Teologi Kasih Sayang untuk Pengidap HIV/AIDS

 Teologi Kasih Sayang untuk Pengidap HIV/AIDS

Ilustrasi. Sumber: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi

Oleh: MK Ridwan*

Acquired Immune Deficiency Sydrome (AIDS) telah berkembang menjadi salah satu masalah kesehatan global yang menyita banyak perhatian kalangan. AIDS merupakan kumpulan dari berbagai gejala penyakit yang disebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh karena infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang/menginfeksi sel darah putih.

Sejak virus ini ditemukan pertama kali pada 1981 hingga akhirnya meledak sebagai pandemi global, HIV/AIDS tidak hanya tercatat sebagai problem kesehatan. HIV/AIDS telah menyangkut isu politik, etis, moral-teologis atau bahkan sebagai problem struktur dan kultur sosio-ekonomi global.

HIV/AIDS di Indonesia

Fenomena HIV/AIDS di Indonesia sendiri telah menjadi permasalahan yang cukup serius dan telah menjadi perhatian pemerintah beserta masyarakat pada umumnya. Pasalnya, sejak HIV/AIDS pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tahun 1987, Indonesia pada tahun 2008 pernah tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan HIV/AIDS tercepat di Asia.

Data dari Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI, mencatat bahwa sejak 1987 hingga Juni 2019 jumlah infeksi HIV mencapai 349.882, sedangkan yang menderita AIDS telah mencapai 116.977. Di samping itu, faktor penyebab menularnya HIV juga mengalami pergeseran dari A ke B, yaitu transmisi HIV secara heteroseksual menjadi penyebab utamanya (70,2%), sedangkan IDU (8,2%), diikuti homosex (7,0%) menjadi penyebab setelahnya. Begitupun dengan kondisi penderita AIDS lebih banyak diderita oleh karyawan (17.867) dan Ibu Rumah Tangga (16.844) berbanding terbalik dengan jumlah penjaja seks (3.499).

Data di atas menegaskan bahwa permasalahan HIV/AIDS di Indonesia dapat dikatakan telah mencapai pada tahap yang mengkhawatirkan dan membahayakan, karena telah memasuki kelompok perilaku risiko tinggi dengan tingkat penyebaran yang cepat dan telah menyebar ke berbagai kalangan masyarakat, baik kelas bawah, menengah maupun kelas atas.

Kesalahan Mempersepsi ODHA

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah sebutan untuk orang yang di dalam tubuhnya telah terinfeksi virus HIV yang diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai cara yaitu secara vertikal, horizontal dan transeksual. Jadi HIV dapat mencapai sirkulasi sistemik secara langsung dengan diperantarai benda tajam yang mampu menembus dinding pembuluh darah atau secara tidak langsung melalui kulit dan mukosa. Seperti yang terjadi pada kontak seksual.

Sementara itu, HIV/AIDS memang penyakit yang berhubungan erat dengan permasalahan seksualitas. Sementara secara umum, masyarakat Indonesia cenderung (masih) menganggap bahwa isu-isu seksualitas sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Sebagai dampak dari isu-isu seksualitas yang masih tabu oleh masyarakat itu, banyak di antara mereka masih tidak mengenal sama sekali istilah HIV/AIDS, maupun penyakit infeksi menular seksual (PIMS) secara umum.

Ironisnya, sebagian besar masyarakat yang telah mendengar istilah HIV/AIDS pun mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong. Dampaknya, kita sering mendapati masyarakat berpikiran bahwa ODHA adalah orang yang harus dikucilkan atau diawasi supaya tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. Bahkan berinteraksi dengan ODHA adalah sesuatu yang harus dihindari. Hasilnya, ODHA cenderung menjadi kelompok terkucilkan, tidak memiliki teman, dan kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi.

Dampak terburuk dari kesalahpahaman ini muncul dari kalangan agama, di mana kebanyakan umat beragama sering salah paham dalam mempersepsikan HIV/AIDS. Mereka seringkali membalut epidemi HIV dengan moral-teologis yang sifatnya normatif. Sehingga, tidak sedikit yang menyatakan bahwa fenomena tersebut merupakan penyakit kutukan, penyakit kotor, bahkan sebagai azab atas tindakannya melanggar norma agama, seperti menggunakan suntik narkoba, seks di luar nikah, bergonti-ganti pasangan, dan homoseksual.

Sejatinya menghubungkan fenomena HIV/AIDS dengan dosa, merupakan kesimpulan yang sempit, tergesa-gesa, dan tidak mutlak kebenarannya. Karena faktanya HIV/AIDS tidak hanya menyerang pada penjaja seks, konsumen narkoba, tetapi juga telah merambah pada anak-anak, ibu rumah tangga dan kelompok tidak berdosa lainnya. Sehingga, perlu adanya pemahaman baru bahwa fenomena HIV/AIDS tidak selamanya berhubungan dengan dosa dan kutukan.

Teologi Kasih Sayang

Theology of compassion (teologi kasih sayang) berangkat dari rasa empati bahwa ODHA telah mengalami derita fisik dan guncangan jiwa yang kompleks. Penderitaan ini masih ditambah dengan stigma sosial yang selalu mengucilkan dan merendahkan mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kemana mereka akan mengadu?

Probabilitas tertinggi mereka akan mencari naungan kepada agama untuk mencari ketenangan dari derita multidimensional. Namun, agama yang diharapkan tersebut seringkali justru memproduksi stigma negatif dan menuduh mereka sebagai orang-orang yang tidak bermoral, berperilaku bejat, dan dikutuk Tuhan. Lantas apa lagi yang bisa mereka harapkan? Kemana mereka akan pergi mencari naungan? Kepada siapa mereka akan mengadu?

Berangkat dari realitas inilah, perspektif teologi kasih sayang memahami bahwa fenomena HIV/AIDS lebih mungkin disebut sebagai krisis global yang erat kaitannya dengan ketimpangan-ketimpangan sosial daripada melihatnya sebagai masalah moral individu. Sehingga meletakkan ODHA bukan sebagai orang-orang terhukum atas kecerobohan moral dan pelanggaran susila, tetapi sebagai korban atas ketidakadilan sistem dan struktur sosial-politik.

Teologi kasih sayang menggunakan perspektif kemanusiaan sebagai alat justifikasi pembelaan terhadap hak-hak kaum lemah, tertindas dan terpinggirkan, termasuk ODHA. Teologi kasih sayang menjadi salah satu alternatif pendekatan yang humanis. Sebuah teologi yang mau merangkul ODHA sebagai kelompok yang perlu diperhatikan bersama. Setidaknya dapat memberikan dorongan moral dan psikologis bagi ODHA untuk melawan penyakitnya tersebut.

Sehingga, melalui perspektif teologi kasih sayang adalah bagaimana agar perspektif moral dalam konteks HIV/AIDS tidak justru mengakibatkan munculnya stigma-stigma baru dan dominan bagi ODHA. Juga tidak memunculkan hujatan-hujatan yang semakin memperburuk keadaan psikologis ODHA. Maka, dalam konteks inilah agama harus mampu menghadirkan perspektif moral secara lebih konstruktif dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS.

Bukan Membela Pendosa

Kendati demikian, perspektif teologi kasih sayang bukan berangkat dari semangat untuk membela “pendosa”. Teoogi kasih sayang hadir dengan semangat untuk membebaskan orang-orang yang memang tertindas dan terkucilkan di tengah struktur dan kultur masyarakatnya.

Dalam konteks HIV/AIDS dan agama, satu-satunya cara adalah mencoba memahami kompleksitas HIV/AIDS secara lebih luas dan komprehensif. Sehingga agama akan benar-benar mampu menawarkan alternatif serta respon yang lebih terbuka.

Hal ini kemudian akan mendorong agama untuk berperan secara lebih konkret. Karena respon agama selama ini, yang hanya terus-terusan mengkampanyekan moralitas, hanya bisa menyentuh aspek preventif, terlepas dari evaluasi efektivitasnya.

*) Penulis. Alumnus IAIN Salatiga, Jawa Tengah

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *