PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Syekh As-Syahid Salamat Hasyim, lahir pada tanggal 7 Juli 1942, di Municipality (kabupaten) Pagalungan, Provinsi Manguindanao. Secara geografis terletak di tengah-tengah pulau Mindanao.

Posisi kotanya diapit oleh tiga kota besar yang penduduknya mayoritas Kristen dan Katolik. Mereka merupakan pendatang dari pulau Luzon. Sebelah utara dibatasi oleh kota Cagayan De’Oro (Cagayan De’Oro City), sebelah barat kota Zomboangan (Zomboangan City) dan di sebelah selatan kota Davao (Davao City).

Beliau lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama, dan merupakan salah satu dari tujuh bersaudara.

Guru pertama yang telah berjasa mendidik dan mengajarkan beliau pengetahuan agama sejak kecil adalah ibunya sendiri. Dalam usia yang baru 6 tahun, beliau sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik, serta mampu menghafal banyak dari surah-surah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Riwayat Pendidikan Syekh As-Syahid Salamat Hasyim

Pada usia 6 tahun, Syekh As-Syahid Salamat Hasyim mengawali belajar secara formal di sekolah. Hingga menamatkan pendidikan pada tingkat dasar pada tahun 1954 dengan nilai sangat istimewa. Kemudian, menyelesaikan pendidikan formal pada tingkat pertengahan tahun 1958 dengan peringkat nilai yang istimewa juga.

Tahun 1958, beliau bergabung bersama rombongan jemaah haji dari Fhilipina. Beliau mengambil kesempatan untuk tinggal dan belajar di Makkah, di bawah bimbingan Syekh Zawawi, aktif menghadiri halaqah-halaqah di Masjidil Haram. Kemudian, lanjut mendaftar di Madrasah As-Sulatiyah Ad-Diniyyah.

Tahun 1959, beliau pergi ke Kairo, Mesir. Di mana saat itu sedang terjadi berbagai pergolakan politik di Timur Tengah. Di sana, mendaftar di Universitas Al-Azhar, sehingga lulus dari Ma’had Al-Buhuts Al-Islamiyyah As-Sanawiyah pada tahun 1963. Lalu kembali mendaftar di Universitas Al-Azhar untuk program sarjana pada jurusan Akidah, kemudian lulus tahun 1967.

Baca Juga  Erfan Dahlan: Putra KH Ahmad Dahlan yang Menjadi Mubaligh Ahmadiyah

Tak hanya sampai di situ, Syekh Salamat Hasyim melanjutkan belajar hingga mendapatkan gelar master pada tahun 1969. Lalu aktif dalam perkumpulan pelajar muslim Fhilipina di Kairo dan aktif di organisasi pelajar Asia di Kairo.

Pemikiran beliau untuk melakukan gerakan revolusi awalnya terinspirasi oleh pemikiran Sayyid Quthb dan Syekh Abul A’la Al-Maududi. Dengan pemikiran dua ulama itu, Syekh Salamat Hasyim merintis dan membangun gerakan revolusi Islam di bumi Moro.

Kepribadian Syekh As-Syahid Salamat Hasyim

Dilihat dari penampilan dalam keseharian, nampak beliau adalah seorang pemimpin jabhah qitaliyah yang amat sederhana. Sering berpakaian sapari dengan warna merah, berpeci pada acara-acara resmi, dan tidak nampak berbagai asesoris pakaian.

Beliau menyukai makanan-makanan yang alami, seperti nasi, sayur, mayor, ikan segar, dan buah-buahan. Belum pernah beliau memakan makanan dari hasil-hasil industri. Juga tidak pernah merokok, minum kopi, atau teh.

Sering berbicara pada acara-acara muhadharah, khotbah, dan lain-lain, beliau berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami audiens, tegas, lugas, bersemangat, berapi-api, dan amat serius dalam pembahasan, walaupun tidak meninggalkan senyum khas yang dimilikinya.

Beliau sangat menghormati para tamunya, lebih-lebih mujahidin. Ramah dan fasih bertutur kata menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Wawasannya amat luas mengenai arah politik dunia dan mengetahui berbagai informasi penting seputar dunia Islam dan perjuanganya di berbagai dunia.

Selain itu, jujur dan tegas dalam mengungkapkan kebenaran juga merupakan kepribadian Syekh As-Syahid Salamat Hasyim. Hal ini tercermin ketika seorang mujahidin melontarkan sebuah pertanyaan, lalu dijawabnya dengan penuh kejujuran dan kebenaran.

Syekh As-Syahid Salamat Hasyim termasuk tokoh ulama yang memiliki ilmu manajemen dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya organisasi MILF (Front Pembebasan Islam Moro) di atas manajemen yang rapi dan solid. Hingga dengan pertolongan Allah Ta’ala, MILF mencapai puncaknya dengan memiliki 120.000 personil pasukan mujahidin (laporan tahunan 1999) yang terorganisasi dalam 6 divisi.

Baca Juga  Pesan Keislaman dan Kebangsaan Buya Syafii

Beliau adalah sosok ulama Islam Moro yang amat karismatik, pemersatu umat. Terbukti hampir seluruh kabilah (bersenjata) muslim di Mindanao, menyambut seruannya untuk bersatu dalam wadah MILF. Tujuannnya adalah untuk membebaskan bumi Moro dari cengkeraman Fhilipina.

Dengan izin Allah, beliau mampu menyatukan kabilah-kabilah yang saling berseteru dan bermusuhan (‘Redo’ dalam bahasa Tagalog) membela fanatisme kabilah masing-masing. Beliau amat populer di media massa, majalah-majalah, buku-buku, radio, dan televisi. Tidak ada kelompok perjuangan Islam Mindanao yang tidak mengenalnya dengan baik dan sangat dekat dengan masyarakat.

Istri, Anak, dan Kebiasaan Syekh Salamat Hasyim

Setelah sekian lama beliau memimpin jihad, belum ada rencana sedikit pun untuk menikah. Namun, karena desakan beberapa pejabat tinggi MILF yang memang menjadi pembantunya dalam jihad Moro, akhirnya beliau menikah di usia sekitar 45 tahun, dengan seorang putri salah satu pemimpin jihad Maranon, Ustaz Abu Umar.

Ustaz Abu Umar adalah salah satu tokoh jihad Maranon yang disegani. Berasal dari kabilah Maranon di wilayah Marawi (sebelah utara pulau Mindano). Kabilah Maranon adalah kabilah terbesar kedua setelah kabilah Syekh As-Syahid Salamat Hasyim, yaitu kabilah Magindanon. Dengan perlawanan tersebut, persatuan antara kabilah mayoritas yaitu Maguindanon dan Maranon semakin erat.

Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai lima orang anak. Anak pertama bernama Abdullah bin Salamat Hasyim, yang kini berusia 17 tahun. Dalam memimpin Jabhah Moro yang mencakup kampung-kampung yang tersebar di pulau Mindanao, beliau sering mengadakan kunjungan ke kampung-kampung yang sudah dikuasai MILF.

Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari adalah senantiasa berlatih menembak. Syekh Asy-Syahid Salamat Hasyim adalah sosok ulama yang sangat disegani di Mindanao. Mampu menggugah inspirasi dan partisipasi kaum muslimin untuk membela dan mendukung MILF dalam membebaskan bumi Moro dari penjajahan.

Baca Juga  Konsep As-Syura sebagai Demokrasi Islam

Banyak kaum muslimin di seluruh Mindanao menyambut seruannya untuk mengangkat senjata melawan kebiadaban dan penindasan bangsa Fhilipina. Para mujahidin dari berbagai tempat mendatangi kampung Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk berlatih militer dan mempelajari syariat Islam.

Usia para mujahidin yang berlatih pun sangat beragam, dari usia anak-anak hingga usia lanjut. Jika memungkinkan masih bisa mendapatkan berbagai pelatihan militer. Tempatnya di Akademi Militer Abdurrahman Bedis (The Military Academy of Abdurrahman Bedis Abu Bakar Camp).

Sekalipun umur beliau sudah sangat tua, tetapi semangat dalam berlatih menembak masih sangat kuat, karena merupakan salah satu hobinya. Syekh Salamat Hasyim biasa latihan menembak menggunakan senapan-senapan jitu. Walaupun frekuensi latihan tidak terlalu padat, namun beliau tidak melupakan sunnah rasul yang satu itu.

Sebagaimana Rasululllah SAW Bersabda: “Barangsiapa berlatih melempar kemudian melupakannya maka dia bukan golonganku.” (HR. Ahmad). Dan dalam kondisi darurat pun beliau selalu menyempatkan diri untuk berlatih.

Wafatnya Syekh As-Syahid Salamat Hasyim

Syekh As-Syahid Salamat Hasyim meninggal pada 13 Juli 2003, karena komplikasi yang disebabkan oleh penyakit jantung dan bisul akut. Beliau meninggal di salah satu kampung MILF di Butig, Lanon del Sur. MILF hanya terbuka mengonfirmasikan kematian pemimpin mereka beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2003. Wallahu a’lam.

Editor: Lely N

Share Artikel

contributor

Muhammad Saleh Kader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran Cabang Sukoharjo Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta PD IPM SUMBAWA

Tinggalkan Balasan