Siti Chamamah Soeratno: Srikandi Budaya yang Teguh dan Ulet - IBTimes.ID
Inspiring

Siti Chamamah Soeratno: Srikandi Budaya yang Teguh dan Ulet

4 Mins read


Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno adalah tokoh Aisyiyah yang dikenal memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena sosial-budaya masyarakat di sekitarnya. Dalam pandangannya, seorang pemimpin hendaknya memiliki kecerdasan, keuletan, dan kegigihan dalam mengayomi masyarakat dipimpin.

Mengutip perkataan Emha Ainun Najib, Chamamah adalah simbol ketidakjumudan. Siti  Chamamah memang merupakan pakar kesusastraan Melayu dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memiliki pemikiran yang sangat terbuka. Ia sangat lentur dalam bergaul, dan lebih dari itu, senantiasa menginspirasi masyarakat agar sadar akan kebutuhan manusia terhadap kebudayaan dan lingkungan sekitar.

Siti Chamamah Soeratno: Pakar Filologi

Selain mengajar di UGM, ia juga mengajar di UIN Sunan Kalijaga, UNY, IAIN Walisongo Semarang, dan Pascasarjana Ilmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang. Selain itu, Prof. Chamamah juga ditunjuk sebagai external examiner untuk calon doktor dalam Ilmu Budaya di Universitas Malaya dan calon Guru Besar di Universitas Kebangsaan, Malaysia.

Nama Chamamah Soeratno sudah tidak asing lagi dalam dunia akademik. Keuletannya dalam belajar dan menuntut ilmu menjadikannya seorang pakar filologi. Sebagai dosen di UGM, khususnya di Fakultas Ilmu Budaya dan Program Pascasarjana (Kajian Amerika, Timur Tengah dan ICRS) dirinya mengampu mata kuliah Filologi, Ilmu dan Teori Sastra, Ekranisasi, Resepsi, Budaya Sastra, Teori Teks, Teori Interpretasi, Feminisme, dan Metode Penelitian Ilmiah.

Filologi banyak mengungkap khazanah ruhaniah warisan nenek moyang, misalnya adat istiadat kesenian dan lainnya. Melalui pembacaan naskah-naskah lama banyak djumpai penyebutan atau pemberitahuan adanya unsur budaya yang sekarang telah punah.

Siti Chamamah Soeratno dapat menjadi contoh dan teladan generasi muda dalam belajar sastra dan naskah kuno. Generasi muda dapat mumbuka wawasannya dan belajar sejarah bangsa-bangsa lain melalui ilmu sastra, baik sastra lama, sastra baru, sastra daerah, maupun sastra transformasi. Pergeseran nilai-nilai di masyarakat yang ada dapat menjadi pembelajaran.

Baca Juga  Haji Fakhruddin: Kader Kiri Kiai Dahlan yang Memilih Muhammadiyah

Seorang profesor dari Universitas Kebangsaan Malaysia pun menilai Chamamah merupakan sosok yang banyak berkiprah dan berjasa bagi perkembangan sastra Melayu maupun sastra Indonesia. Beliau sangat  berjasa dan mampu mengangkat sastra Melayu dan sastra Indonesia.

Mendobrak Budaya

Kepedulian Prof. Chamamah Soeratno terhadap nilai-nilai untuk peradaban sangat konkret. Tidak sekadar berwacana, akan tetapi juga melakukan aksi nyata. Beliau dikenal galak dan berani mendobrak kebuntuan budaya dan gejala kemunkaran budaya yang dipancarkan oleh media, khususnya televisi patut mendapat apresiasi.

Pada masa Siti Chamamah menjadi ketua umum, ‘Aisyiyah mengampanyekan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu, untuk tidak menonton sinetron yang tidak mendidik. Kegiatan ini merupakan perwujudan dari kepeduliannya terhadap masalah budaya negeri ini. Chamamah terus menghimbau agar masyarakat melek media.

Di situlah merupakan bukti bahwa kepedulian dan keberanian perlu berjalan bersamaan. Itulah kemampuan dan energi positif yang dimiliki Prof Chamamah Soeratno bersama ‘Aisyiyah. Sejajar dengan keberanian dan kemampuannya menjelajah teks-teks di masa lampau, seperti saat beliau meneliti dan membedah teks Hikayat Iskandar Zulkarnain.

Chamamah memimpin ‘Aisyiyah dalam konstelasi kehidupan keummatan dan kebangsaan. Ia sangat adapatif sehingga mampu membawa ‘Aisyiyah dalam kehidupan sesuai tuntutan zaman.

Motto hidupnya mengadopsi ilmu dari air. Air itu pantang menyerah, mengalir terus tanpa berhenti, dan pantang menghadapi jalan buntu. Sehingga, dalam usaha memajukan peradaban budaya dan keumatan ini Chamamah memiliki usaha dan etos kerja yang tinggi.

Pendidikan, Karir, dan Kiprah Siti Chamamah Soeratno

Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Putri kedua dari pasangan K.H. Hanad Noor dan Hj. Juhariah. Memulai pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ngupasan. Kemudian melanjutkan ke SMP Putri Muhammadiyah (SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta).

Baca Juga  Jejak Haedar Nashir, Mengawal Moderasi Indonesia

Pada saat akan memasuki Sekolah Lanjutan Atas, ayahnya  mendirikan sekolah yang bernama Sekolah Menengah Atas Agama dan Chamamah sekolah di sana. Dari pendidikan di sekolah itulah diperoleh kemampuan Chamamah berbahasa Arab, membaca kitab-kitab kuning, pemahaman tentang integralnya ilmu-ilmu kehidupan.

Chamamah kemudian diterima di UGM dengan Fakultas Sastra dan Kebudayaan menjadi pilihannya. Setelah menyelesaikan Bakalauret (1963), Chamamah diangkat menjadi asisten dosen di almamaternya, tugasnya menjadi asisten perkuliahan Prof. Soemadi Soemowidagdo untuk bahasa Arab dan Islamologi di Fakultasnya dan juga IKIP Negeri Yogyakarta (saat ini Universitas Negeri Yogyakarta).

Setelah menamatkan S1 tahun 1967, ia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra UGM. Setelah meraih gelar kesarjanaannya, Chamamah meraih S2 di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociale, Paris, Prancis (1975). Di Prancis ini Chamamah memperdalam bahasa Arab dan Prancis di Universitas Paris III, sehingga ia menguasai bahasa Inggris, Prancis, Arab, Jerman dan Belanda.

Pada tahun 1988, Chamamah meraih gelar doktor Ilmu Sastra dari UGM, dengan disertasi: Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks dan Analisis Resepsi, dengan predikat Cum Laude. Mengikuti pendidikan penelitian di Belanda (1983-1984, 1987- 1988) dan di Inggris (1984-1988). Tahun 1993, ia ditetapkan sebagai Guru Besar Ilmu Budaya UGM.

Siti Chamamah Soeratno adalah Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah pertama pada tahun 1965-1968. Tahun 1968, ia masuk jajaran Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Jabatan yang pernah dipegangnya di Aisyiyah adalah bendahara, sekretaris dan wakil Ketua. Setelah itu Chamamah menjadi  Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (2000-2010).

Beliau adalah anggota Dewan Pakar ICMI Yogyakarta (1994), Ketua Divisi Kebudayaan ICMI (1994-1999). Chamamah juga pernah menjabat Pimpinan di Perusahaan majalah Suara Aisyiyah (1966-sekarang). Bersama sahabat karibnya, Prof. Dra. Hj. Siti Baroroh Baried, Chamamah Soeratno termasuk dari 7 orang profesor yang berasal dari Kauman.

Baca Juga  Pak Busyro, Muadzin Hak Asasi Manusia, Antikorupsi dan Lingkungan Hidup

Peran di Dunia Internasional

Chamamah tercatat sebagai anggota organisasi baik nasional maupun internasional, seperti World Conference on Religion and Peace (WCRP) dan International Conference on Religion and Peace (ICRP). Pada organisasi Perempuan Islam Internasional, seperti International Moslem Women Union (IMWU) periode 2007-2010, sebagai salah satu ketuanya.

Sewaktu menjadi Sekretaris MWA UGM (2006) Chamamah diundang oleh Presiden Amerika Serikat untuk menyampaikan infromasi kepada sidang PBB tentang pelaksanaan program pendidikan di Indonesia, kaitannya dengan satu dari delapan program MDGs.

Berbagai karya beliau hasil di antaranya: Kharisma Tokoh Indonesia Lama dan Masalah-Masalahnya (1981), Pengantar Teori Filologi (1985), Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi (1991), Variasi sebagai Bentuk Kreativitas Pengarang Kedua dalam Dunia Sastra Melayu Hikayat Banjar (1994), Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta II (2001), Kraton Jogja: The History and Culture Heritage (2004), Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual Yang Terlupakan (2009).

Editor: Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
Fauziah Mona Atalina
6 posts

About author
Pemimpin Redaksi Rahma.ID, Anggota Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Departemen KOMINMAS (2016-sekarang)
Articles
Related posts
Inspiring

Siti Munjiyah, Perempuan Aisyiyah yang Menjadi Aktor CPPA dan Kongres Perempuan Pertama

3 Mins read
Pada awal abad ke-20, kasus prostitusi dan perdagangan anak pernah mencuat ke publik. Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang prihatin menggalang kekuatan dari…
Inspiring

Jejak Haji Agus Salim di Muhammadiyah

5 Mins read
Nama kecilnya Mashudul Haq (pembela kebenaran). Ia dilahirkan dan tumbuh dari serpihan surga yang turun ke bumi, tepatnya Bukit Tinggi. Di Bukit…
Inspiring

Irfan Amalee Bersama Peacegen, Menyebarkan Damai dengan Cara Kreatif

4 Mins read
Irfan Amalee lahir di Bandung pada 28 Februari 1977. Di sana, Irfan kecil bertetangga dengan orang berlatar belakang Tionghoa, Flores, Batak, dan…

Tinggalkan Balasan