PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Oleh: Ulfa Rosyidah

“Menjaga dan memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu perkara yang mudah. Karena itu aku selalu berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhir aku akan menghadap kepada Illahi Rabbi. Aku juga berdoa berkat dan keridlaan serta limpahan rahmat karunia Illahi agar Muhammadiyah tetep maju dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman.”

Kalimat tersebut merupakan salah satu pesan dari pendiri sekaligus ketua pertama organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan. Pesan tersebut haruslah terus diaplikasikan sekaligus menjadi reminder bagi generasi “milenial” Muhammadiyah saat ini.  Mengingat pada masa-masa awal sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, beliau mengalami berbagai bentuk hambatan ketika hendak melanjutkan dakwahnya. Salah satunya adalah ikhtiar beliau untuk berdakwah di bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan sebuah sekolah.

Sekolah yang Dimaksud

Sekolah tersebut diberi nama Madrasah Diniyah Islamiyah, sebuah sekolah yang menjadi pelopor lahirnya sekolah-sekolah Muhammadiyah besar hingga detik ini. Pada saat pendirian sekolah tersebut, K.H. Ahmad Dahlan masih harus menghadapi berbagai penolakan dari masyarakat disebabkan oleh metode belajar mengajar yang terkesan “modern” untuk saat itu, dan dianggap meniru dari bangsa barat serta menentang tradisi – disebabkan oleh metode pendidikan yang diusung oleh beliau menggunakan meja, kursi, papan tulis sebagaimana sekolah Pemerintah Belanda kala itu. Namun, kegigihan beliau untuk tetap berjuang patut diacungi jempol. Beliau bahkan dengan senang hati mendatangi rumah muridnya yang tidak masuk sekolah. Sikap seperti inilah yang patut diteladani oleh generasi Muhammadiyah, khususnya bagi siapapun yang meneruskan perjuangan beliau berdakwah di bidang pendidikan (dalam naungan Muhammadiyah).

***

Kini, lembaga Muhammadiyah –di bidang pendidikan – telah mencapai angka puluhan ribu. Lembaga-lembaga tersebut sudah seharusnya mencetak kader-kader penerus perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Tidak hanya dalam bidang dakwah, tetapi juga dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun yang lebih penting lagi, adalah mencetak kader yang berkarakter. Sehingga nantinya, diharapkan kader-kader yang tercetak mampu berkontribusi untuk bangsa tanpa harus meninggalkan karakter mereka sebagai orang Islam dan pribadi Muhammadiyah. Mengingat beberapa karakter generasi muda mulai tergerus seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya teknologi.

Baca Juga  Generasi Baru Muhammadiyah-NU

Sekolah di Bojonegoro

Menanggulangi hal tersebut, salah satu usaha yang dilakukan oleh salah satu SMP di  Bojonegoro, yaitu SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro adalah dengan menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter atau lebih dikenal dengan program PPK. Program PPK ini berisi karakter-karakter yang harus dimiliki oleh orang Islam, di antaranya adalah adab makan minum, ketika bertemu dengan guru, bergaul dengan teman, adab ketika berada di dalam kelas, dan masih banyak lagi. Sistem kerjanya menggunakan sistem dakwah kepada sesama, saling mengingatkan antarteman tentang hal-hal yang dilanggar.

Konsekuensinya adalah para siswa harus menuliskan ayat Alquran atau hadits-hadits yang berkaitan dengan hal-hal yang mereka langgar, di buku tulis khusus bersampul biru yang diberi nama ‘buku nasihat’. Contohnya ketika ada siswa yang terlambat datang ke sekolah, maka dia harus menuliskan surat Al-‘Ashr beserta artinya sebanyak sepuluh kali. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak lebih bisa menghargai waktu, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr. Di kesempatan lain misalnya ada siswa yang lupa makan atau minum berdiri, maka dia harus menuliskan hadits tentang makan minum beserta artinya sebanyak 10 kali.

***

Konsekuensi yang diberikan bukan berarti sebuah hukuman, tetapi sebuah cara agar siswa membiasakan diri untuk berkarakter baik sejak kecil. Bukan hanya siswa, guru juga harus memberikan teladan yang sama. Bahkan beberapa kali, ada siswa yang mengingatkan kepada bapak/ ibu guru yang mungkin lupa makan atau minum sambil berdiri.

Selain itu, setiap awal dan akhir kegiatan belajar mengajar, siswa SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro juga diajak untuk murojaah surat-surat dalam Alquran mulai juz 30 secara klasikal di serambi masjid. Karakter semacam inilah yang sudah seharusnya dimiliki oleh generasi muda saat ini. Kehadiran sekolah-sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah sudah semestinya bisa menjadi wadah pembangunan karakter demi terbentuknya kader-kader penerus yang tetap menjunjung tinggi karakter sebagai bangsa yang beradab.

Baca Juga  Karakteristik Khilafah dalam Perspektif Sejarah

Ada satu hal lagi yang akan selalu digarisbawahi oleh kader-kader Muhammadiyah yang mengabdi di SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro, yaitu sejak awal sekolah ini memiliki semboyan the Innovation School. Semboyan tersebutlah yang kemudian menjadi pijakan untuk terus berinovasi dalam segala hal, bukan hanya berkaitan dengan belajar mengajar, tetapi secara keseluruhan. Mengupgrade diri dengan hal-hal yang baru lagi baik, serta menciptakan lingkungan positif yang nantinya akan menumbuhkan hal-hal yang positif. Termasuk menumbuhkan karakter seluruh warga sekolah sebagaimana yang telah dicantumkan dalam program PPK.

Berinovasi bukan berarti hanya menciptakan hal-hal yang baru, tetapi juga mencakup bagaimana kita mampu untuk memperkenalkan dan mempertahankan hal-hal yang sudah baik, agar nantinya tidak terjadi kemunduran umat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh K.H. Ahmad Dahlan bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh sebagian umat Islam yang terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Selain itu, juga disebabkan oleh kemerosotan akhlak sehingga jiwa dipenuhi ketakutan seperti kambing dan tidak lagi memiliki keberanian seperti harimau. Itulah sebabnya, akhlak, karakter, adalah pondasi utama untuk menuju sebuah bangsa yang maju.

***

Sejak zaman dahulu, Indonesia memiliki generasi bangsa yang berkarakter. Sebut saja Jenderal Soedirman, salah satu pahlawan Indonesia yang memiliki karakter pantang menyerah dalam dirinya. Beliau tetap gigih melawan penjajah meskipun harus ditandu karena penyakit yang dideritanya. Contoh lain adalah Ir. Soekarno yang selalu haus akan ilmu. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan banyaknya buku yang sudah beliau baca. Begitu juga dengan ulama sekaligus sastrawan besar Muhammadiyah yang kita kenal dengan nama Buya Hamka.

Meskipun dulu beliau sempat ditolak ketika mendaftar sebagai guru di sebuah sekolah milik Muhammadiyah karena tidak memiliki diploma dan keterbatasannya dalam berbahasa Arab, tidak lantas menjadikan beliau berkecil hati. Hal tersebut justru menjadi lecutan bagi beliau untuk terus belajar, sehingga beliau mampu menelurkan banyak karya di tengah aktivitas beliau yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajah Belanda.

Baca Juga  Mengapa Muhammadiyah Tidak Bermadzhab?

Masih banyak lagi teladan-teladan dari tokoh Muhammadiyah yang sejatinya mampu dijadikan panutan. Bukan hanya panutan dalam sikap dan karakter bangsa, tetapi juga dalam hal mencintai serta memajukan bangsa Indonesia. Bapak/ Ibu guru yang berada dalam naungan sekolah Muhammadiyah bisa menyelipkan cerita motivasi tentang para pahlawan yang dibesarkan oleh Muhammadiyah pada beberapa kesempatan. Hal tersebut juga sedikit bisa menyuntikkan semangat dalam diri kader penerus Muhammadiyah. Termasuk pahlawan yang melahirkan sekaligus membesarkan nama Muhammadiyah yang mampu memberikan banyak kontribusi untuk bangsa hingga saat ini, K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah (Nyai Ahmad Dahlan).

Share Artikel

customer

3 Comments

Tinggalkan Balasan