Beranda Feature Essay Setelah Dialektika; Refleksi atas Hari Buruh Internasional

Setelah Dialektika; Refleksi atas Hari Buruh Internasional

Oleh : Ermandyah R. Hindi*

 

Kita mengetahui, 1 Mei merupakan Hari Buruh Internasional. Membicarakan tentang peluh, terik panas, hawa dingin, tangan berurat kencang, wajah pucat, dan banting tulang siang dan malam melebihi kesadaran dan tubuh murni yang dimilikinya tidak lain adalah buruh kasar atau pekerja pabrik secara manual. Anehnya, pekerja pabrik terutama orang-orang yang tidak menamatkan pendidikan formal atau putus sekolah dan bahkan buta huruf nampaknya tidak lebih menarik pembicaraan terhadap dialektika Hegelian, membaca teori materialisme dialektika, buku tentang dialektika pencerahan, dan gagasan mengenai sintesis dialektika. Mimpi dan fantasi mereka akan menumpang-tindihi ‘teori mengambang bebas’ seiring ‘mata uang mengambang bebas’ di tengah kemelimpah-ruahan obyek.

Pabrik-pabrik industri dan obyek-obyek konsumsi berupa parfum, alat kecantikan, hiburan, rokok, hingga media massa tidak hanya menciptakan selera, kesenangan, fantasi, dan hasrat untuk lebih berbelanja, tetapi juga “proses ganda”, yaitu ritualisasi dan menjadi. Pemikiran modern mengenai ekonomi hasrat meletakkan narasi kecil kaum pekerja untuk meritualisasi dirinya tanpa tontonan supaya tidak lagi memproduksi ilusi. Dalam hal ini, batas-batas ritualisasi konsep terletak dalam ‘akhir perjuangan kelas’ dari kaum pekerja diselingi antara mesin ketidaksadaran dan mesin permainan dalam sistem produksi global. Produksi ketidaksadaran secara mekanis dan sosial tidak memerlukan lagi relasi produksi ketidaksadaran revolusioner, karena tatanan produksi berakhir dengan sendirinya.

Apa-apa yang telah tercatat dalam ratusan atau ribuan jumlah kaum pekerja menjadi pijakan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan sektor-sektor produksi hingga pembentukan modal. Sebaliknya, perjalanan kisah nyata kaum pekerja, akhirnya menjadi pernyataan dan logika yang tidak memukau dibentuk oleh negeri kita masih diidentifikasi sebagai “bangsa kuli”. Logika-bahasa tidak lagi menjadi subyek, tetapi menjadi obyek menyerupai bangsa kita menjadi bangsa jongos. Pembebasan tulisan dari belenggu kata-kata kesewenang-wenangan bersamaan pembebasan kita dari ikatan benda-benda yang tidak terlihat oleh mata dan tidak  terlintas dalam pikiran milenial.

Ada saatnya kita tidak mempercayai pikiran nomadik ditujukan pada kaum pekerja, melainkan apa-apa yang menjadi bayangan produksi yang mereka mimpi dan fantasikan sebelumnya. Jadi, jalin menjalinnya produksi hasrat yang tidak terorganisasi dari pekerja bukanlah nilai surplus dan peluh, tetapi mimpi dan hasrat yang sesuai dengan rezim diskursus. Sedangkan, pembentukan modal bukanlah produksi kaum kapitalis, tetapi pembentukan konsep menjadi melebihi dialektika dengan kesadaran yang menyertainya. Karena itu, kita melihat bayang-bayang semakin jelas dan tidak tersembunyi lagi sebagai bagian dari tingkatan teks menuju irisan suatu tubuh ke tubuh lain dan baru yang tidak terlihat disebut tubuh modal. Sehingga setiap tubuh yang tidak berbentuk itulah memalsukan obyek bayangan dari oposisi duaan, antara pekerja dan kapitalis membuyarkan dari bayangan ke bayangan lainnya tanpa cermin dan tidak semu. Mengapa tidak terdapat cermin dan tidak semu lagi? Mereka muncul akibat kata-kata, benda-benda, dialektika, dan kesadaran yang menyertainya hanyalah rangkaian ilusi.

Di satu sisi, kelahiran, pertumbuhan, kekacauan, keruntuhan, dan krisis sekarang bukanlah bentuk dialektika. Akan tetapi rangkaian titik terjalin, suatu garis kurva yang terputus dalam perjalanan sejarah, kemanusiaan, pemikiran hingga berbalik ke arah kita. Kini, apa yang ada di sekitar kita bukan hanya bersifat mekanis, tetapi juga relasi bolak-balik antara kebahagiaan dan penderitaan, kesengsaraan dan kenikmatan, kekayaan dan kemiskinan menerobos tatanan produksi. Di sisi lain, kebutuhan akan barang-barang konsumtif telah diproduksi tidak lebih sebagai ilusi dan mimpi melalui retorika iklan dimanipulasi menjadi bentuk ketidaksadaran. Mesin ketidaksadaran tidak terbentuk dari obyek-obyek yang menumpuk tanpa batas, tetapi dari kelenyapan garis-garis atau kurva pergerakan arus produksi hasrat mengakhiri satu organisasi ke organisasi lainnya.

Hanya saja, serikat pekerja tidak bertugas untuk menyusun kerangka pengetahuan mengenai mesin ampas.  Kenyamanan bekerja dalam hubungan kerja perlu diiringi dengan kinerja yang lebih nyata untuk mencapai tanda produktivitas dibandingkan hanya bertumpu pada pembentukan kedalaman yang kosong dari kesadaran. Suatu hal yang membuat kita untuk tidak memaksakan tanda produktivitas. Tatkala dari realitas tidak lagi untuk didaur-ulang menjadi realitas baru tapi dibiarkan meningkat dalam taraf pertumbuhan tertinggi sampai terjadi krosleting. Mesin bertemu dengan mesin membentuk bio-mesin revolusioner yang menyalin dirinya melalui mimpi, ilusi, fantasi, imajinasi, dan hasrat jalin menjalin dengan kloning dalam revolusi genetika. Kecerdasan artifisial dalam revolusi teknologi informasi, pornografi-siberporno dalam revolusi seksual. Tetapi, suatu pernyataan, dimana perubahan hubungan dinamis mengiringi kesetiaan pada yang “nyata” (modal-uang).

Dalam teks Adam Smith, The Wealth of Nation maupun teks Karl Marx, Capital menempuh cara untuk membebaskan dirinya dari belenggu “teks yang berbeda” yang tidak terberi dalam mimpi dan fantasi kaum pekerja. Akhirnya, gejolak pemikiran dan kehidupan adalah efek dari diskursus. Selebihnya mesin ampas hanya menghancurkan dirinya sendiri. Segera kita meninggalkan mesin ampas yang berhubungan dengan produksi gagasan dan produksi hasrat menerobos dialektika selama ada sistem tanda yang dibangun oleh para pekerja sosial dan pekerja intelektual. Cara pertama memutuskan pemikiran dialektis yang dibangun dalam hubungan eksploitasi simbolik antara Tuan dan Budak, Universal dan Partikuler, Kapitalis dan Buruh, Buruh dan Modal. Segalanya adalah arus bolak-balik, pada suatu hitungan perubahan terus-menerus, dimana pergerakan massa kritis bukan lagi bagian dari “dialektika”, melainkan “sumbu pengulangan” (Deleuzean). Dari prinsip pengulangan berlangsung secara acak dan sintesa asimetris bercirikan (i) alur peristiwa pengulangan berarti tidak datang kembali pada kita, tetapi kemampuan bermetamorfosis dari satu poros ke poros baru dalam kehidupan; dan (ii) pengulangan yang terjadi dalam produksi sosial melalui bio-mesin (imajinasi, ilusi, ingatan, mimpi, dan hasrat) seperti kebijakan mengenai kenaikan upah.

Tuntutan kenaikan upah diselingi dengan berpasang-surutnya indeks biaya hidup dan dinetralisir oleh gengsi, status, kenikmatan, dan hasrat seperti kecenderungan banyak orang bekerja dalam dunia material terjatuh dalam kehampaan. Proses kerja sebagai modal yang dialamiahkan melalui tubuh virtual: internet, belanja online dan sebagainya. Modal tidak lagi sebagai wujud mistik akibat modal menjadi tubuh yang mati. Tetapi, proses menjadi dari kaum pekerja menghadapi “patafisika”, yaitu fakta-fakta kebenaran dilihat secara kasat mata, didengar, dicium, dan dirasakan atas peristiwa kemiskinan, perubahan iklim, korupsi, dan terorisme sama merangsangnya dengan pornografi. Modal dan hasrat sebagai mesin mistik menghubungkan dengan tubuh untuk mengalihkan patafisika melalui fantasi birahi.

Sementara itu, akumulasi modal dan akumulasi produksi adalah akumulasi peristiwa. Rangkaian peristiwa perlawanan yang tersalurkan berlangsung tanpa terkapilerisasi, tetapi berlangsung dalam rezim diskursus melampaui ‘akhir dari produksi sosial dan seksual’. Tidak terpusat dan saling mendominasi dalam pemikiran. Seseorang yang berada dalam produksi sosial, berarti juga berada dalam produksi hasrat. Akumulasi kebenaran dari dialektika menghilang dalam kekuatan perjuangan kelasnya. Pada kenyataannya, seringkali terjadi arus produksi hasrat lebih kuat dibandingkan arus produksi modal. Satu hal juga yang berbeda untuk digambarkan, bahwa pada saat terjadi transformasi pekerja profesional diantara relawan, wiraswasta, peneliti, artis, dan sebagainya ditandai dengan “hasrat untuk berubah” menuju ekonomi libido merasuki seseorang agar keluar dari konsep kelas.

Namun demikian, alur pergerakan modal sebagai mistifikasi hasrat yang dipisahkan dari kerja mesin berhubungan dengan produksi ketidaksadaran muncul dan bergerak di sekitar kita, tanpa konsep kelas. Sejauh ini, konsep hasrat sebagai mesin dalam peristiwa. Lain halnya, “proses deproletarisasi” berhubungan dengan pekerja intelektual mempunyai petualangan aneh bagi buku dan modal tatkala melihat tubuhnya ternyata di atas gundukan kuburan tanda massa  yang tidak kritis, sehingga mereka dapat digoda dan dibelokkan dari tujuan awal melalui titik tolak perjuangannya. Dapat dikatakan, bahwa kesadaran tidak bisa dipisahkan dengan ilusi kebebasan memenuhi perjuangan kelas pekerja menggiring dirinya  dalam “dialektika melawan materialisme” dan “obyektivitas ilmiah melawan obyektivitas ilmiah” diantara wilayah auto-produksi ketidaksadaran tiba-tiba menjadi bukti disaat hasrat dan mesin sebagai kesatuan melampaui mekanisme dan vitalisme kerja.

Kita juga dapat mengetahui, bahwa perjuangan kelas buruh bergeser dan berganti menjadi gerakan sosial baru (Laclauan-Mouffean), yaitu gerakan ekologis sebagaimana ditunjukkan Green Peace, Go-Green, “Ekonomi Hijau-Biru” dan bentuk gerakan lainnya seperti anti-globalisasi dan eko-feminisme menderitualisasi susunan monopoli penempatan tenaga kerja ke luar negeri, kecuali mimpi buruh menjadi pengusaha.

Setiap jalinan auto-produksi ketidaksadaran revolusioner tidak lebih sebagai teknik penanaman secara mekanis dan sosial akan menjadi bagian dari aparatur kesenangan atau hasrat untuk berkuasa melebihi kritik ekonomi politik dan akhir “sistem penanda kapitalis yang sosialis” atau “sosialis yang kapitalis”. Pada saat segalanya menuju dunia virtual, kita menemukan pertukaran tanda ekonomi bukan lagi menjadi bagian dari pembentukan nilai tukar dan nilai guna atau nilai surplus secara dialektikal, tetapi permainan, pengulangan dan sirkulasi terus-menerus atau tanda kebalikan dari kelahiran dan kematian yang dibentuk logika bio-mesin, meliputi hasrat, ingatan, mimpi, khayalan, gagasan, modal, visi, dan citra.  Ketidaksadaran dan hal-hal tidak terorganisasi di luar bio-mesin tersebut bukan lagi sebagai susunan yang memusat, tetapi energi yang menyebar kemana-mana.

*) ASN Bappeda/ Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jeneponto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Hilman Latief: Lazismu, Nuzulul Quran dan Kepercayaan Bupati Bajo

Bajo-IBTimes.ID-Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, kali ini berkesempatan mengadakan lawatan ke Wajo Sulawesi Selatan. Hilman berangkat dari Yogyakarta pukul 22.00 WIB dan...

Yunahar Ilyas: 10 Karakter Orang Muhammadiyah

Surakarta-IBTimes.ID-Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta kali ini berkesempatan mendatangkan Prof. DR. Yunahar Ilyas sebagai pembicara dalam acara Refreshing Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta bertema...

Genealogi Sekuler Menurut Talal Asad

Oleh : Muhammad Rofiq*   Talal Asad mengamati bahwa teori-teori sekulerisasi selama ini umumnya berbicara tentang tiga hal, yaitu: fenomena kemunduran agama, privatisasi agama dari ruang...

Media Islam dan Patriarki: Dominasi Laki-laki Atas Perempuan

Oleh: Anisa Kurniarahman* Ketika berbicara mengenai saluran media Islam, tentu benak kita akan melayang pada ribuan konteks ceramah para Da’i dan ratusan postingan meme Islami...

Memahami Seruan Bapak Haedar Nashir

Oleh: A.S. Rosyid Pada hari Minggu (20/05, 17:43 Wib), akun Facebook Website Sang Pencerah mengunggah pernyataan Bapak Haedar Nashir, sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang...