memberi peneguhan pada teman-teman pendidik dan tenaga kependidikan di SD Muhammadiyah PK Kottabarat (saat ini berkembang menjadi Perguruan Muhammadiyah Kottabarat yang memayungi TK, SD, SMP, dan SMA) di berbagai kesempatan, yaitu: ngeloni sekolah, luwasluwes dalam berfikir dan bersikap, serta rukun (berjamaah).

Ngeloni sekolah, artinya memikirkan kemajuan sekolah selama24 jam, kapan pun dan di manapun berada. Kyai Marpuji mencontohkan, saat di Belanda, Prof Malik tetap menelpon dan memantau perkembangan UMS. Tentu ini menjadi kritik telak bagi pengelola sekolah/PTM yang menduduki suatu jabatan, tetapi tidak memikirkan kemajuan lembaga.

Luwas lawannya picik-sempit, luwes lawannya kaku. Suatu lembaga tidak akan bisa besar selama pengelolanya berpikiran picik-sempit dan bersikap kaku. Luwas dan luwes akan memperluas radius pergaulan yang pada urutannya memperluas partisipasi yang publik dalam membesarkan suatu sekolah.

Kunci terakhir, rukun, ora padu. Sebab, rukun mendatangkan rizki, sebaliknya padu atau konflik akan menjauhkan kita dari rizki. Rizki dalam konteks sekolah berwujud trust, kepercayaan publik yang terkonversi dalam bentuk arus masuk murid baru yang cendrung membesar. 

Baca Juga  Peta Jalan Pendidikan Muhammadiyah, Menuju Sekolah Unggul

Secara teologis, diktum ini jelas berangkat dari filosofi shalat berjamaah. Dikerjakan sendiri-sendiri bernilai satu (1), tetapi dilaksanakan berjamaah dilipatkan-gandakan menjadi dua puluh tujuh (27) kali lipat.

Tiga hal di atas, karena diucapkan berulang-ulang oleh ketua komite sekolah telah mandarah daging dalam benak pendidik dan tenaga pendidikan di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, sehingga menjadi nafas yang mewaranai dan membentuk budaya sekolah. Ringakasnya, tiga kata kunci filosofi (ngeloni sekolah, luwas-luwes, dan rukun) Prof. Malik menjadi pilar-pilar yang membingkai sistem nilai Perguruan Muhammadiyah Kottabarat.

Mekanisme Alokasi Posisionil

Setelah sistem nilai terbangun, perlu beralih ke pembahasan strategi pengembangan sekolah. Rumusan “mekanisime alokasi posisionil” sebagai suatu pendekatan dalam strategi pengembangan sekolah, meski beliau pinjam dari Waskito Tjiptosasmito, seorang pakar perencanaan pendidikan ternama, tetapi berkat olahan konseptual Prof. Malik kemudian menemukan kerangka fungsional sebagai suatu strategi yang ampuh-mujarab.

Mekanisme alokasi posisionil dapat dipahami sebagai kemampuan sekolah untuk menyalurkan lulusan sesuai dengan harapan masyarakat. Dengan kerangka referensi ini,  dapat dipahami bahwa suatu SD dikatakan bermutu kala mampu mengantarkan lulusan memasuki SMP Favorit, demikian seterusnya. Suatu SMA dikatakan bermutu kala mampu menyalurkan lulusan memasuki Perguruan Tinggi ternama dengan jurusan favorit.

Implikasi strategi mekanisme alokasi posisional adalah sekolah harus mengedepankan dan merawat kualitas layanan pendidikan, bukan sekadar memburu kuantitas. Kesadaran merawat kualitas layanan pendidikan dan menjaga mutu lulusan inilah yang membuat penambahan peserta didik di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat terkesan demikian lambat.

Misal, SMP Muhammadiyah PK berjalan sepuluh (10) tahun hanya mampu menerima tiga (3) rombongan belajar (rombel) setiap angkatan, sembilan puluh (90) peserta didik. Padahal, dalam rentang tiga (3) tahun terakhir, jumlah pendaftar mencapai 160-an anak.

Baca Juga  Spirit Kesetaraan Gender Ibu Ainun dalam Film Habibi Ainun 3

Pengutamaan kualitas terbukti ampuh mendongkrak mutu lulusan, sehingga dalam rentang waktu empat (4) tahun terakhir nilai Ujian Nasional (UN) mampu berada di urutan pertama di kota Solo dan menembus 100 besar nasional.

Dalam satu dekade terakhir kita menyaksikan bagaimana satu-satu sekolah swasta, tidak terkecuali Sekolah Muhammadiyah, runtuh. Runtuh bukan karena gedungnya lapuk, tetapi karena kekeliruan memilih strategi. Bukan kualitas layanan dan lulusan yang diutamakan, tetapi pengedepanan kuantitas peserta didik. Definisi sekolah unggul bagi mereka adalah yang jumlahnya peserta didiknya terbanyak, bukan kualitas layanan.

Ringkasnya, tanda-tanda zaman mengabarkan bahwa strategi pengedepanan kualitas lebih mujarab dari pada pengutamaan kuantititas. Hal ini semakin menunjukkan berfungsinya strategi mekanisme alokasi posisional yang dilontarkan Prof. Malik lebih dari tiga puluh (30) tahun silam.

Warisan Intelektual

Pada akhir tahun 2015, saya merampungkan disertasi pada Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta tentang pendidikan berkemajuan. Ketika ditawari pihak kampus untuk mencari penguji dari luar, secara sepontan saya mengajukan Prof. Malik. Dan yang luar biasa adalah, meskipun belum mengenal saya, tetapi beliau sudi menerima permintaan itu. Hal demikian tidak bisa ditafsirkan lain, kecuali kecintaan tanpa batas pada kaum muda.

Belakangan ini beberapa anak muda yang merasa disentuh oleh beliau, antara lain Abdullah Mukti, Azaki, Huda, dan saya, tengah menggodok suatu lembaga, Fadjar Institut, sebagai arena pelembagaan ide-ide Prof. Malik dan menyebarluaskan ke publik. Jasad telah wafat dan dikubur dalam tanah, tetapi ide-ide inovatif yang dilontarkan harus dinyalakan sebagai api yang menerangi dan memberi arah baru kehidupan.

Editor: Yahya FR

Share Artikel

contributor

Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta