Teater Tokoh Muhammadiyah - IBTimes.ID
Review

Teater Tokoh Muhammadiyah

5 Mins read

Barangkali kita perlu baca kembali James L Peacock. Namun, titik tekannya bukan berkait tema yang super serius pemurnian keagamaan, sebagaimana tertera di judul buku klasiknya, Purifying the Faith: The Muhammadijah Movement in Indonesian Islam (1978). Tetapi, cara dan gayanya menghidupkan tokoh-tokoh.

Antropolog kenamaan ini membantu pembaca zaman kita, juga kapan saja, memahami kembali bagaimana kondisi dan perkembangan Muhammadiyah dekade awal Orde Baru.

Era tersebut transisional hampir di segala segi, apakah politik, ekonomi, atau gaya hidup. Dan, Muhammadiyah dan kelompok Islam lainnya, secara politik tengah berada dalam posisi sebagai “pemenang” dalam pertikaian politik aliran yang menyedihkan pasca-1965.

Suara Muhammadiyah (2016) telah menerbitkannya ke edisi Indonesia. Judulnya, Gerakan Muhammadiyah: Memurnikan Ajaran Islam di Indonesia. Peacock sendiri memberi ulasan khusus dalam bab penutup edisi ini.

Ia, antara lain meninggalkan catatan, bahwa Muhammadiyah adalah “survivor yang telah berhasil melalui berbagai tantangan yang menerpa selama seabad belakangan, serta telah menjadi semakin kuat dan dewasa”.

Dan, kalau boleh saya tambahkan, itu semua antara lain, terutama berkat dimensi atau peran keaktoran para tokohnya.

***

Buku Peacock yang telah menjadi klasik, dan saya kira sudah banyak dibaca warga Muhammadiyah dan yang lain, berlatar belakang suasana transisi kultural dan politik dari Orde Lama ke Orde Baru atau usainya kekuasaan Sukarno dan masuk ke hari-hari pemerintahan Soeharto.

“Pada malam akhir 1969, di Ibukota Indonesia, Jakarta,” catatnya, “sedang berlangsung pesta yang meriah dan urakan untuk merayakan permulaan 1970-an”. Masa rezim revolusioner Sukarno sangatlah berbeda dengan masa ini. “Jika Sukarno melarang tari-tarian Barat, sekarang ada diskotik yang memasang lagu-lagu rock. Perjudian disahkan, kaum waria dipersatukan, film-film pornografis Barat dipertunjukkan.”

“Di tengah-tengah kota yang bagi sebagaian kaum pembaru dianggap sebagai Sodom dan Gomorah,” catatnya lagi, “di Jalan Menteng Raya No. 62, terdapat kantor Muhammadiyah.”

Sebagai peneliti, Peacock mendatangi kantor Muhammadiyah. Di sana dia bertemu dengan lima tokoh, yang lantas dinarasikannya menarik: Ir. H. Sanusi, Ketua Majelis Bidang Ekonomi; Prof. H. Kasman Singodimedjo, Pimpinan Majelis Bidang Politik; Dr. H. Kusnadi, pimpinan Majelis Pembina Kesejahteraan Umat; dan cendekiawan yang berpengaruh, HAMKA dan Malik Ahmad.

Baca Juga  Islam sebagai Tradisi Diskursif: Tawaran Konsep Talal Asad (Bagian 2)
***

Lantas Peacock mengkarakterisasi masing-masing tokoh. Dari kelima tokoh, Ahmad mirip santri kuno, “berpakaian lengkap dengan kopiah dan selendang santri”. Sanusi, mantan Menteri Perindustrian, memberi kesan seperti tokoh sekuler dan intelektual Orde Baru.

Kasman, “seorang yang tegap, dengan kumis dan jenggot putih, seorang orator Jawa dengan mata yang cerah dan suara yang lantang, walaupun sudah berusia 60 tahun.” Dan, “ketika diminta untuk menceritakan riwayat hidupnya, ia menjawab dengan sederhana, “Saya ini orang desa. Saya belajar sendiri, tetapi saya pernah menjadi pejabat tinggi. Itu saja yang bisa saya katakan.” Namun, sebenarnya ia pernah mengenyam pendidikan Belanda.”

Kusnadi berasal dari Madura, seorang dokter dengan perangai halus, sopan dan pendiam. Cita-citanya ingin memperbaiki kesejahteraan umat. Dengan mobil Mercedes-nya, ia bawa Peacock ke panti-panti asuhan dan rumah sakit.

HAMKA, seperti juga Ahmad, orang Minangkabau, “orangnya kecil, putih, berkacamata dan berumur sekitar 60 tahunan.” Ia “santri pengarang yang terkenal,” ayahnya pembaru berwibawa, Haji Rasul. Sambil duduk di beranda rumahnya dekat Masjid Al Azhar, HAMKA melukiskan perannya dalam perkembangan kebudayaan.

Lantas, Peacock memberi bingkai bahwa, “sepintas lalu, kelima tokoh ini merupakan contoh sifat Muhammadiyah. Kecuali Malik Ahmad, mereka mewakili sisi-sisi keduniawian pergerakannya: politik, ekonomi, kesejahteraan, dan kebudayaan”. Mereka, “lebih menyerupai kelompok intelektual daripada guru agama tradisional.”

***

Banyak tokoh yang disembulkan Peacock. Terhadap tokoh A.R Fachruddin, setelah memberi informasi kelahiran, 1916, di dekat Yogyakarta, tamat SD Muhammadiyah, 1928, dan Sekolah Pendidikan Guru Muhammadiyah, 1934, menjadi guru di Palembang (1934-1944), dan seterusnya, hingga menjabat Kepala Bagian Penerangan Kanwil Depag Yogyakarta, Peacock menginformasikan, bahwa sosok ini, “berbadan besar, berkacamata, bersemangat hangat dan humoris.”

Baca Juga  Kritik Wael Hallaq terhadap Negara Modern

Tanpa mengeluarkan kata-kata bahwa sosok ini sangat sederhana hidupnya, Pecock menulis, “ia mengenakan sandal, celana yang longgar, dan kemeja yang bergantung di luar celana. Setelah menumpang bus yang bobrok dari rumah kecilnya di Kauman menuju pusat latihan (Darul Arqam), ia kemudian bersantai sambil minum kopi bersama-sama anak-anak didiknya.”

Membawakan materi Kepribadian Muhammadiyah, “Pak Fachruddin menggunakan pendekatan sejarah dan anekdotis.” Ia “dengan lincah menggambarkan sifat masing-masing pemimpin (Muhammadiyah) dengan masa pimpinannya masing-masing.” Ia mengolok-olok orang-orang yang mementingkan soal pakaian, “Silakan bersorban anduk, jika anda ingin tampil sebagai kiai.” Yang penting ialah berdakwah.

Setelah menginformasikan antara lain bahwa ayahnya, yaitu Ki Bagus, menjabat ketua Muhammadiyah 1945-1950, Djarnawi, catat Peacock, “tidak bersifat kebapakan, seperti halnya A.R. Fachruddin, ia berperawakan kekar dan pandai berpolemik dengan suara keras, namun penuh humor.”

Masih banyak yang lain nama yang disebut Peacock, terutama yang berkaitan sebagai pemateri Darul Arqam ketika itu. Misalnya, Djindar Tamimy “yang lebih introvert daripada Pak Fachruddin atau Djarnawi, berbadan gemuk dan berkacamata.” Atau, Amin Rais, dosen UGM yang lincah dan lancar berceramah, sekaligus “mantu juragan batik”.

***

Sebenarnya tidak ada yang baru dari pendekatan Peacock sebagai antropolog. Yang lain juga mengulas tokoh-tokoh, terlepas apakah mereka disamarkan atau tidak. Kita bisa membandingkannya dengan karya-karya antropologis lainnya, seperti misalnya Clifford Geerzt. Apalagi, buku Peacock itu tipis saja.

Terkait dengan tulisan ini, hanya kebetulan saja, jalan nasib hari itu telah memperjumpakan saya dengan buku Peacock. Ia menyembul di arena Pemeran Buku Islam di Senayan, di stan Suara Muhammadiyah.

Sambil minum kopi, membaca buku itu, seolah-olah saya seperti tengah nonton teater yang dipenuhi aktor-aktor penting kepemimpinan organisasi dengan latar belakang tempo dulu yang pesan-pesannya aktual.

Pelajaran kepemimpinan dan gerak organisasi, seringkali banyak bertumpu pada eksplorasi bagaimana para tokohnya memainkan peran dalam banyak hal. Dengan memotret karakter dan peran kepemimpinan masing-masing, sebagaimana dilakukan Peacock, kendati konteksnya banyak mengulas materi ceramah Darul Arqam semasa itu, kita akan menemukan dinamika keaktoran yang “luar biasa” di balik keorganisasian Muhammadiyah yang kesannya tenang-tenang saja.

Baca Juga  Menguak “Puzzle” Marginalisasi Kelompok Minoritas di Indonesia

Ketenangan organisasi, bukan berarti tekor keaktoran atau keteateran yang mementaskan para tokohnya, dalam interaksinya dengan aktor-aktor lain di dalam dan luar organisasi, apakah negara atau non-negara.

Pak A.R. Fachruddin misalnya, aktor yang piawai, berintegritas dan anekdotal, punya ‘sense of humor’ yang tinggi. Ia luwes dan begitu “nJawani”, bukan aktor yang suka konfrontatif.

Bukan ingin larut dalam arus populisme politik yang belakangan ini populer di mana-mana, saya kira perlu terus dikembangkan metode studi Muhammadiyah secara “Peacock style”, yang kebetulan juga selaras dengan “Pak A.R. style”, ketika para tokoh dilukiskan sedemikian rupa secara menarik.

***

Ini berbeda dengan pendekatan biografis yang formal, kaku, tidak enak dibaca, atau seringkali terkesan “mriyayi”, kurang membumi atau alamiah, dan tentu saja jauh dari nuansa sense of humor atau anekdotis.

Membaca buku Peacock, menurut saya, menyimpan pula semacam kesan, bahwa hal-hal yang anekdotis itu manusiawi saja, dan nyatanya juga tidak merusak kewibawaan para tokoh yang disembulkan, atau merobohkan nilai akademis karya itu.

Sesungguhnya tradisi eksplorasi tokoh sebagai aktor berikut peran dan pemikirannya, terasa sudah lazim saja di lingkungan Muhammadiyah masa kini. Misalnya, bagaimana ketika para tokoh Muhammadiyah mengenang yang mendahuluinya, seperti tampak pada penerbitan dan peluncuran buku mengenang almarhum Prof Bahtiar Effendy. Khasanah yang didapat dari situ ialah, selain garis bawah kesederhanaan tokohnya, juga “kebesaran karyanya”.

Atau buku kesan-kesan terhadap tokoh dalam memperingati sekian tahun usainya. Misalnya buku peringatan ulang tahun Buya Ahmad Syafii Maarif atau yang lain. 

Atau juga, misalnya, saya menikmati betul ulasan Mas Hajriyanto Y Tohari, ketika dia mengisahkan tokoh yang saya kira sebelumnya bukan bergenealogi Muhammadiyah, tetapi ternyata “dari Muhammadiyah kembali ke Muhammadiyah”. Yang dimaksud ialah almarhum Agus Edi Santoso, sosok yang ikut membesarkan LazisMu. Mas Hajri juga bergaya anekdotal, dan tampaknya itu sudah menjadi ciri khasnya. Saya tak bisa membayangkan, manakala tokoh yang pernah menjadi Wakil Ketua MPR dan kini Dubes di Lebanon ini, orangnya seperti Kasman Singodimedjo atau HAMKA.

Selain itu saya juga sering mendengar, dan tampaknya ini sudah menjadi semacam tradisi, bagaimana para tokoh Muhammadiyah menceritakan tokoh-tokoh pendahulunya. Dan, yang lazim saya catat biasanya yang muncul dari keaktoran tokoh-tokoh itu ialah keikhlasannya, kesederhanaannya, keintelektualannya, hingga keluwesan berikut anekdotalnya.

Semua itu ialah rekaman dari dinamika dakwah yang mereka lalukan.

Editor: Yahya FR
Related posts
Review

Indonesia sebagai Konteks Bersejarah

3 Mins read
Indonesia adalah suatu fenomena baru yang menarik. Kemajemukan dan Pancasila adalah dua kenyataan yang tidak boleh diingkari dalam kehidupan bangsa Indonesia. Mengingkarinya…
Review

Kemerdekaan Bernalar dalam Dialog K.H Husein dan Prof. Kiai Ali Yafie

4 Mins read
Diaolog Dengan Kiai Ali Yafie, semacam dokumen hasil wawancara pendek namun serius antara dua intelektual muslim; K.H Husein Muhammad dan Prof. Kiai…
Review

Peta Konsep Sudah Ada pada Literatur Klasik

2 Mins read
Pada buku hari ini, kita sering menemukan peta konsep. Biasanya, ia ditempatkan sebelum, di tengah, atau di akhir paparan materi inti buku….

Tinggalkan Balasan