Tafsir Al-Jawahir, Kitab Tafsir 'Ilmi Pertama Karya Thantawi Jauhari
Report

Tafsir Al-Jawahir, Kitab Tafsir ‘Ilmi Pertama Karya Thantawi Jauhari

2 Mins read

IBTimes.ID – Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sebagian umat Islam berbondong-bondong untuk melakukan proses pengislaman ilmu pengetahuan. Hal ini kemudian sering disebut dengan Islamisasi ilmu pengetahuan.

Tanthawi Jauhari, pada tahun 1930an, menerbitkan tafsir kontroversial sekaligus fenomenal bernama Tafsir Al-Jawahir. Kitab tafsir tersebut terdiri dari 26 jilid. Ia menjadi kontroversi karena menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan modern dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Hal ini belakangan disebut dengan tafsir ‘ilmi.

Menurut Abdul Kadir Riyadi, Tanthawi Jauhari bermaksud untuk menyegarkan pesan-pesan agama agar tidak dipahami secara eksklusif sebagai ajaran agama semata. Di sisi lain, ia ingin memompa semangat umat Islam agar terus mengembangkan ilmu pengetahuan di dunia Islam yang berangkat dari spirit Alquran.

“Namun, menurut sebagian orang, Tanthawi Jauhari terjebak sehingga seolah-olah ia tidak menulis tafsir, namun menulis ensiklopedi ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan ayat-ayat Alquran. Ini dianggap bukan kitab tafsir,” ujar Abdul Kadir Riyadi, Selasa (6/7).

Di Mesir dan sebagian negara Islam, Kitab Al-Jawahir ditolak. Di Saudi, Raja Abdul Aziz melarang kitab tersebut masuk ke Saudi. Abdul Aziz menganggap bahwa Al-Jawahir adalah penyelewengan terhadap Alquran.

Abdul Kadir Riyadi menyebut bahwa Kitab Al-Jawahir adalah kitab tafsir pertama yang menafsirkan ayat-ayat Alquran menggunakan ilmu pengetahuan. Sehingga kitab tersebut menjadi pelopor tafsir ‘ilmi pertama.

Menurut Syaikh Mahmud Shaltut, akademisi Al-Azhar, Tafsir Al-Jawahir tidak bisa diterima karena tiga alasan. Pertama, Alquran bukan kitab ilmu pengetahuan. Sedangkan Al-Jawahir melihat Alquran seolah-olah sebagai kitab ilmu pengetahuan.

Kedua, kemukjizatan Alquran tidak terletak pada aspek ilmu pengetahuan, melainkan pada aspek bahasa. Sehingga, menafsirkan Alquran dari segi ilmu pengetahuan justru bertentangan dengan kemukjizatan Alquran yang sesungguhnya.

Baca Juga  Tafsir Istiadzah: Pengajaran Pertama Jibril

Ketiga, menurut Syaikh Mahmud Shaltut, menafsirkan Alquran secara ilmiah berarti menurunkan derajat Alquran menjadi semata-mata teori ilmu pengetahuan. Padahal, ilmu pengetahuan tidak pernah mapan, selalu berkembang. Bagaimana bisa teori ilmu pengetahuan yang dinamis digunakan untuk menafsirkan Alquran?

Abdul Kadir Riyadi menyebut bahwa dengan tafsir ‘ilmi, umat Islam dengan mudah mengklaim bahwa Alquran telah mendahului teori ilmu pengetahuan ratusan tahun sebelum teori ilmu pengetahuan ditemukan. Misalnya Yashihide Kozai yang menemukan teori bahwa langit terdiri dari asap. Dalam surat Fussilat ayat 11, Allah telah menjelaskan bahwa langit terdiri dari asap.

“Dengan enaknya orang Islam mengklaim. Bisanya hanya seperti itu, bermental inferior tanpa melakukan penelitian atau mencoba menemukan sendiri teori ilmu pengetahuan. Hasil jerih payah ilmuwan non Islam kemudian diklaim bahwa teori tersebut sudah ada di Alquran,” ujar Abdul Kadir mengutip pernyataan ahli tafsir Mesir, Bintu Syathi’.

Bintu Syathi’ menyebut bahwa orang-orang yang melakukan penafsiran Alquran dengan tafsir ‘ilmi layaknya seorang penyihir. Karena ia mengklaim teori yang dilahirkan dari jerih payah ilmuwan. Seolah-olah teori itu muncul secara bim salabim dari Alquran.

Di Indonesia, imbuh Abdul Kadir, ada buku berjudul Tafsir ‘Ilmi. Buku tersebut diterbitkan oleh Kementerian Agama bersama dengan LIPI. Tafsir ‘Ilmi Kemenag mirip dengan Tafsir Al-Jawahir Tanthawi Jauhari.

Di media sosial juga berseliweran berita-berita ilmuwan barat yang takjub dengan Alquran karena penemuan mereka ternyata sama dengan apa yang ada di dalam Alquran. Umat Islam di Indonesia sangat senang dengan pemberitaan semacam ini.

“Banyak ulasan semacam ‘8 Ilmuwan yang Dikejutkan Alquran’ dan semacamnya. Orang Islam senang dengan hal yang seperti ini. Pertanyaannya, kenapa tidak orang Islam saja yang menemukan teori? Kenapa harus senang ketika ilmuwan Barat yang menemukan? Ini tanda kita tidak percaya diri, inferior,” tegas Abdul Kadir.

Baca Juga  Tafsir Kebangsaan: Nilai-Nilai Persatuan dan Keberagaman

Menurutnya, masyarakat menganggap bahwa agar Islam dikatakan benar secara ilmiah, harus ada endorsement dari ilmuwan Barat. Jika tidak ada endorsement ilmuwan Barat, seolah-olah Islam tidak benar. Hal tersebut tidak ada hubungannya dengan Alquran dan agama. Hal tersebut berhubungan dengan mental umat Islam yang inferior.

“Seolah-olah Islam itu keren kalau ada bule masuk Islam. Kalau ada bule masuk Islam, kita heboh, gegap gempita,” imbuhnya.

Khaled Muntasir, seorang dokter asal Mesir menulis tentang ilusi kemukjizatan ilmiah Alquran. Menurut Khaled, orang-orang yang bicara dimensi kemukjizatan ilmiah Alquran adalah ilusi. Khaled juga sangat keras mengkritisi orang-orang yang senang dengan kemukjizatan ilmiah Alquran.

Reporter: Yusuf

Redaksi
343 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Report

Berdakwah Melalui Film, Muhammadiyah Tidak Anti Seni

1 Mins read
IBTimes.ID – Seni dan budaya bukan sesuatu yang dilarang. Oleh karena itu, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah, Sukriyanto…
Report

Noorhaidi Hasan: Mendamaikan Konsep Civil Society dengan Islam

2 Mins read
IBTimes.ID – Buku Civil Society: Perspektif Islam dan Barat karangan Abdul Fattah Santoso berisi pembahasan yang sangat detail tentang civil society. Penulis…
Report

Bicara di Konferensi Antaragama G20, Menag Sampaikan Prinsip Universal Pendiri Bangsa

1 Mins read
IBTimes.ID – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pidato secara virtual pada Konferensi Antaragama G20 yang dipusatkan di Italia. dalam kesempatan tersebut,…

Tinggalkan Balasan