back to top
Rabu, April 15, 2026

Sebab Paus Leo XIV Melawan Trump

Lihat Lainnya

IBTimes.iD – Paus Leo XIV terus-menerus menyerukan penghentian segera perang di Iran yang telah menyebabkan banyak korban jiwa. Paus Leo tidak pernah berhenti menyuarakan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Ia berulang kali mendesak agar konflik di Iran diakhiri dengan cepat karena telah menelan banyak korban. Dalam berbagai kesempatan, Paus Leo secara tegas mengkritik pihak-pihak yang memicu dan melanjutkan peperangan tersebut, termasuk dalam hal ini adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Komentar pertama Paus Leo mengenai perang di Iran disampaikan saat Doa Angelus pada 1 Maret 2026, tepat pada hari kedua serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Saat itu, ia mengingatkan negara-negara tentang tanggung jawab moral mereka untuk mengupayakan perdamaian, sementara kekerasan di Timur Tengah semakin meningkat pasca-serangan.

“Stabilitas dan perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman saling balas atau dengan kekuatan senjata yang hanya menebar kehancuran, penderitaan, serta kematian. Perdamaian hanya terwujud melalui dialog yang rasional, tulus, dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Pada akhir Maret 2026, Paus Leo Trump kembali menyampaikan penolakannya terhadap perang saat memimpin Misa Minggu Palma di Vatikan. Meski tidak menyebut nama Donald Trump secara langsung, ia menyoroti orang-orang yang memulai peperangan.

“Yesus adalah Raja Damai yang menolak segala bentuk perang. Tidak ada satu pun yang boleh menggunakan nama-Nya untuk membenarkan konflik bersenjata. Ia tidak mendengar doa orang-orang yang berperang, melainkan menolaknya,” katanya.

Baca Juga:  Apa Penyebab Konflik Amerika VS Iran?

Paus Leo dikenal memiliki sikap antiperang yang sangat kuat dan konsisten. Ia menyatakan kesedihannya atas tewasnya warga sipil tak berdosa di Timur Tengah, termasuk anak-anak, serta terus berdoa agar permusuhan segera berakhir.

“Di tengah gelombang kekerasan, kehancuran, serta suasana kebencian dan ketakutan yang meluas, muncul kekhawatiran bahwa konflik ini bisa meluas dan menyeret negara-negara lain di kawasan, termasuk Lebanon, kembali ke dalam ketidakstabilan,” tuturnya.

Diplomat Vatikan juga menyampaikan peringatan bahwa serangan AS-Israel melanggar hukum internasional karena tidak ada negara yang berhak melancarkan serangan pencegahan sepihak. Pernyataan ini menjadi kritik tajam terhadap aksi militer AS-Israel.

Saat memimpin Misa Vigili Paskah pada Sabtu (4 April 2026), Paus Leo mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk meneladani para santo yang memperjuangkan keadilan. Dengan cara itu, perdamaian dapat tumbuh di tengah dunia yang saat ini dilanda berbagai perang.

Perbedaan pandangan yang diungkapkan secara terbuka antara Paus Leo Trump dan Presiden Donald Trump menjadi sorotan banyak pihak. Sangat jarang seorang paus secara terbuka menentang pemimpin negara lain. Paus Leo Trump sangat intens mengkritik kekerasan yang terjadi selama perang di Iran.

Ia mengedepankan pendekatan rekonsiliasi dan dialog untuk mencapai perdamaian, sementara Trump lebih memilih mencapai tujuannya melalui operasi militer yang menimbulkan kekerasan. Selama 1,5 bulan konflik berlangsung, ribuan nyawa warga Iran melayang akibat serangan AS-Israel.

Baca Juga:  Perkuat Visi Keislaman, UHAMKA Gelar ODDI untuk Mahasiswa Baru

Paus Leo Trump menegaskan bahwa ia tidak akan mundur dalam menyampaikan pesan Injil dan mengajak semua pihak untuk membangun jembatan perdamaian serta rekonsiliasi. “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump,” tegasnya.

Perbedaan pandangan inilah yang menyebabkan Paus Leo Trump dan Trump bersilang pendapat. Meskipun saat ini telah terjadi gencatan senjata antara AS dan Iran, Trump tetap tidak menghentikan ancamannya. Ia menyatakan bahwa jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan, serangan yang lebih besar kemungkinan besar akan dilakukan. Sementara itu, Paus tetap teguh pada sikapnya untuk “memerangi” perang.

“Saya akan terus berbicara dengan lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog, serta hubungan multilateral antarnegara guna menemukan solusi yang adil bagi berbagai masalah,” jelasnya.

Trump dikenal sebagai sosok yang sangat blak-blakan. Ia mengatakan bahwa Paus Leo Trump menentang kebijakannya terhadap Iran, sehingga ia merasa tidak perlu meminta maaf.

“Ia (Paus) sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran, dan Iran tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya,” kata Trump.

Padahal, Paus Leo Trump sama sekali tidak pernah berkomentar tentang isu senjata nuklir Iran. Komentarnya lebih difokuskan pada aspek kemanusiaan, terutama korban perang, serta seruan agar semua pihak terlibat dalam upaya perdamaian.

Trump juga menyebut Paus Leo Trump lemah dalam menghadapi kejahatan dan berbagai persoalan lainnya. Ia menuduh Paus yang memulai perselisihan tersebut. “Dia yang lebih dulu bicara. Saya hanya menanggapi,” katanya.

Baca Juga:  Hyung Jun Kim: Perubahan Gaya Kepemimpinan Muhammadiyah

Sikap antiperang Paus Leo Trump memicu respons bermusuhan dari sebagian pejabat AS terhadap Vatikan. Akibatnya, rencana kunjungan Paus ke Amerika Serikat pada Juli mendatang menjadi batal. Padahal, Paus Leo XIV adalah paus pertama yang berasal dari AS.

Paus Leo Trump menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia agar kembali membuka jalur dialog dan mencari cara mengurangi kekerasan, sehingga perdamaian dapat benar-benar berkuasa di hati umat manusia.

Pada awal April, ketika mengetahui rencana Trump untuk mengakhiri perang, Paus menyampaikan harapannya agar presiden AS tersebut menemukan jalan keluar yang tepat.

“Semoga ia (Trump) mencari cara untuk mengurangi kekerasan dan pengeboman. Itu akan menjadi kontribusi penting untuk menghilangkan kebencian yang sedang diciptakan dan terus meningkat di Timur Tengah serta di tempat lain,” ujarnya.

Uskup Agung Teheran-Isfahan, Kardinal Dominique Joseph Mathieu, juga mendesak agar konflik di Teluk Persia segera diakhiri. Ia menyerukan perdamaian bagi seluruh wilayah yang dilanda perang, khususnya di Timur Tengah.

“Jangan pernah lagi perang, sebuah petualangan yang tak ada jalan kembali. Jangan pernah lagi perang, sebuah spiral kesedihan dan kekerasan,” pungkasnya.

Artikel ini mempertahankan semua fakta, kutipan, kronologi, dan pesan utama dari teks asli tanpa mengubah substansinya.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru