Fikih

Ada apa dengan Dzulhijjah?

3 Mins read

Pada dasarnya, semua hari dan bulan itu baik. Tetapi ada beberapa hari dan bulan yang Allah SWT dan rasul-Nya istimewakan. Di antara bulan tersebut adalah Dzulhijjah. Salah satu dari 4 bulan haram yang Allah SWT istimewakan. Utamanya ketika memasuki awal-awal bulan Dzulhijjah, ada beberapa ketaatan yang kita dianjurkan untuk mengerjakannya.

Saat memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, nabi SAW menjelaskan melalui sabdanya, “Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)”.

Para sahabat pun bertanya, “Tidak pula jihad di Jalan Allah?” Nabi Saw menjawab: “Tidak pula jihad di Jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ketika Allah Bersumpah

Perhatikanlah, Allah bersumpah untuk menarik perhatian sekaligus menggugah keyakinan kita atas kebesaran-Nya, lewat surat al-Fajr, “Demi fajar, dan malam yang sepuluh”.

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kalimat sumpah, menunjukkan tentang kemuliaan dan keutamaan dari waktu atau hari-hari yang dimaksud.

Dalam kitab Zaad al-Masiir karya Imam Ibnul Jauzi, yang dimaksud dari sepuluh hari ada empat tafsiran, yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Oleh karena itu, bersemangatlah dalam menyambut kehadiran sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah amal shalih di dalamnya.

Sebagai balasan, Allah akan beri tambahan hidayah untuk mengetahui kebenaran dan mengamalkannya yang dengan itu kelak akan mengantarkan kita ke surga.

Amal shalih apa yang bisa kita lakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah?

Baca Juga  Berdoa Tak Berarti Tidak Ridha dengan Kepastian Allah

Amal-Amal Shalih pada Bulan Dzulhijjah

Memperbanyak puasa sunah, merupakan salah satu dari amal shalih yang sangat dianjurkan. Berpuasalah, bisa penuh 1 sampai 9 Dzulhijjah atau sebagian saja dari hari-hari itu atau berpuasa pada 9 Dzulhijjah saja yaitu di Hari Arafah.

Khusus yang disebut terakhir, perhatikanlah hadits ini: “Puasa Hari Arafah, aku berharap kepada Allah akan menghapuskan (dosa) setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya” (HR Muslim).

Memperbanyak takbir dan dzikir, yang termasuk amalan shalih yaitu bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak doa. Sebagaiman dijelaskan dalam hadits berikut, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah). Oleh karena itu, perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR Ahmad).

Menunaikan haji dan umrah, merupakan amal ibadah paling utama pada hari-hari yang dimaksud. Perhatikanlah hadits ini: “Umrah satu kepada umrah lainnya merupakan kafarah bagi dosa di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga” (HR Bukhari dan Muslim).

Meski di tahun ini banyak kaum muslim yang belum bisa berangkat untuk menunaikan ibadah haji, setidaknya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna” (HR Thobroni). Hadits tersebut menjelaskan satu amalan yang bernilai seperti haji dan umrah, dan bisa dikerjakan oleh siapa saja.

***

Memperbanyak amalan shalih, setiap aktivitas kita, jika berlandaskan kepada al-Qur’an dan Sunnah, serta mengharap ridho Allah SWT, seperti shalat, sedekah, membaca al-Qur’an, beramar ma’ruf nahi munkar dan amal shalih lainnya. Maka, Allah akan catat semua hal tersebut sebagai pahala.

Baca Juga  BPJS Tidak Sesuai dengan Prinsip Syariah

Berqurban, Di hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari tasyrik disunnahkan untuk berqurban. Bahkan berqurban lebih utama dari sedekah yang senilai qurban.

Dijelaskan pula dalam hadits, “Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku, dan rambutnya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebelum jatuh ke tanah” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Bertaubat dengan sepenuh hati, bertaubat bisa kapan saja, termasuk ditekankan pula di awal Dzulhijjah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zalim terhadap sesama. Bertaubat di 10 hari pertama Dzulhijjah tentu punya nilai tersendiri.

Maka, tekadkanlah secara kuat untuk tobat dengan mengerjakan ketaatan-ketaatan. Insya-Allah, dengan cara itu, kita akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Perhatikanlah ayat ini: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (an-Nur 31).

Sungguh, di saat kita menjumpai bulan Dzulhijjah, terlebih sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, itulah nikmat yang agung. Di saat-saat itu, kita berkesempatan menikmati “musim” ketaatan, seperti saat ini kita sudah berada di awal bulan Dzulhijjah manfaatkan setiap waktu, setiap detik di hari-hari dalam bulan Dzulhijjah. Oleh sebab itu, mari kita isi hari-hari di bulan ini dengan berbagai amal shalih, yang dengan cara itu bisa membantu kita meraih pahala dan ampunan Allah.

Editor: Rozy

Print Friendly, PDF & Email
3 posts

About author
Guru PAI dan Bahasa Arab SD Muhammadiyah 4 Kota Malang
Articles
Related posts
Fikih

Tradisi-Tradisi yang Mempersulit Pernikahan, Harus Dimusnahkan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Indonesia merupakan negara yang penuh keragaman budaya, tradisi, serta watak orang-orang di setiap daerahnya. Tentu hal ini…
Fikih

Bermazhab Tak Berarti Anti Modernitas!

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sebagaimana diketahui, sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah tidak mengikat diri pada mazhab tertentu. Baik secara fikih maupun…
Fikih

Tak Perlu Jadi Mujtahid untuk Mempraktikkan Ilmu Ushul Fiqih

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Beberapa waktu kemarin, saya berkesempatan ngobrol dengan salah seorang dosen Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *