back to top
Rabu, Mei 20, 2026

Revano, Siswa Katolik Berprestasi Ini Jadi Bukti Pendidikan Muhammadiyah Inklusif

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Kisah Revano menjadi gambaran lain wajah pendidikan inklusif Muhammadiyah terhadap keberagaman. Di tengah perdebatan soal toleransi dan inklusivitas di lingkungan pendidikan, siswa beragama Katolik di SMK Muhammadiyah Pekalongan itu justru mencatat prestasi membanggakan sekaligus bersiap menempuh pengalaman magang ke Jepang.

Revano, siswa keturunan Tionghoa beragama Katolik, menjadi lulusan terbaik kedua jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor pada pelepasan siswa kelas 12 SMK Muhammadiyah Pekalongan, Selasa (12/5/2026). Ia juga memperoleh kesempatan mengikuti program magang di Jepang melalui beasiswa dari LPK.

Keberhasilan tersebut menarik perhatian karena Revano menjalani pendidikan di sekolah berbasis Islam tanpa kehilangan ruang untuk menjalankan keyakinannya sendiri. Selama tiga tahun belajar, ia mengaku diterima dengan baik oleh lingkungan sekolah.

“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” ujar Revano.

Ia mengaku memilih SMK Muhammadiyah Pekalongan karena kualitas jurusan otomotifnya yang dinilai unggul di wilayah Pekalongan.

“Memilih di SMK ini karena yang ada jurusan teknik sepeda motor di Pekalongan kan ada dua, Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini,” katanya.

Meski berada di lingkungan sekolah Muhammadiyah, Revano tetap memperoleh pendidikan agama Katolik sesuai keyakinannya. Sekolah juga menyediakan guru agama khusus untuk mendampingi pembelajaran tersebut.

“Di sini pembelajarannya enak. Setelah lulus mau berangkat ke Jepang,” tambahnya.

Pendidikan Inklusif Muhammadiyah yang Membuka Ruang Keberagaman

Pengalaman Revano juga menjadi jawaban atas kekhawatiran sebagian masyarakat nonmuslim terhadap sekolah berbasis agama. Ibunya, Silvia, mengaku sempat ragu menyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah karena latar belakang keluarga mereka.

Baca Juga:  Muhammadiyah dan Iran Perkuat Suara Perdamaian Global, Tolak Normalisasi Kejahatan

Namun keraguan itu berubah setelah pihak sekolah memberikan penjelasan terkait sistem pembelajaran dan jaminan kebebasan beragama bagi siswa.

“Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah,” ujar Silvia.

Menurut Silvia, putranya tidak pernah mengalami diskriminasi ataupun perundungan selama bersekolah.

“Selama sekolah sampai kelas 3 tidak ada persoalan, tidak ada pembulian maupun rasis. Pelajaran agama juga mendapatkan dengan baik. Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” ungkapnya.

Selain berkembang secara akademik, kemampuan Revano di bidang otomotif juga meningkat pesat. Kini ia bahkan dipercaya tetangga sekitar untuk membantu memperbaiki sepeda motor.

Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan, Khusnawan, menegaskan bahwa sekolah tidak pernah membedakan siswa berdasarkan agama maupun latar belakang sosial.

“Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk semuanya, siapa saja. Pendidikan agama kami pilah, kami carikan guru agamanya, tetap ada fasilitas agama,” katanya.

Menurutnya, pengalaman Revano menjadi bukti bahwa sekolah Muhammadiyah dapat menjadi ruang pendidikan yang aman, terbuka, dan menghargai keberagaman tanpa menghilangkan identitas masing-masing peserta didik. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru