Muhammadiyah, Peran Kebangsaan Melintasi Zaman

 Muhammadiyah, Peran Kebangsaan Melintasi Zaman

Ilustrasi. Sumber: Saadaja.com

Oleh: Eko Triyanto

Saya mengetahui betapa besar artinya Muhammadiyah dalam kehidupan rohani bangsa kita, dan pula kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. Saya mengenal Muhammadiyah dari dekat, bahkan buat beberapa tahun juga dari dalam. Karena itu saya dengan sungguh-sungguh mendoa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa moga-moga Ia senantiasa memberkati dan memberi taufiq hidayat kepada Muhammadiyah, agar supaya Muhammadiyah tetap menduduki arti-penting dalam kehidupan kerohanian bangsa kita itu, dan menjadi salah satu penyumbang tenaga yang penting dalam pembangunan negara kita dan masyarakat. Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah!” _ Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia_

Tulisan tersebut merupakan isi surat yang dikirimkan Presiden Soekarno kepada PB Muhammadiyah tertanggal 7 Juli 1953. Bagi Soekarno, Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang asing. Tercermin dalam tulisan itu, bahkan untuk beberapa lama ia berada di dalamnya. Fatmawati, istri Soekarno yang berasal dari Bengkulu merupakan putri dari tokoh Muhammadiyah. Demikian pula, Soekarno pernah dekat dengan tokoh Muhamamdiyah, HAMKA.

Fatmawati yang lahir di Bengkulu 5 Februari 1923 dan wafat pada 14 Mei 1980 tercatat sebagai aktivis ‘Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiah. Dalam HUT Fatmawati ke 96 yang digelar di Jakarta 5 Februari 2019 lalu, diungkapkan saat menjahit bendera Merah Putih yang akan dikibarkan dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Fatmawati menyenandungkan Kumandang Nasyiah. Ini merupakan kumpulan lagu-lagu yang dikarang komponis-komponis Muhammadiyah yang dihimpun oleh Taman ‘Aisyiah.

Peran Muhammadiyah

Tidak bisa dipungkiri, Muhammadiyah memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sebelum sumpah pemuda 1928, Muhammadiyah telah mempelopori penggunaan Bahasa Melayu, cikal bakal Bahasa Indonesia sebagai bahasa organisasi. Pada kongres 1923, Muhammadiyah secara resmi telah menggunakan Bahasa Indonesia. Pada 1918 Muhammadiyah membentuk kepanduan Hizbhul Wathan, yang bermakna pembela tanah air. Di antara kader terbaik Hizbul Wathan ialah Jenderal Sudirman yang didaulat sebagai Panglima Besar dan dijuluki Bapak Tentara Nasional Indonesia.

Di era pasca proklamasi kemerdekaan, kader-kader Muhammadiyah terus berperan dalam kebangsaan. Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimejo dan KH. Abdul Kahar Muzakkir turut merumuskan UUD 1945 serta Pancasila sebagai dasar Negara. Terdapat pula Ir. Juanda Perdana Menteri ke 10 (1957-1959), dan empat kali menjadi menteri di zaman Presiden Soekarno, yakni Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Perhubungan.

Di antara buah dari peran kebangsaan Ir Juanda yang hingga kini terasakan ialah tercetusnya Deklarasi Djoeanda pada 1957. Dalam deklarasi itu ditegaskan bahwa laut sekitar, di antara dan dalam kepalauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Waktu itu, wilayah Indonesia dipecah-pecah dan laut dianggap terpisah. Dalam negosiasi berikutnya, deklarasi tersebut menjadi acuan diakuinya Negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS). Kemudian menjadi Hukum Laut Internasional yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diperjuangkan pada masa Menteri Luar Negeri Mochtar Koesoemaatmadja pada 1982.

***

Apakah Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam peran kebangsaannya hanya menempuh jalan diplomasi? Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia dengan menggandeng NICA. Mereka mendarat di Semarang dan bermaksud meluaskan kekuasaan ke arah selatan. Para pejuang dari daerah dikerahkan untuk membendung pergerakan NICA, di antara yang turut berjuang di medan peperangan adalah pasukan Hizbullah Yogyakarta.

Menurut Sejarawan, Ahmad Adaby Darban, pasukan Hizbullah bertempur melawan NICA di daerah Srondol Semarang. Belanda mengerahkan pasukan artileri dibantu pesawat tempur, sehingga memaksa pasukan Hizbullah mundur ke Banyumanik. Dalam pertempuran di Srondol pada 4 Juli 1946 beberapa pejuang Hizbullah gugur. Satu di antaranya yakni Ahmad Dahlan, cucu dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Namnya sama dengan nama sang Kakek. Silsilah lengkapnya ialah Ahmad Dahlan putra Siti Aisyah, putri dari KH Ahmad Dahlan.

Selain Ahmad Dahlan bin Hilal ada pula Hajid bin Jalil. Keduanya dimakamkan di pemakaman Syuhada Yogyakarta, yang kini satu komplek dengan Masjid Syuhada di Kotabaru. Untuk mengenang perjuangan keduanya, serta para pejuang dari Kauman, dibangun Monumen Syuhada Fisabilillah yang mencantumkan nama-nama pejuang dari Kauman yang gugur dalam rentang tahun 1945-1949.

***

Terlihat bahwa Kiai Ahmad Dahlan bersama Muhammadiyah dan kadernya, tidak hanya berkeinginan memajukan Islam dengan melakukan pembaharuan (tajdid) tetapi juga aktif berperan dalam tugas-tugas kebangsaan. Tidak hanya memberikan sumbangsih pemikiran melainkan juga terjun langsung ke medan peperangan menentang segala bentuk penjajahan.

Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial membatasi akses pendidikan bagi pribumi, hanya golongan tertentu yang boleh sekolah sehingga masyarakat tetap dalam kebodohan dan kemiskinan. Pada masa lahirnya Muhammadiyah, dakwah Kiai Ahmad Dahlan mendapat tantangan dari tiga penjuru sekaligus. Prof. Abdul Munir Mulkhan mencatat tiga tantangan yang dihadapi saat itu yakni modernisme, tradisionalisme, dan Jawaisme.

Kiai Ahmad Dahlan dengan keluasan wawasan dan keluwesan dalam pergaulan membuatnya memiliki pandangan terbuka. Menjawab modernisme, ia menghadirkan sekolah bercirikan modern meski sempat mendapat penentangan. Selain itu juga membentuk kepanduan hizbul wathan, serta mengajarkan ilmu umum seperti bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi, ilmu hayat dan baca tulis huruf latin.

***

Dari segi metode, Kiai Ahmad Dahlan mengenalkan sistem klasikal. Pembelajaran dengan menggunakan meja dan bangku (kursi memanjang yang bisa digunakan lebih dari satu orang). Padahal lazimnya, saat itu pembelajaran banyak menggunakan cara pesantren dengan Sorogan, Bandongan atau Wetonan. Santri duduk melingkari guru, atau dengan lesehan tanpa meja dan bangku.

Karena meniru cara barat dalam mengajar, seorang Kiai dari Magelang datang kepada Kiai Ahmad Dahlan dan memberi kritik tajam. Bahkan karena perkakas yang digunakan untuk pengajaran mirip yang digunakan oleh orang kafir, Kiai Ahmad Dahlan disebut sebagai Kiai Kafir. Di kemudian hari, model sekolah modern di Indonesia yang dipelopori Kiai Ahmad Dahlan umum digunakan oleh sekolah-sekolah saat ini.

Untuk mengubah kalangan tradisonalisme, Kiai Ahmad Dahlan menerapkan cara tabligh dengan mendatangi langsung para murid dan jamaah. Pada masa itu, mayoritas guru ngaji atau Kiai didatangi oleh para santri tidak sebaliknya. Padahal dengan kapasitasnya, Kiai Ahmad Dahlan yang pernah belajar langsung dengan ulama-ulama di Makkah, sebagai khatib Masjid Besar Kauman dan anggota pengadilan agama Kasultanan Yogyakarta, sangat layak untuk menjadi guru yang didatangi murid.

Jutaan orang telah merasakan manfaat kehadiran Muhammadiyah. Mereka mendapatkan pengajaran dari sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Berobat di Rumah Sakit dan balai pengobatan Muhammadiyah. Memperoleh pendampingan dan pemberdayaan dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM). Merasakan bantuan LazisMu dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang aktif membantu daerah bencana. Dan beragam amal nyata Muhammadiyah yang hadir di tengah masyarakat. Meski demikian, boleh jadi mereka tidak mengenal sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan dengan berbagai peran yang ditorehkannya.

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *