Kulonuwun, Pak Nadiem..

 Kulonuwun, Pak Nadiem..

Ilustrasi. Sumber: Nasional Tempo.co

Oleh: Sri Lestari Linawati*

Komunitas menulis “Sahabat Pena Kita” mengajak anggotanya sowan Pak Nadiem Makarim untuk berbincang tentang pendidikan, tentu saja melalui tulisan. Kami adalah sebuah komunitas yang anggotanya sangat beragam. Ada professor, para doctor, kiai, dosen, guru, mahasiswa, pengusaha, maupun ibu rumah tangga. Satu focus kami adalah menulis. Menulis adalah sebentuk kepedulian kami untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Dalam ikatan menulis inilah, kami bersama mencoba mengurai persoalan pendidikan, mencoba memberikan alternatif-alternatif solusi pemecahan masalah di bidang pendidikan. Antologi adalah sebuah karya bersama kami. Selain itu, kami saling support agar bisa menerbitkan buku solo. Kami berusaha menumbuhkan pemahaman bahwa menulis itu mudah. Menulis itu tanda terima kasih kepada guru. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Bapak Nadiem,

Tentu kami sebagai warga Indonesia harus senantiasa mendukung program dan upaya pemerintah dalam memajukan pendidikan. Dengan segenap daya dan upaya, kami harus senantiasa berpartisipasi aktif ikut memajukan pendidikan Indonesia, siapapun menteri yang dipilih oleh pemerintah. Sebagai lulusan Harvard University dan mantan CEO Gojek, tentu pemerintah menaruh harapan perbaikan pendidikan Indonesia di pundak Bapak.

Pak Nadiem yang kami banggakan,
Saya belum bisa sekolah ke luar negeri sebagaimana Bapak, namun ketika bicara soal peningkatan kualitas pendidikan Indonesia, saya merasa terpanggil untuk bergerak bersama Bapak. Sederhana saja, Pak, saya punya mimpi untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia. 2 April 2020 nanti, sekolah balita BirruNA yang kami kelola akan genap berusia Sembilan belas tahun. Anak-anak usia 3 bulan hingga 6 tahun yang ditinggal bekerja ibu bapaknya menjadi focus bidang garap kami. Anak-anak itu membutuhkan sentuhan kasih sayang, perhatian dan kasih sayang. Kami ajak mereka bermain dan makan untuk menjaga kesehatannya. Kami ajak Nasyi’atul ‘Aisyiyah dan komponen masyarakat untuk peduli pada ibu dan anak.

Pak Nadiem,

Ada beberapa hal yang kami pelajari selama kami memberikan layanan tersebut. Satu, tidak ada anak yang tidak doyan makan. Keadaan ibu bekerja, juga bapak yang bekerja, telah sedikit banyak mengganggu psikologis anak. Ibu yang buru-buru masuk kantor, sedangkan anak masih butuh tidur, misalnya, tentu akan enggan makan. Sebagai seorang bocah kecil, dia butuh makan dengan suasana hati yang tenang dan nyaman, juga waktu yang longgar. Mereka harus mengunyah pelan makanannya, tidak bisa diburu dalam hitungan menit. Inilah konsekuensi psikologis yang musti dihadapi para bocah karena keadaan ibu dan bapaknya bekerja.

Pak Menteri,

Sekarang jamannya memang sudah berubah. Perempuan tidak lagi dipingit sebagaimana Kartini. Perempuan bebas sekolah, bebas bekerja, bebas pula menentukan suaminya. Perempuan juga masuk dalam kancah politik. Kuota perempuan di kursi pemerintahan juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pemberdayaan perempuan di berbagai sector juga terus disosialisasikan. Pengarusutamaan gender pun senantiasa didengungkan.

Pak Menteri,

Konsekuensi logis dari keterlibatan peran perempuan di wilayah public tersebut adalah diperlukannya kejelasan peran surrogate mother, ibu pendamping. Siapakah yang akan mengurus anak-anak yang ditinggal kerja ibunya, bapaknya? Ada banyak TK, ada banyak PAUD. Namun, Pak Menteri, TK dan PAUD yang ada ini masih terasa belum mampu menjawab kebutuhan surrogate mother itu. TK umumnya hanya berlangsung 2 jam saja, dari jam 8 hingga jam 10. Kalaupun ada kegiatan ekstra, jamnya hingga jam 11 atau 12. Kalaupun ada fullday, biayanya tinggi, hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berkantong tebal. Begitu pula dengan PAUD, tidak jauh beda. Dampaknya adalah masih banyaknya anak yang belum terlayani oleh PAUD dan TK. Mereka bermain sendiri di rumahnya, yang penting diam. Bila ibunya tidak ada pekerjaan lain, oke saja. Hla kalau ibu harus bekerja? Kalau simbahnya juga repot? Atau sang ibu harus mengikuti pendidikan dan pelatihan?

Pak Menteri,

Kini saya mengabdi di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Kampus ini membawa misi Islam Berkemajuan dan perempuan Islam Berkemajuan. Saya senang berinteraksi dengan para mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini. Kian terbentang di hadapan saya bahwa saya harus memberikan dukungan positif pada pengembangan potensi perempuan. Kebebasan, pencerahan, pemberdayaan semacam apakah yang musti dimiliki perempuan, semua dikaji di kampus ini. Membuat saya kian termotivasi untuk terus menguatkan perempuan Indonesia. Karena saya pun perempuan. Saya merasakan betapa tidak mudahnya harus menjadi perempuan. Ilmu, ketrampilan, kecerdasan dan akhlak budi pekerti musti jadi pegangan. Untuk diri pribadi, keluarga, umat, masyarakat dan bangsa, perempuan musti mengasah ilmunya senantiasa.

Pak Menteri Nadiem Makarim yang kami hormati,

Pilihan perempuan terjun di wilayah public bukanlah pilihan tanpa kata. Kami tahu bahwa apapun yang kami lakukan untuk kemajuan bangsa adalah pekerjaan mulia. Dukungan Bapak terhadap PAUD-TK dan perlindungan kerja bagi perempuan akan menjadi hadiah terindah bagi kami para perempuan. PAUD dan TK yang ada agar dibuat system sedemikian rupa sehingga proses pembentukan pribadi qurrata a’yun dan shalih shalihah akan mewujud nyata dalam kurikulum. Janganlah kurikulum itu menjadi hanya semacam barisan kata-kata tanpa makna. Tidak benar membangun pendidikan dengan paradigma “ono rego ono rupo”, “ada harga ada rupa”. Bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa telah menjadi amanah UUD 1945? Bila pendidikan bisa kita permudah, mengapa harus dipersulit?

Pak Menteri,

Perlindungan kerja bagi perempuan juga menjadi hadiah terindah bagi kami. Benar bahwa tugas utama suami adalah mencari nafkah, namun bukan berarti ketika sang istri bekerja, perusahaan berhak menggajinya di bawah standar laki-laki. Di bidang apapun perempuan bekerja, itu semua dilakukannya demi kemajuan dan kejayaan Indonesia. Haid, hamil, melahirkan, menyusui adalah kodrat perempuan. Dukungan dunia kerja terhadap kodrat perempuan ini perlu diwujudkan dalam bahasa kerja. Haid itu dialami tiap bulan oleh perempuan dan itu tidak nyaman dalam bekerja. Secara fisik dan psikologis perempuan memerlukan waktu istirahat. Demikian juga keadaan hamil, melahirkan dan menyusui.

Pak Menteri,

Hamil selama Sembilan bulan itu membutuhkan asupan gizi yang baik agar terlahir bayi-bayi generasi bangsa Indonesia yang sehat, kuat dan cerdas. Bila sang ibu hamil berada dalam kondisi kerja yang berat secara fisik dan mental, maka apa yang akan terjadi? Melahirkan juga butuh perjuangan fisik dan mental sang ibu. Ibu harus menjaga kesehatannya dengan baik, nutrisi baik, olahraga cukup, doa dan dzikir dan mempelajari sedini mungkin tentang perawatan bayi. Ini adalah upaya perbaikan psikologis ibu agar ibu mampu melahirkan sang bayi dengan baik.

Tanpa itu semua, melahirkan akan memberikan pengalaman buruk pada ibu. Ibu hanya akan mengumpat atas sakit yang dideritanya selama proses persalinan. Begitu juga menyusui. Pemberian ASI eksklusif 6 bulan pertama sang bayi hanya akan bisa terlaksana apabila perempuan diberikan waktu cukup. Cuti 3 bulan bagi ibu melahirkan terasa menyesakkan bagi upaya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Keberpihakan dunia kerja pada kondisi biologis dan psikologis perempuan ini akan merupakan pranata penting pemerintahan dalam membangun Indonesia Berkemajuan.

Pak Menteri Nadiem,

Dari keempat putra-putri kami, saya banyak belajar tentang dunia pendidikan. Bagaimana TK dilarang mengajarkan calistung, namun SD kelas satu sudah dituntut bisa calistung. Bagaimana anak SD sejak kelas 1 hingga 6 diminta membawa seluruh buku mata pelajaran yang sehari bisa 4 hingga 5. Bisa dipastikan tasnya berat. Anak merasa harus mematuhi perintah gurunya. Guru menerangkan pelajaran pada murid, mengejar target kurikulum. Guru pun sibuk mengisi lembar akreditasi. Kelas 6 sibuk les sana-sini. UNAS adalah target kelulusan, seakan hidup mati ditentukan hanya oleh UNAS. Marilah kita semua para pemangku pendidikan, sejak PAUD, TK dan SD duduk bersama merumuskan pola pendidikan yang mencerahkan, membahagiakan dan mencerdaskan itu bagaimana? Inilah jibaku kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Pendidikan formal, non formal dan informal musti kita gerakkan bersama-sama mewujudkan pendidikan dimaksud. Silakan para pimpinan bangsa merumuskan anggaran, namun janganlah anggaran itu ‘digadaikan’ atas nama mahalnya biaya pendidikan. Mungkinkah negara menggratiskan PAUD, TK dan SD?

Pak Menteri Nadiem,

Sebagai lulusan Universitas Gadjah mada Yogyakarta, saya terus mendarmabaktikan diri untuk bangsa. Menggerakkan BirruNA PAUD Berbasis Alam dan Komunitas adalah sebuah sejarah yang tidak bisa kami hentikan. Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkannya di desa lain, sebagaimana pesan GKR Hemas saat berkunjung pada Desember 2005. Sekitar tahun 2006, bersama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), kami menerima kunjungan 6 negara yang tergabung dalam NGO. Kepedulian dan keprihatinan terhadap nasib anak bangsalah yang mendorong kami untuk terus berbuat bagi negeri.

Kini, Pak Menteri Nadiem,

Sebagai dosen perguruan tinggi swasta, kami ingin terus mengabdi dan berkarya untuk negeri. Catur dharma akan coba terus kami tunaikan. Melalui komunitas menulis Sahabat Pena Kita, semangat menulis akan terus kami suarakan. Melalui Asosiasi Lembaga Al-Islam Kemuhammadiyahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (ALAIK PTMA), suasana dan ruh pencerahan akan senantiasa kami kibarkan. Mari bersama kita wujudkan Indonesia yang adil dan beradab, Indonesia yang sejahtera, aman tentram gemah ripah loh jinawi. Salam Literasi.

*Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Pegiat literasi ini tinggal di Kanoman, Banyuraden, Gamping, Sleman DIY. Asalnya dari Jember, Jawa Timur. Buku solo perdananya, Januari 1997, “Menggerakkan Irmawati”. Buku solo keduanya, Mei 2018, “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku yang terlahir bersama Sahabat Pena adalah Resolusi Menulis (Mei 2017), Mendidik Anak di Era Digital (Oktober 2017), Virus Emcho (Desember 2017), Perempuan Dalam Pusaran Kehidupan (Maret 2018), Sahabatku Inspirasiku (Maret 2018), Belajar Kehidupan (Januari 2019), Literasi di Era Disrupsi (Juli 2019). Tulisan Lina bisa dibaca di www.srilestarilinawati.wordpress.com atau sllinawati.blogspot atau penulisunisa.unisayogya.ac.id atau sahabatpenakita.id. Koresponden dan sharing, dengan suka cita Lina lakukan di nomor HP/WA 0812.15.7557.86 atau email [email protected]

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *