Tafsir Surat Al-Baqarah: Waspada dengan Orang yang Pandai Berbicara! - IBTimes.ID
Tafsir

Tafsir Surat Al-Baqarah: Waspada dengan Orang yang Pandai Berbicara!

3 Mins read

Akhir-akhir ini sering kita jumpai orang yang pandai berbicara namun tidak jelas belajarnya, mengambil posisi yang semestinya bukan bidangnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya da’i atau juru dakwah dadakan (karbitan) yang memimpin umat. Di satu sisi banyak juga golongan tertentu yang memegang urusan agama, padahal secara disiplin ilmu bukan bidangnya.

Ironisnya, banyak masyarakat yang mudah terpengaruh oleh doktrin cendekiawan yang bergelar profesor, doktor dan semacamnya, meskipun sejatinya mereka belum tentu membidangi ilmu agama. Alih-alih, terpengaruhnya masyarakat tersebut karena takjub tatkala mendengar tutur katanya.

Padahal jika kita merujuk pada Al-Qur’an, hal tersebut bukan tolak ukur untuk mempercayai seseorang. Amat banyak golongan-golongan tertentu dan orang yang pandai berbicara dengan memukau, padahal hatinya mempunyai misi tertentu.

Dalam hal ini, Allah telah memperingatkan kita dalam firman-Nya :

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (Surat Al-Baqarah: 204).

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 8 Ali Al-Shabuni

Sehubungan dengan hal ini, yang menjadi tolak ukur tidak lain adalah kepribadian setiap individu, bukan perkataan atau bicaranya! Karena pada zaman Rasulullah saw. banyak sekali golongan dan orang yang pandai berbicara dengan menarik. Banyak yang sedikit-sedikit mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya, padahal hatinya dipenuhi rasa bimbang dan ingkar kepada Islam, sebagaimana bunyi firman-Nya.

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian.” Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Baqarah 2:8).

Terkait tafsir surat al-Baqarah ayat 8 di atas jika kita cermati dan telaah secara mendalam, terdapat pelajaran supaya berhati-hati kepada seseorang yang sedikit-sedikit membawa nama Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga  Empat Keuntungan Mentadabburi Al-Qur’an

Kenapa kok demikian? Karena penggalan kata “min al-annas” pada ayat di atas jika ditinjau dalam kaidah ulum al-qur’an mengindikasikan makna yang sangat umum. Ia tidak ditentukan secara pasti waktu dan tempatnya, artinya kriteria kelompok atau orang tersebut sepanjang zaman akan ada selalu di sekeliling kita.

Sehubungan tafsir surat al-Baqarah ayat 8, Muhammad Ali al-Shabuni dalam tafsirnya telah memberi catatan.

“Sebagian manusia ada yang pura-pura beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menyatakan keimanannya secara terang-terangan dengan lisan mereka, padahal perbuatan mereka sama sekali tidak dapat dibenarkan! karena pada hakikatnya golongan tersebut mempunyai keraguan yang amat besar dihati mereka. Sedangkan pernyataan yang mereka lakukan, semata-mata hanya pembelaan terhadap diri mereka saja.”

(al-Shabuni, Sofwah Tafasir, h.28)

Dalam penjelasan ini, Ali al-Shabuni mengutip pendapat al-Baidawi ketika menafsirkan ayat yang disorot di atas yang berbunyi,

“Imam al-Baidawi pernah menyatakan bahwa iman mereka hanya terucap di mulut saja, sedang di hatinya sama sekali tidak ada keimanan. Perlu diketahui bahwa hal tersebut merupakan sekeji-kejinya orang kafir yang membenci Allah. Dikatakan keji,  karena kelompok yang demikian ini menghiasi atau memolesi diri dengan keimanan, padahal di hatinya tersimpan keraguan yang amat terhadap Islam. Akibatnya golongan manusia yang seperti ini dicela di dalam al-Qur’an.”

Mereka yang Termasuk Orang Munafik

Perbuatan kelompok yang seperti ini sebenarnya hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman dengan menampakan sesuatu yang tampak dari perkara-perkara yang berhubungan dengan iman. Padahal mereka riang gembira terhadap kekufuran. Golongan yang semacam ini mempunyai asumsi bahwa perbuatan tersebut dapat memberi kemanfaatan baginya    (al-Shabuni, Sofwah Tafasir, h.29).

Sesungguhnya yang mereka lakukan sejatinya hanya menipu dirinya sendiri. Hanya saja mereka tidak menyadari hal itu, dan siapapun yang mendustakan kebenaran (perkara yang haq), maka akibatnya perbuatan tersebut akan kembali kepada yang melakukannya.

Baca Juga  Tafsir Al-Insan 1-3: Manusia yang Tidak Penting

Sebagai tambahan, kriteria seseorang yang disorot tersebut juga bisa dikategorikan sebagai orang munafik. Sebagaimana pernyataan Ibnu Katsir yang dikutib Ali al-Shabuni dalam tafsirnya:

“Ibnu Katsir berkata: nifak itu adalah menampakan kebaikan dan menyembunyikan kejelekan, dan kemunafikan terklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama ialah nifaq i’tiqodi, jenis kemunafikan ini bisa menyebabkan pelukanya kelak di dalam neraka. Kedua, nifaq amali, yang mana kriteria ini merupakan salah satu dosa besar, karena sesungguhnya orang munafik itu perkataan sama tindakanya tidaklah sama (berbeda). 

Dari pernyataan Ibnu Katsir di atas, dapat disimpulkan bahwa tindakan kelompok atau golongan yang tersorot di atas disebabkan ada penyakit dalam hati mereka berupa keraguan terhadap Islam serta kemunafikan. Akibatnya, Allah menambahkan penghalang yang tinggi di dalam diri mereka disebabkan perbuatannya. Selaras dengan hal ini, Ibnu Aslam juga menyatakan, “Jika penyakit itu ada di dalam jasad, maksudnya ialah keraguan terhadap Islam.” (al-Shabuni, Sofwah Tafasir, h. 29).

Artikel ini pernah diterbitkan di Tanwir.ID

Editor: Shidqi Mukhtasor
Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di Kampus Al-Fitrah Surabaya
Articles
Related posts
Tafsir

Hukum Baca Al-Qur'an Pakai Qira’ah Sab’ah

5 Mins read
Setiap Imam Qira’ah mempunyai banyak murid (perawi) yang meriwayatkan qira’ah guru-gurunya dari generasi ke generasi. Namun dalam dunia qira’ah, hanya diambil dua…
Tafsir

Takwil Al-Qur'an: antara Pro dan Kontra

4 Mins read
Dalam kajian Ulumul Qur’an secara garis besar ada dua karakteristik ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar). Menurut Yunahar Ilyas dalam…
Tafsir

Rijal Tak Selalu Suami, Nisa’ Tak Melulu Istri: Menafsir Ulang Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa

2 Mins read
Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa (Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri)) Mayoritas kaum muslim, berpijak pada potongan ayat dari QS. An-Nisa’ ayat 34…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.