Spiritualitas “Mekanik” di Era Industrialisasi - IBTimes.ID
Akhlak

Spiritualitas “Mekanik” di Era Industrialisasi

8 Mins read

Era modrenitas dan industrialisasi terkadang sangat “mekanik”. Pola-pola beragama mengikuti tren zaman yang meliputinya. Training spiritualitas diminati karena dianggap mampu mencerahkan batin peserta dengan disodorkan “pernak-pernik” alat teknologi yang canggih.  Program yang disesuaikan dengan pola pendidikan pedagogik, mentoring, dan bazar produk. Zikir berjamaah terlihat khusyuk karena diliput media. Isak tangis berlahan-lahan memenuhi ruangan karena sang ustadz/ustadzah (motivator) mampu “mendramatisasi” kesahduan tafakur dengan suara yang dibuat menyentuh batin para jamaah. Doa bersama terasa mantap karena ustadz/ustadzah mampu “mempuitisasi” doa yang sesuai dengan hajat jamaah yang mengamininya. Dan, sosok ustadz/ustadzah pun “terjebak” pada “dagangan” media era industri, yakni manusia massa, yang merupakan gabungan dari budaya populer, spiritual, hiburan, dan reting yang tinggi.

Gelar Kiyai/Nyai, Ustadz/Ustadzah, Mubaligh/Mubalighah, Anjengan, Tuan Guru, Buya, Tengku, Teungku, dan gelar kehormatan ulama lainnya yang disematkan masyarakat atau umat dahulunya pada sosok yang dapat diteladani kata dan perbuatannya. Justru tergerus budaya populer era industri. Sosok ulama yang memiliki reting tertinggi (ustadz/ustadzah seleb) selalu dijadikan “referensi” oleh media massa, apabila ada masalah agama dan peristiwa-peristiwa yang dibutuhkan komentar sang tokoh bergaya seleb untuk media publik.

Ketersimaan masyarakat (pemirsa) pada sosok ustadz/ustadzah selebritis dikarenakan rekayasa media massa yang mengekspos prikehidupan sang ustadz/ustadzah pada berbagai acara yang bernuansa infotraimant. Sehingga kelas dan tarif ustadz/ustadzah di atur media massa. Dan, apabila sang ustadz/ustadzah selebritis di undang ke daerah-daerah yang jauh dari Jakarta tarifnya di atas 20 juta; di luar akomodasi, kosumsi, dan transportasi.

Tarif yang fantastis itu tentu tidak berbanding lurus dengan da’i-da’i desa dan dusun yang bahkan tidak mendapat penghargaan apa-apa dari masyarakat tapi mereka istiqamah menyebarkan dakwah Islam di masyarakat terluar, terjauh, dan terdalam. Serta, tanpa diliput media massa nasional dan daerah. Inilah ironi keberagamaan di era industrialisasi saat ini.

Menemui Tuhan yang Hilang di Era Kelimpahan

Sebuah hal yang lumrah, apabila di era kelimpahan ini berkembangnya seni dan budaya, baik yang datang dari luar negeri maupun yang berkembang di dalam negara republik Indonesia sendiri; baik yang menggunakan simbol agama maupun yang naturalistik/kultural, ataupun yang dikemas kembali (naturalisasi) dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan budaya Indonesia.

Mungkin dapat dipahami, apabila training spiritual, zikir berjamaah dan doa bersama menyesuaikan diri dengan pola industri, karena media membutuhkan program yang memiliki unsur “hiburan” bernuansa spiritualitas yang mampu mendapat ranking tinggi, mendapat pemasangan iklan yang banyak dari berbagai produk, dan supaya dianggap televisinya tidak sekuler, sebab menunjukkan “keberpihakan” programnya pada nilai agama (Islam). Apalagi saat Ramadhan, nilai spiritualitas dibungkus dengan nuansa hedonisme supaya pemirsa terpuaskan dahaga spiritualitasnya sekaligus mengumbar nafsu kesenangan duniawinya.

Sehingga dogma, doktrin, khutbah, ceramah, kultum, dan tausiyah hanya dijadikan “tempelan-tempelan” yang percikan spiritualitasnya sangat minim, karena terkadang ustadz/ustadzah terlalu monoton hingga kalah “saing” dengan bintang iklan yang penuh sensasi dan menggiurkan syahwat dengan tutur yang mendayu-dayu.

Dari kenyataan di ataslah, sebagai pengikut agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu bertanya, apakah sudah menemukan Tuhan yang dicari-cari melalui berbagai training, zikir jamaah, dan doa bersama? Atau kehadiran di majelis tersebut hanya mengikuti tren dan ingin diekspos oleh media massa? Atau hanya ingin rehat sejenak dari kesibukan duniawi dengan mencoba-coba mencari ketenangan dalam majelis tersebut? Hanya batin pemeluk dan pengikut agamalah yang dapat menjawab.

Untuk menemui Tuhan yang hilang di batin penganut agama dan kepercayaan pada Tuhan, maka sangat penting “meng-install” kembali batin dari kecenderungan-kecenderungan materialisme, hedonisme, glamorisme, dan sekulerisme yang ikut mengotori kemurnian peng-esa-an Tuhan (tauhid).

Baca Juga  Doa Ditolak? Introspeksi Dulu Yuk!

Jadi, beragama tidak cukup hanya sampai pada pengertian. Pengertian hanya terbatas pada definisi dan hafalan saja, sangat minim pelaksanaan. Ketercerahan spiritual akan didapatkan apabila penganut agama mampu naik ke level pemahaman esensial dalam peng-esa-an Tuhan.

Revitalisasi Makna Tauhid untuk Membentuk Kepribadian Rabbaniyah

Peng-esa-an Tuhan (tauhid) tidak cukup hanya sekedar mengagungkan nama-Nya dalam berbagai forum tapi minus dalam tindakan nyata, atau meneriakkan kebesaran-Nya tapi sambil melakukan tindakan yang meruntuhkan kebesaran nama-Nya. Di sinilah pentingnya revitalisasi makna tauhid dalam kehidupan nyata, supaya pribadi penganut agama tercerahkan dengan semangat peng-esa-an Tuhan dan memiliki kepribadian yang rabbaniyah.

Secara pengertian, Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa:

Tauhid ialah penetapan mempertuhankan kepada Allah dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya, tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak memberikan loyalitas kecuali hanya kepada-Nya, tidak akan kembali kecuali kepada-Nya, dan tidak beramal kecuali karena-Nya. Demikian pula menetapkan nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan kepada-Nya.

Bentuk pengabdian sebagai hamba-Nya bukanlah main-main, akan tetapi sangat totalitas. Karena peng-esa-an-Nya diwujudkan dalam ritus ibadah yang murni, ketawakalan yang sungguh-sungguh pada-Nya, loyalitas tanpa pamrih pada-Nya, kepasrahan penuh pada-Nya, pengabdian dengan amal full pada-Nya, dan penetapan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Totalitas peng-esa-an Tuhan dalam pengertian di atas, apabila dapat dimaknai dengan kedalaman spiritualitas, dipahami dengan kesadaran transedental, dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata, tentu tata kehidupan semakin harmonis, damai, dan sentosa.

Apabila dipahami lebih mendetil, maka peng-esa-an Tuhan terdiri empat, yakni: Pertama, Tauhid  Uluhiyah, yaitu: meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Komitmen tauhid uluhiyah ini menjadikan sang hamba meniadakan “tuhan-tuhan” yang diciptakan oleh budaya industrialisme, maupun gensi, kursi, dan materi yang diagungkan atau “diberhalakan” di era globalisasi saat ini. Untuk menjaga autentisitas makna tauhid, Allah mengingatkan hamba-Nya sebagai manusia-tauhid untuk tetap dalam kemurnian tauhid. Seperti firman-Nya:

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Baqarah {2}: 163).

***

Kedua, Tauhid Rububiyah, ialah meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan makhluk selain Allah. Pemahaman yang naturalistik dalam tauhid rububiyah ini diwujudkan, bahwa manusia-tauhid hanyalah sebagai mikrokosmos di tengah makrokosmos. Tuhan Yang Maha Esa sebagai jati diri loyalitas tunggal sang hamba-Nya, seperti firman-Nya:

 (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu (Q.S. Al-An’am {6}: 102).

Ketiga, Tauhid ‘Ubudiyah/’Ibadah wal isti’anah, yaitu meyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah dan dimintai pertolongan selain Allah. Komitmen peng-esa-an Tuhan sangat prinsip sekali, Tuhan hanya berhak disembah dan pada-Nya pertolongan diharapkan.

Totalitas pengkhidmatan pada Tuhan Yang Maha Esa juga berbanding lurus dengan berbakti pada kedua orang tua. Dalam kondisi dan situasi apapun, berbakti pada orang tua harus diwujudkan sebagai sang hamba yang meng-esa-kan Tuhan. Sebagaimana firman Allah yang menyatakan:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q.S. Al-Isra {17}: 23).

Begitu agungnya Kitab Suci (Al-Qur’an), bahwa mengucapkan kata “ah-ih-uh” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Keagungan Kitab Suci di atas menunjukkan bahwa peng-esa-an Tuhan harus diwujudkan pada dimensi kemanusiaan, yakni berbakti pada orang tua.

Baca Juga  Keimanan itu Harus Direalisasikan Dalam Kerja-Kerja Kemanusiaan!
***

Keempat, Tauhid Asma was shifat, yakni meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki segala nama dan sifat kesempurnaan, dan terlepas dari segala sifat kekurangan.

Esensi tauhid asma was shifat merupakan dimensi keagungan nama dan sifat-Nya (asmaul husna), apabila makna asmaul-husna dimanesfestasikan pada riil kehidupan sosial dan kemanusiaan tentu dunia akan aman dan damai. Karena alam jagad raya ini merupakan “citra” Ilahi, yang dengan “citra” Ilahi dalam wujud jagad raya ini Tuhan mendidik manusia untuk mengenal kebesaran-Nya.

Esensi makna peng-esa-an Tuhan, apabila dipahami secara mendalam maka melahirkan karakter rabbaniyah; yakni perpaduan antara ilmu, pengetahuan, dan etika-agama (akhlak) merupakan sosok insan takwa yang senantiasa menunjukkan keberpihakannya pada kemanusiaan.

Sosok pribadi rabbaniyah dijelaskan Al-Qur’an, yakni:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya (Q.S. Ali Imran {3}: 79).

Semangat sang hamba mencari jalan kebenaran Tuhan bukanlah mudah. Komitmen tauhid (mengesakan) Tuhan menjadi muara pencari kebenaran. Kemurnian tauhid serta komitmen dalam aplikasinya sepanjang hayat menjadi cerminan manusia-tauhid yang istiqamah pada Sang Maha Kebenaran. Kata rabbani  di atas merupakan cerminan sang manusia-tauhid yang telah mencapai kesempurnaan ilmu dan takwanya kepada Allah Swt.

Kepribadian rabbaniyah merupakan nilai karakter yang disemangati jiwa tauhid dengan kesadaran spiritual yang melintasi ruang dan waktu ke puncak (zenith) tertinggi keharibaanNya, bahwa Allah awal tempat “berlabuh” dan pada Allah jua tempat “bersauh.” Inilah subtansi dari firman Allah yang menyatakan:

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Q.S. Al-Baqarah {2}: 156).

***

Kalimat ayat di atas (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun) dinamakan kalimat istirjaa’ (pernyataan kembali kepada Allah). Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya manusia adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah manusia kembali. Esensinya bahwa semua makhluk ciptaan Allah adalah berasal dari Allah dan tujuannya adalah kembali kepada Allah.

Proses berjalan berjumpa (liqa’) Tuhan bukanlah mudah, banyak rintangan, tantangan, dan hambatan, maka terkadang harus menempuh jalan yang terjal, lumpur, maupun “duri-duri” kehidupan. Karenanya, komitmen dan loyalitas manusia-tauhid hanya pada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Di luar dari komitmen dan loyalitas kepada-Nya, berarti mengarah kepada yang “diberhalakan” (thaghut), bisa saja ambisi, materi, kursi maupun gensi. Untuk itulah, risalah para Nabi dan Rasul menjadi “referensi” dalam menapaki jalan kebenaran. Hal ini sesuai dengan spirit pesan “Langit” yang tertera dalan Kitab Suci, yakni:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (Q.S. An-Nahl {16}: 36).

Meraih kebenaran Tuhan melalui Kitab Suci tidak dapat dipahami dengan sendirinya. Akan tetapi, dibutuhkan petunjuk dari sang pembawa risalah  kebenaran, yakni Rasulullah Saw, Muhammad Saw. Sebab, setiap Nabi dan Rasul yang di utusan Tuhan Yang Maha Esa senatiasa membawa “berita” dan kabar kebenaran Tuhan. Dan tujuannya adalah memberikan peringatan kepada umat manusia yang diamanahkan Tuhan kepada mereka. Itulah esensi firman-Nya yang berbunyi:

Baca Juga  Etika Sosial Profetik Perayaan Idul Fitri

Orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk (Q.S. Ar-Ra’d {13}: 7).

***

Subtansi risalah yang dibawa para Nabi dan Rasul adalah kebenaran Tuhan; yakni mengajak manusia dan umat beragama untuk peng-esa-kan Tuhan. Baik pada doktrin agama maupun hukum-hukum Tuhan. Dengan dogma (tauhid) dan doktrin (Kitab Suci) sebagai peringatan, dengan hal itu, umat manusia dibimbing kepada jalan kebenaran Tuhan. Seperti firman-Nya yang berbunyi:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (Q.S. Fathir {35}: 24).

Yang dimaksud dengan kebenaran di atas adalah agama tauhid dengan komitmen dan loyalitas pada Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukumnya yang tertera dari firman-Nya dalam Kitab Suci.

Usaha yang keras untuk istiqamah pada jalan kebenaran, merupakan wujud komitmen peng-esa-an Tuhan dan loyalitas pada-Nya. Dan senantiasa merujuk pada risalah Rasul, yakni Kitab Suci serta sabda Rasulnya, termasuk berbakti pada orang tua (kemanusiaan). Aplikasinya adalah sejauhmana pengkhidmatan tersebut mampu terwujud dalam sisi sosial dan kemanusiaan universal. Sehingga manusia menjadi “wakil” Tuhan di bumi sebagai pemakmur bumi (khalifah), bukan pembuat kerusakan dan kezaliman. Sebab, manusia merupakan bagian dari “citra” Ilahi dalam dimensi ruh yang suci, yang dari-Nya berasal.

***

Dari ruh suci itulah, “miniatur” Tuhan yang berbentuk manusia dijadikan sempurna, apabila istiqamah pada komitmen peng-esa-an Tuhan dan loyalitas sejati pada Tuhan Yang Maha Esa, dan terwujud dalam pengkhidmatan pada-Nya dengan beriman serta beramal saleh secara sosial dan kemanusiaan. Apabila hal tersebut dilakukan, maka manusia dapat mencapai derajat yang tinggi. Namun apabila lari dari peng-esa-an pada-Nya, tanpa iman dan amal saleh. Lalu mengikuti thagut maka manusia sudah terjerabab pada dimensi terrendah pada kemanusiaannya. Seperti ditegaskan-Nya dalam Kitab Suci, Al-Qur’an:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.  Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (Q.S. At-Tin {95}: 4-6).

Komitmen peng-esa-an Tuhan dan loyalitas tunggal pada Tuhan Yang Maha Esa yang bersumber dari Kitab Suci dan risalah Rasulullah, serta teraplikasi pada keberpihakan pada sosial dan kemanusiaan universal, yang istiqamah dalam iman dan amal saleh. Tentu sang hamba berhak mendapatkan damai di dunia dan sejahtera di akhirat (surga).

Karakter Rabbaniyah sebagai Esensi Takwa Kaum Beriman

Mewujudkan karakter rabbaniyah bukanlah mudah, karena jiwa rabbaniyah merupakan esensi takwa yang sesungguhnya. Untuk mempertahankan pribadi rabbaniyah tersebut, membutuhkan komitmen dan loyalitas yang total, karena era modernitas dan globalisasi banyak “akses” yang menyebabkan sang hamba tercerembab pada maksiat, terjerumus dalam lumpur nista, dan terbawa arus media massa yang kapitalis dan hedonis.

Prasyarat meraih kepribadian rabbaniyah antara lain: Pertama, al-‘ilmu, mengetahui arti, makna adan maksud kalimat laa ilaaha illallaah. Kedua, Al-yaqiinul munaafisu lisy-syakki, keyakinan yang menghilangkan keraguan (dalam ibadah, tawakal, dll). Ketiga, Al-qabuulu limaa iqtadhatul kalimatu, menerima segala keputusan dan perintah Allah. Keempat, Al-inqiyaadu, siap mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Kelima, Ash-shidqu, jujur dan benar imannya. Keenam, Al-ikhlas, amalnya bersih dari syirik (besar dan kecil). Ketujuh, Al-mahabbah, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Editor: Yahya FR

Avatar
10 posts

About author
Alumnus Program Pascasarjana (PPs) IAIN Kerinci Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Kosentrasi Studi Pendidikan Karakter. Pendiri Lembaga Pengkajian Islam dan Kebudayaan (LAPIK Center). Aktif sebagai penulis, aktivis kemanusiaan, dan kerukunan antar umat beragama di akar rumput di bawah kaki Gunung Kerinci-Jambi. Pernah mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam “Ummul Quro” Semarang.
Articles
Related posts
Akhlak

Meraih Kebenaran Agama: Mencerahkan dan Meneguhkan!

5 Mins read
Bagi yang ateis, mungkin saja institusi atau agama secara lembaga dianggap kurang penting. Sikap tersebut bisa saja disebabkan cara pandang yang “miring”…
Akhlak

Islam Emang Membolehkan Bercanda, Ya?

3 Mins read
Polemik keislamanan pada masa modern menjadi suatu hal yang sangat berpengaruh pada perkembangan masyarakat Islam itu sendiri. Banyak persoalan Islam yang menjadikan…
Akhlak

Setelah Perang Badar, Islam Danggap Sebagai “Kekuasaan”

3 Mins read
Perang Badar menjadi titik balik perjuangan umat Islam melawan kaum kafir Quraisy; yang semula tertekan kemudian beranjak memberikan tekanan. Kemenangan umat Islam…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa