Jamaluddin Al Afghani: Membongkar Benteng Kejumudan Politik Islam

 Jamaluddin Al Afghani: Membongkar Benteng Kejumudan Politik Islam

IBTimes.ID

Oleh: Irawan*

-Afghani- Segala sesuatu itu berubah, yang tetap hanyalah satu, perubahan itu sendiri. begitu pun sejarah pertumbuhan dan perkembangan dunia Islam. Pernah mengalami masa keemasan lalu kemudian terjadi stagnasi pemikiran. Hal itu menyebabkan umat Islam berada dalam trauma kekalahan demi kekalahan dan kemudian mencoba bangkit kembali dengan pembaharuan.

Memasuki abad ke 19, dunia Islam mengalami kemunduran, hampir seluruh dunia muslim berada dalam cengkeraman dan campur tangan barat terhadap negara-negara Islam. Akibatnya, umat Islam benar-benar terjebak pada taklid buta dan mengalami kejumudan dalam berbagai bidang. Baik pendidikan, sosial, politik, dan budaya.

Latar Belakang Intelektual Al Afghani

Di tengah keterpurukan tersebut, muncullah sosok reformis politik dunia Islam, Sayyid Jamaluddin Al Afghani. Salah seorang tokoh  pergerakan dan pembaharuan kebangkitan Islam akhir abad 19 yang lahir di Afghanistan 1839 M. di versi lain, ia lahir di Asadabad, Iran (Iqbal, 2010). Ayahnya bernama Sayyid Shafdar, seorang penganut mazhab Hanafi di kalangan terhormat dan mempunyai nasab sampai Rasulullah melalui Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib, suami Fatimah putri Rasulullah. Oleh karena itu, di depan Jamaludin Al Afghani diberi titel “Sayyid” (J.Brill, 1965) .

Afghani kecil usia 12 tahun sudah hafal Alquran dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan  di antaranya; bahasa Arab, ilmu syariah, fiqih, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, fisika, ilmu kedokteran, etika, dan politik. Kemudian lanjut belajar ke India selama satu tahun melalui metode modern dan meneruskan perjalanan ke mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji. Perjalanan ini memakan waktu setahun. Ia singgah dari satu kota ke kota lain sambil mengamati adat istiadat masyarakat yang di lewati hingga sampai Mekkah pada tahun 1857 (Mortimer,1982).

Dengan bekal pengalaman dan penguasaan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin inilah muncul sosok Jamaludin Al Afghani dengan karakternya yang khas. Seperti yang di tulis Hourani, Afghani di gambarkan sebagai seorang yang setia dengan keyakinannya dan tegar dalam menegakkan keyakinan tersebut, bersikap zuhud tetapi cepat marah apabila disinggung kehormatan diri dan agamanya.

Kiprah dalam Politik

Perjalanan Afghani dalam ranah politik sudah dimulai sejak usia 22 tahun dengan menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan. Pada usia 25 tahun, ia menjadi penasihat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian, ia di angkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi perdana menteri di Afghanistan. Kala itu, Inggris sudah mencampuri urusan Afghanistan, terjadilah pergolakan dengan melawan Inggris. Namun pihak Afghani kalah dan merasa lebih aman untuk pergi dari tanah tempat kelahirannya (Nasution, 1993).

Ketika di Mesir, ia kembali melihat Inggris sudah terlalu jauh mencampuri urusan dalam negeri Mesir. Sebagai seorang yang di tempa dalam lapangan politik, ia tidak bisa tinggal diam, sebagai bentuk protes ia mendirikan partai nasional yang disebut Hizb al-Wathani. Dengan tujuan untuk menanamkan kesadaran nasionalisme dalam diri orang-orang Mesir. Ini terbukti dengan mengembangkan slogan yang di kumandangkan “Al Mishr li Al- Misriyyin” (Mesir untuk orang Mesir). Akhirnya dalam sebuah konspirasi, Inggris berhasil menghasut penguasa Mesir untuk mengusir Afghani. kembali lagi Afghani menjalani kehidupan dengan mengembara. Pengembaraan itu meliputi lintas negara seperti London, Paris, Teheran, dan Istambul. Pada 9 Maret 1897, Afghani mengakhiri hidupnya di usia 59 tahun karena penyakit kanker (Amin, 1979).

Pemikiran Pembaharuan

Dari pengembaraannya, wawasannya pun semakin luas. Sehingga ia dapat menawarkan berbagai alternatif dari permasalahan umat Islam. Menurutnya, dunia Islam menghadapi penyakit kronis yang menggerogoti masyarakat. Sehingga umat Islam tidak mampu menegakkan kepala mereka berhadapan dengan bangsa-bangsa lain. Penyakit itu adalah Absolutisme penguasa muslim, sikap keras kepala dan keterbelakangan umat Islam dalam ilmu pengetahuan, serta menjamurnya  cara berpikir umat Islam yang masih kolot.  Serta tidak sadar bahaya kolonialisme dari imperialisme barat (Iqbal, 2010). Adapun cara mengobatinya menurut Afghani :

Pertama, memperbaiki pemahaman agama Islam. Afghani melihat bahwa umat Islam mengalami problem tentang kesadaran dalam beragama. Agama yang seharusnya hadir sebagai solusi untuk kehidupan, malah menjadi sumber perpecahan. Agama hanya sebatas menjadi alat perdagangan, karena kepentingan semata oleh orang-orang yang berkepentingan. Kemudian merebaknya pemahaman yang salah tentang takdir yang membuat umat Islam menjadi bersikap fatalisme terhadap keadaannya dan tertutupnya pintu ijtihad.

Karena itu Afghani menafsirkan ulang tentang pemahaman takdir yang sebelumnya bersikap pasrah menjadi bersifat kausalitas. Maksudnya, bahwa semua penentu memang dari Allah. Tapi di situ yang berperan besar tolak ukur penentu adalah usaha yang dilakukan manusia itu sendiri. Kemudian pintu ijtihad masih harus terus dibuka, ia meyakini bahwa Islam selalu sesuai dengan semua bangsa, semua zaman, semua keadaan. Jika kelihatan ada pertentangan antara ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa oleh perubahan zaman, maka penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan Ijtihad baru tentang agama Islam (Nasution, 1993).

Kedua, membangun pemerintahan Islam yang kuat dan pentingnya persatuan Islam melawan kolonialisme barat. Afghani prihatin melihat pemerintahan Islam yang pejabatnya masih banyak yang korup dan semena-mena. Serta masih menggunakan cara-cara lama sehingga ketika datang penjajahan, bingung mau bagaimana. Ditambah persatuan islam yang lemah terkotak-kotak.

Afghani berpendapat pemerintahan Islam yang kuat, pertama kali dibangun adalah perubahan orientasi pemikiran dalam masyarakat dari keterpakuan dan sikap menerima saja terhadap pemerintahan yang ada. Lalu menuju upaya perubahan terhadap kondisi yang tidak sesuai menuju sesuai ajaran Islam. Sebagaimana dikutip Ahmad Amin, pada hakekatnya, kekuatan sebuah masyarakat akan bernilai, bila timbul dari masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu pemikiran dan jiwa masyarakat harus terlebih dahulu dibangun dan di benahi, barulah bisa dibicarakan bagaimana bentuk sistem pemerintahan (Amin,1979).

Bukan Otokrasi Melainkan Demokrasi

Adapun sistem pemerintahan yang ideal saat ini menurut Afghani bukanlah Otokrasi tapi Demokrasi. Sebab, di dalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat dan kewajiban kepala negara untuk tunduk pada undang-undang dasar. Karena ini pula, Afghani menghendaki umat Islam bebas dari pemerintahan kolonial.

Kemudian untuk mewujudkan persatuan Islam, Afghani mengumandangkan melalui ide politiknya Pan Islamisme. Yaitu suatu paham yang bertujuan untuk mempersatukan seluruh umat muslim di dunia, maksudnya secara spesifik dengan bersatu dan mengadakan kerja sama yang erat. Dengan itu, umat Islam dapat kembali memperoleh kemajuan. Dalam pandangannya, kekuatan dan kelanjutan hidup umat Islam tergantung kepada kekuatan solidaritas Islam. persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam (Esposito,1988).

Dampak dari Pan Islamismenya mampu menginspirasi dunia Islam sampai saat ini. Bukti konkritnya, umat Islam mampu mewujudkan lembaga-lembaga resmi untuk kepentingan dunia Islam seperti OKI, CIC, dan lembaga lain yang dianggap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat Islam. Dari gagasan ini maka sangat tepat kiranya Afghani disebut sebagai orang pertama yang menyadari bahaya penetrasi barat dan pembuka mata kejumudan politik dunia Islam. karena baginya, Islam tidak saja sebagai agama tetapi lebih dari itu, Islam sebagai peradaban.

*Ketua Umum PK IMM Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran 2019

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *