PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Masuknya Islam di Jawa melahirkan berbagai karya bernuansa sastra yang berisi pengajaran agama, semi-sejarah, hingga primbon dan ramalan. Karya-karya sastra tersebut merentang dari babad, suluk, primbon maupun serat lainnya. Sebelum membahas Suluk Gatoloco, perlu dibahas terlebih dahulu tentang perkembangan karya islami di Jawa.

Babad adalah karya sastra bernuansa sejarah yang diproduksi untuk menceritakan berdiri kerajaan atau daerah, perkembangan trah atau tokoh bangsawan, dan pergantian-pergantian kekuasaan, seperti Babad Demak, Babad Bedhahing Majapahit, Babad Blambangan, Babad Tingkir, Babad Ngampel Denta, dan Babad Seh Malaya. Sementara karya serat umumnya berisi pengajaran, seperti Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Sasanasunu, Serat Cabolek, dan Serat Wulangreh.

Perkembangan Karya Islami di Jawa

Karya suluk mewakili genre khas dalam karya sastra Islam-Jawa dengan tema bahasan tasawuf dan mistisisme. Beberapa karya suluk yang terkenal antara lain Suluk Bonang, Suluk Wujil, Suluk Sujinah dan Suluk Malang Sumirang. Semua karya tersebut ditulis dengan nuansa yang khas Jawa, namun dengan topik yang tidak jauh dari arus polemik yang berkembang dalam dunia sufisme.

Secara umum karya-karya di atas ditujukan sebagai sarana penyebaran gagasan maupun perkembangan Islam, namun ada pula karya yang ditulis ebagai kritik terhadap gagasan dan perkembangan Islam tersebut. Muncul karya-karya yang bernuansa kritik dan resistensi terhadap aspek-aspek pengajaran Islam. Ada kritik yang bernada halus, seperti Serat Wedhatama, dan ada pula kritik yang keras hingga bernuansa resistensi, seperti Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco.

Serat Darmogandhul memberikan potret negatif terhadap berdirinya Demak dan sosok Walisongo. Darmogandul disebut juga Babad Bedaning Keraton Madjapahit (Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit) yang melihat bahwa runtuhnya Majapahit sebagai akibat peran tokoh-tokoh Islam yang diberi ruang hidup di Majaphit, namun memaksakan diri untuk mengambil alih kekuasaan.

Sementara itu, Suluk Gatoloco berisi perbincangan tasawuf-falsafi tentang hakekat alam dan konsep-konsep metafisika. Suluk tersebut sekilas banyak memperolok syariat Islam dan para ulama pesantren maupun pertapa. Namun, ada ambiguitas pesan yang hendak disampaikan melalui karya tersebut.

Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk mengulas skema naratif dan muatan Suluk Gatoloco. Tujuan akhir tulisan ini adalah untuk mengungkap motif dalam penulisan Suluk Gatoloco.

Sekilas Tentang Suluk Gatoloco

Suluk Gatoloco diperkirakan lahir dari area Kediri. Pengarang Suluk Gatoloco masih diperselisihkan. Ada yang menduga Raden Soerjanegara, atau Ranggawarsita, atau bangsawan Kediri. Melihat sensitifnya tema dan narasi suluk tersebut wajar jika pengarangnya anonim.

Gambaran mengenai opium yang dipergunakan madat oleh tokoh Gatoloco sejalan dengan perdagangan candu di Jawa pada pertengahan abad ke-19. Dalam pengantar terjemahan ke dalam bahasa Inggris, Benedict Anderson memberikan prediksi penulisan Suluk Gatoloco pada tahun 1860-an atau 1970-an, lebih akhir dari pendapat Van Akkeren (tahun 1830). Keberadaan candu menjadi penanda waktu penulisan Suluk Gatoloco.

Suluk tersebut dicetak kali pertama di Surabaya pada tahun 1889. Pada tahun 1913, karya tersebut menimbulkan kegemparan setelah sebagian isinya dikutip dalam Djawi Hiswara, organ pers Sarekat Islam Surakarta, menyakut penyamaan praktik madat Gatoloco dengan perilaku Rasulullah. Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad untuk Pemerintah menghukum editor Djawi Hiswara atas pemuatan tulisan yang dipandang merendahkan Nabi Muhammad.

Baca Juga  Paulo Freire: Menolak Konsep Banking Education

Versi alih aksara (transiliterasi) ke aksara Latin diterbitkan oleh Penerbit S. Mulija Solo tanpa tahun dengan judul Balsafah Gatolotjo. Terbitan itu hasil kerja R. Tanojo berdasarkan babon gubahan Prawirataruna pada awal abad ke-20. Edisi berbahasa Indonesia diterbitkan oleh penerbit Narasi Yogyakarta tahun 2007 dengan judul Tafsir Gatoloco, dengan isi sama versi alihaksara R. Tanojo.

Suluk Gatoloco bukanlah karya yang ditulis dengan standar piwulang atau standar karya kraton. Judul “Gatoloco” saja sudah mengisyaratkan satu kesan kasar yang sangat dihindari dalam karya-karya kraton. Istilah Gatoloco berasal dari dua kata, yaitu gato (penis) dan loco (mengocok atau onani). Sebutan Suluk terkait dengan muatannya yang berupa bahasan falsafah-mistisisme.

Sebagian orang menilai bahwa Suluk Gatoloco adalah karya anti Islam. Olok-olok terhadap ajaran Islam dan tokoh ulama menjadi pembenar dari dugaan tersebut. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa Suluk Gatoloco adalah kritik terhadap ortodoksi Islam atau ajaran syariat Islam oleh penganut kebatinan Islam-Jawa.

Isi Suluk Gatoloco

Suluk Gatoloco dibuka dengan gambaran fisik sosok Gatoloco yang tidak simetris tubuhnya. Penampilan lusuh dan suka berbicara tanpa henti seraya membawa alat hisap candu menjadi gambaran karakter Gatoloco. Tokoh tersebut jelas tidak diposisikan sebagai representasi ksatria atau priyayi dan bukan pula representasi santri atau ulama.

Setelah menggabarkan sosok Gatoloco, narasi dilanjutkan dengan pertemuan Gatoloco dengan tiga orang kiai (Abdul Jabar, Mad Arif, dan Abdul Manap) beserta enam orang santri dari Rejosari yang sedang dalam perjalanan ke Pondok Cepekan. Gatoloco memprovokasi mereka saat istirahat dengan menyalakan candu di dekat mereka yang diikuti dengan sumpah serapah dari mereka.

Gatoloco lalu memberikan teka teki mana wujud yang terlebih dahulu ada, dengan menggunakan perlambang dalam wayang, yaitu dalang, layar, dan lampu. Ternyata ketiga kiai tidak mampu menjawab dengan benar pertanyaan Gatoloco mengenai zat yang terlebih dahulu ada, yaitu Sang Sepi yang menanggap pertunjukan wayang.

Gatoloco kemudian bertemu dengan dua penyabit rumput. Ia kembali memprovokasi keduanya dengan candunya dan dilanjutan dengan pertanyaan mengenai asal dan tujuan hidup manusia. Kedua tukang abit itu tidak mampu menjawab pertanyaan dan argumentasi Gatoloco. Keduanya merasa Gatoloco gila dan menyimpang dari ajaran agama, namun keduanya tidak berdaya sehingga meninggalkan Gatoloco dengan perasaan hati mendongkol.

Alkisah, ketiga kiai beserta keenam muridnya sampai di Pesantren Cepekan dan bertemu Kiai Kasan Besari, ulama tersohor di Tanah Jawa. Mereka mengadukan kekalahan diskusi dengan Gatoloco kepada Kiai Kasan Besari. Kiai Kasan Besari marah dan menyuruh tiga muridnya memanggil Gatoloco.

Gatoloco bersedia datang setelah mengerjai ketiga utusan Kiai Kasan Besari. Gatoloco berdebat dengan Kiai Kasan Besari tentang hari akhir, surga-neraka, sembahyang, dan Nur Muhammad. Kiai Kasan Besari tidak mampu meladeni Gatoloco sehingga menyerahkan semua miliknya termasuk pesantren kepada Gatoloco dan pergi dengan perasaan malu.

Baca Juga  Konsep Syafa’at dalam Pandangan Fazlur Rahman

Gatoloco menjadi Kiai Sidik Paningale yang waskita (punya ketajaman mata batin). Ia membabarkan pengetahuan sejati kepada murid-murid Pondok Cepekan. Ia lalu mendatangi pesantren demi pesantren untuk menguji ilmu yang selalu berakhir dengan tawa kemenangan dan olok-olok.

Tidak berhenti di pesantren, Gatoloco kemudian mendatangi begawan, resi, dan wiku di lereng gunung Endragiri. Nasib mereka pun sama saat berhadapan dengan Gatoloco. Mereka tidak berdaya adu argumen dengan Gatoloco.

Terakhir, Gatoloco berhadapan dengan para pertapa perempuan di Padepokan Cemarajamus di puncak gunung Endragiri. Ada puluhan pertama, lima di antaranya diceritakan secara khusus. Dari kelima pertapa itu, yang paling cantik bernama Retna Dewi Lupitwati. Semua pertapa memberikan teka-teki kepada Gatoloco dan  Gatoloco berhasil menebak teka-teki yang mereka berikan. Akhirnya, puluhan pertapa menjadi isteri Gatoloco hanya dalam waktu sehari.

Setelah berhasil menata gunung Endragiri sebagai wilayah yang ramah bagi semua penduduk sekitar, Gatoloco kembali ke Pondok Cepekan. Ia disambut haru dan senang oleh para santri. Gatoloco kembali memberikan pengajaran hakekat kepada murid-muridnya.

Ajaran Gatoloco

Sepintas judul dan tokoh utama Gatoloco mengingatkan kepada lingga, simbol kemaluan laki-laki. Lingga adalah pasangan dari Yoni, sebagai wujud kemaluan perempuan. Kedua simbol itu umum dikenal dalam ajaran Siwasime maupun dalam ajaran Tantrisme.

Dalam ajaran Siwaisme dan Tantrisme, manunggalnya laki-laki dan perempuan adalah wujud dari penyatuan makrokosmos dan mikrokosmos. Penyatuan itu dilambangkan dengan penyatuan Siwa dan Sakti atau penyatuan Wisnu dan Sri. Dalam konteks lokal, penyatuan itu digambarkan dalam pernikahan antara Panji Inu Kertapati dari Panjalu dengan Galuh Candrakirana dari Kediri. Penyatuan lingga dan yoni melambangkan penyatuan jiwa individu dan jiwa kosmis untuk pembebasan diri dari ilusi duniawi.

Cara untuk menekankan diri bisa melalui pertapaan dan pendekatan erotis untuk mengendalikan nafsu. Proses pertapaan erotis dilakukan dengan mendorong kundalini dari cakra terbawah (di antara anus dan kelamin) menuju simpul cakra paling atas sehingga menyatu dengan Siwa. Percintaan asketis antara dua kekasih akan membawa kepada pencerahan. Dalam konteks politik, pertemuan raja dan ratu mengaktifkan kekuatan raja dan kekuatan ilahiyah dewa.

Dalam Suluk Gatoloco, tema tantrisme tidak tampak terjabarkan. Diskusi dengan para kiai tidak melibatkan konsep-konsep tantrisme. Sebaliknya, samar-samar muncul gagasan martabat tiga Ibnu Arabi dan martabat empat atau martabat tujuh Fadlullah Burhanpuri. Ajaran martabat tujuh populer di Sumatera dan Jawa melalui karya Burhanpuri, yaitu kitab Topah atau Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi pada abad ke-17 Masehi.

Namun, uraian mengenai konsep yang diambil dari martabat itu dalam Suluk Gatoloco tampak rancu hingga salah secara fatal. Dalam Suluk Gatoloco, sosok Allah dan Nur Muhammad yang mewujudkan tingkatan kedua martabat tujuh (Alam wahdah) digambarkan secara ceroboh. Allah digambarkan lebih kemudian dibandingkan Nur Muhammad sehingga Nur Muhammadlah yang menjadi asas segala realitas. Nur Muhammad diidentikkan dengan Muhammad Rasulullah.

Baca Juga  Tafsir Maqashidi sebagai Basis Moderasi Islam: Pidato Guru Besar Abdul Mustaqim

Diskusi dengan para pertapa perempuan Endragiri sempat menyinggung adegan erotis. Gatoloco meminta para istrinya itu telanjang dan memeriksa organ kewanitaan mereka sehingga yakin bahwa mereka adalah perempuan. Sebaliknya, para pertapa menolak saat ditawari Gatoloco untuk melihat kemaluan Gatoloco atau mengadu kemaluan mereka dengan kemaluan Gatoloco. Jadi, tidak ada proses pembabaran hakekat dan pertapaan erotis yang menjadi ciri khas ajaran Tantrisme.

Alih-alih, Gatoloco tidak betah berada di Endragiri. Ia memutuskan untuk kembali ke Pondok Cepekan. Ia menikmati sebagai guru di Pondok Cepekan dan membabarkan ilmu kepada para muridnya.

Level Argumen

Akhirnya, gagasan teologis dan mistis yang dikemukakan dalam Suluk Gatoloco tidak terelaborasi secara memadai. Metode pembabaran ajaran yang dipergunakan dalam Suluk Gatoloco adalah perdebatan dan polemik. Berbeda dengan Suluk Wujil, yang menekankan pemaknaan perlambang untuk memahami ajaran hakekat, Suluk Gatoloco menekankan kepada argumentasi retoris melalui bombardir pertanyaan dan konsepsi yang abstrak kepada para lawan bicaranya.

Bentuk berargumen yang dipakai dalam Suluk Gatoloco berada pada level berbeda dengan  bentuk argumentasi yang dipergunakan para sufi-filsuf dalam tradisi Islam, seperti Ibnu Arabi atau Mulla Shadra. Dalam tradisi Islam, pemahaman sufistik dibangun di atas pondasi argumenasi burhani (demostratif) atau argumentasi level tertinggi.

Suluk Gatoloco lebih menunjukkan sebuah karya kritik, namun dilakukan secara kurang matang konsepnya. Judul Gatoloco lebih tepat dimaknai sebagai maksud penulisnya untuk membuat ajang onani intelektual. Ia dengan sengaja mengkhayalkan diri berpolemik dengan para  tokoh agama, baik kiai maupun pertapa, dan mempencundangi mereka secara memalukan. Suluk Gatoloco menggambarkan tokoh-tokoh Islam secara negatif. Para kiai digambarkan sangat mudah tersulut emosi, mudah mengeluarkan sumpah serapah, hingga mengkafirkan lawan bicaranya.

Gagasan yang dibangun dalam Suluk Gatoloco belum matang. Ia mengutip  beberapa konsep yang familier dalam tradisi mistisisme Islam-Jawa, seperti dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita. Namun, Suluk Gatoloco tidak masuk lebih lanjut dalam detail penjelasan konsep sebagaimana dalam Serat Wirid.

Akhir cerita Suluk Gatoloco justru hendak meneguhkan arti penting pesantren sebagai untuk membabarkan ajaran sejati. Penulis Suluk Gatoloco di satu sisi menunjukkan diri sebagai penakluk otoritas dalam ortodoksi Islam, namun pada saat yang sama ia ingin menjadi bagian dari otoritas tersebut. Pada akhir cerita, Gatoloco kembali ke Pondok Cepekan dan diterima hangat oleh para muridnya.

Apakah itu menunjukkan bahwa pengarang Suluk Gatoloco ingin diakui kapasitas dan pengetahuannya oleh kalangan masyarakat muslim santri, namun ia tidak memiliki penguasa ilmu-ilmu keislaman yang memadai? Jika demikian, Suluk Gatoloco bentuk onani intelektual untuk mensubstitusi ketidakmampuan pengarangnya berdiskursus agama di alam nyata dengan gambaran sebaliknya di alam fiksi.

Editor: Nabhan

Share Artikel

contributor