Siti Walidah, Pionir Keberaksaraan Perempuan Berkemajuan

 Siti Walidah, Pionir Keberaksaraan Perempuan Berkemajuan Ilustrasi. Sumber: Republika            

Oleh: Risma Ariesta

Fenomena ketidakberaksaraan khususnya bagi para perempuan di masa penjajahan kala itu memang tengah merajalela. Lebih dari itu, rakyat Indonesia utamanya umat Islam juga turut dihadapkan pada berbagai masalah seperti ketertindasan, keterbelakangan, dan lain sebagainya. Ketertinggalan di bidang pendidikan menempatkan kaum perempuan pada kelas dua. Artinya, hanya kaum laki-laki saja yang boleh mengenyam pendidikan saat itu. Selain itu, kebebasan perempuan masih dibatasi karena kaum perempuan dipandang sebelah mata, sehingga dibelenggu hak-haknya. Tidak adilnya peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintahan Belanda kala itu juga turut mempersempit ruang gerak kaum perempuan.

Peran Siti Walidah dalam Memperjuangkan Kaumnya

Berangkat dari hal-hal tersebut di atas, Siti Walidah mulai tergerak untuk melakukan perubahan, mendobrak kewajaran. Sebagai salah satu cara untuk turut mendukung dakwah dan gerakan Muhammadiyah yang didirikan suaminya, Ahmad Dahlan. Walidah merintis beberapa wadah pengajian untuk ibu-ibu dan perempuan muda seperti Wal ‘Ashri, yang dilaksanakan sesudah salat Asar, Maghribi School, gerakan mengaji setelah salat Magrib, dan Sopo Tresno (Siapa Cinta).

Awalnya, Sopo Tresno merupakan suatu wadah pengajian serta berkumpulnya kaum perempuan sejak 1914, dua tahun setelah pembentukan Muhammadiyah. Namun seiring berjalannya waktu, Sopo Tresno akhirnya diubah menjadi sebuah organisasi dan berganti nama menjadi ‘Aisyiyah pada 28 Jumadil Akhir 1335 H atau bertepatan dengan Sabtu Legi, 21 April 1917.

Selanjutnya, organisasi ‘Aisyiyah menjadi bagian dari Muhammadiyah yang terus menggaungkan dakwah ke seantero nusantara. Bahkan, saat ini ‘Aisyiyah menjadi salah satu organisasi perempuan muslim terbesar dengan mengusung program kerja yang tak pernah lepas dari akarnya, yakni mengangkat derajat kaum perempuan agar bermanfaat untuk masyarakat umum.

***

Siti Walidah menjadi pelopor supaya kaum perempuan mendapatkan hak dasar di bidang pendidikan, utamanya agar mereka terbebas dari tunaaksara. Maka dari itu, Walidah menginisiasi gerakan literasi untuk semua masyarakat. Selain itu, dibuat pula gerakan kebudayaan agar kaum perempuan menjadi kreatif, dinamis, dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Baca Juga  Daniel: Dari Mimpi Yang Ditertawakan Hingga Membanggakan

Tidak hanya itu, rakyat juga diajak bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja dengan memaksimalkan potensi titipan Tuhan. Keteladanan dalam berwiraswasta dan menciptakan usaha-usaha kreatif juga dilakukan oleh Siti Walidah dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangga masing-masing. Tak lupa, Siti Walidah juga meningkatkan dakwah kepada sesama kaum muslimin untuk mengajak berbuat baik. Dakwah bisa dilakukan dengan ucapan, tulisan, dan perbuatan. Menurut pandangan Walidah, kegiatan dakwah harusnya mampu memberikan kontribusi atau solusi untuk berbagai permasalahan utamanya untuk memperbaiki kondisi masyarakat.

Konsep Pendidikan Perempuan Siti Walidah

Menurut Lilis, (2018) posisi wanita sangat penting untuk melanjutkan generasi Islami dan memiliki nilai strategis guna melanjutkan keberlangsungan sebuah bangsa. Sebab, segalanya bermula dari didikan sang ibu. Negara akan kuat apabila kaum wanitanya cerdas dan terampil. Cerdas dalam mendidik keluarga, terampil dalam mengurus keluarga, dan cerdas memberikan keteladanan bagi putra-putrinya.

Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Siti Walidah yang ingin mengentaskan kaum perempuan dari belenggu kebodohan. Lebih dari itu, Siti Walidah mampu menyesuaikan dengan pemikiran suaminya dalam pendidikan Islam modern. Dalam hal ini, Walidah mencetuskan konsep pendidikan untuk perempuan yang dimulai dengan mendidik kader-kader muda bangsa melalui media penyelenggara internaat (pondok) khusus bagi anak perempuan. (Dian, 2017: 12)

Awalnya, terdapat banyak penolakan di masyarakat terkait pemikiran Siti Walidah yang menginginkan adanya persamaan antara kaum laki-laki dan perempuan. Karena posisi perempuan pada masa itu memang masih dipandang sebelah mata. Bahkan, konstruksi sosial menempatkan perempuan sebagai kaum proletar, sedangkan laki-laki dipandang sebagai kaum borjuis. Berangkat dari permasalahan tersebut, Siti Walidah sebagai sosok Kartini milik Muhammadiyah ini berjuang untuk mengangkat martabat kaum perempuan. Karena pada hakikatnya, derajat perempuan dan laki-laki adalah sama di hadapan Allah SWT.

Baca Juga  Tafsir Kasman Singodimedjo tentang Perempuan dalam Islam

***

Bagi Siti Walidah, pendidikan untuk perempuan merupakan urgensi yang harus segera diwujudkan guna mencapai cita-cita kemerdekaan dari penjajah. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa semangat dalam mendakwahkan Islam ternyata mampu mendorong kemajuan wanita. Hingga pada akhirnya, pemikiran Siti Walidah ini dapat diterima dan menyadarkan kaum perempuan tentang arti penting pendidikan sebagai senjata untuk melawan penjajah.

Lebih dari itu, Siti Walidah bersama suaminya, Ahmad Dahlan melalui organisasi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah pun meletakkan nilai-nilai pendidikan Islam modern. Sehingga, kiprah dua organisasi yang dikenal sebagai pembaharu dalam Islam yang mulai mengakar di masyarakat itu turut memajukan dunia pendidikan khusunya bagi perempuan. Selain itu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga merespon isu-isu perempuan sekaligus memberdayakan melalui jalur pendidikan dan pelayanan sosial. Hal tersebut kini tercermin dalam berbagai lembaga AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) yang telah tersebar ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Meneladani Siti Walidah sebagai Ibu Bangsa

Anis Matta dalam bukunya, Mencari Pahlawan Indonesia (2006), menyatakan bahwa pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Demikian pula yang pernah dikatakan oleh Jenderal Soedirman, bahwa Siti Walidah adalah seorang ibu serta ibu dari warga Muhammadiyah. Namun tidak berlebihan juga jika kita menyebut sosoknya sebagai ibu bagi seluruh bangsa Indonesia karena jasanya yang besar terhadap kemerdekaan. Selain itu, semangat serta perjuangannya melalui organisasi ‘Aisyiyah yang didirikannya serta Muhammadiyah yang didirikan suaminya bukan hanya bagi umat Islam saja, tapi juga seluruh rakyat Indonesia. Berbagai latar belakang keberagaman suku bangsa, ras, dan agama bukan lagi menjadi penghalang untuk terwujudnya persatuan dan kesatuan seluruh Nusantara.

Baca Juga  Pelajaran Apa Yang Bisa Dipetik Untuk Sarjana Indonesia dari Sejarahwan Merle Ricklefs?

***

Namun pada akhirnya, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional yang diberikan pemerintah rasanya tidak cukup untuk membalas jasa Siti Walidah, sebagai pionir keberaksaraan perempuan berkemajuan sekarang ini. Gelar kepahlawanan bagi seorang pahlawan sejati bukanlah puncak dari segala perjuangan mereka selama ini. Karena tanda jasa tersebut tidak akan sebanding jika ridho Allah yang menjadi tujuan utamanya.

Menjelang milad ke-107 Tahun Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, meneladani perjuangan pendiri organisasi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah, menjadi suatu hal yang wajib dilakukan oleh generasi muda. Melanjutkan perjuangan dalam mengamalkan agama Islam baik terkait dengan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah kini menjadi tugas kita bersama sebagai pemegang tongkat estafet perjuangan.

Keteladanan serta semangat Siti Walidah dalam bidang pendidikan dan literasi untuk perempuan, seharusnya menjadi titik balik bagi para generasi muda agar lebih giat dalam belajar serta membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. Sebab, negara yang maju dimulai dari kebangkitan pemudanya.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *