Tiga Tawaran Moderasi Keindonesiaan dari Muhammadiyah - IBTimes.ID
Perspektif

Tiga Tawaran Moderasi Keindonesiaan dari Muhammadiyah

4 Mins read

Moderasi diartikan oleh banyak kalangan sebagai sebuah frasa yang merujuk pada pembahasan isu agama. Moderasi menjadi sebuah alternatif untuk melawan perbuatan ekstrem dalam menjalankan kepercayaan agama tertentu. Terlebihnya adalah agama Islam. Moderasi identik dengan sifat tengahan (Wasathiyyah).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), moderasi diartikan pengurangan kekerasan; penghindaran keekstreman. Merujuk dari istilah diatas, moderasi bisa diibaratkan sebuah resep obat untuk mengobati penyakit-penyakit tentang kekerasan, kasar, mudah marah, gemar mengkafirkan, dan cenderung menutup diri dari dialog dalam aktivitas teologi keagamaan.

Namun, sebelum kita mengulas lebih dalam mengenai moderasi apakah memang moderasi betul-betul penting dilakukan? Sejauh mana urgensi mempraktekkan moderasi di dalam kehidupan kita? Ada ulasan menarik dari Hasnan Bachtiar (2021), tentang pandangannya terkait objek moderasi. Yakni agama, khususnya agama Islam yang betul betul relevan. Menurut Hasnan (2021), bukan Islamnya yang ditengahkan.

Namun, yang ditengahkan adalah doktrin ajaran, pemikiran, tafsiran, dan pemahaman Islam yang bertentangan dengan akar dari nilai ajaran murni agama Islam yang damai dan teduh. Singkatnya, menurut Hasnan yang perlu dimoderasikan adalah ide, argumentasi, maupun segala tindakan dalam praktek beragama yang justru melawan arus dengan apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW yang memuat ajaran perdamaian, welas asih, cinta, dan membela kemanusian.

Di Muhammadiyah, moderasi beragama dipopulerkan oleh Ketua Umumnya Profesor Haedar Nashir, pada pidato pengukuhan guru besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Menurut Prof. Haedar (2019), moderasi merupakan pilihan untuk melawan radikalisme atau ekstrimisme sebagaimana ditulis Ibrahim (2018):

“The issue of moderation has been chosen in order to counter the pressing issue today, which is extremism. This is crucial since at present, religion and tradition have been accused for hosting the idea of extremism and held responsible for infusing its idea to the extremist followers.”

Moderasi, atau Wasatiyyah (merupakan sinonim bahasa Arab: tawassuṭ, iʿtidāl, tawāzun, iqtiṣād), sangat selaras dengan konsep keadilan, yang berarti memilih posisi di tengah antara titik-titik ekstremitas. Moderasi sering digunakan secara bergantian dengan istilah “rata-rata,” “inti,” “standar,” “hati,” dan “ketidakberpihakan.” Kebalikan dari wasaṭiyyah adalah taṭarruf, yang menunjukkan “kecenderungan ke arah pinggiran” dan dikenal sebagai “ekstremisme” , “ Radikalisme” dan” berlebihan”.

Baca Juga  Mata Pelajaran Agama dan PPKn Hendak Digabung?

Penulis yakin bahwa Muhammadiyah sudah memberikan contoh teladan konkret ke-moderasi-an di dalam seluruh lingkup kehidupan. Dan tidak terbatas pada moderasi beragama saja. Namun, ada berbagai moderasi yang dicontohkan dan ditawarkan oleh Muhammadiyah kepada Bangsa Indonesia. Adapun tiga moderasi yang dimaksud ialah : Moderasi Pendidikan, Moderasi Ekonomi, dan Moderasi Kemanusiaan.

Moderasi Pendidikan

Sudah bukan rahasia umum lagi jika Muhammadiyah merupakan salah satu atau malah satu-satunya Organisasi Masyarakat (Ormas) yang memiliki total amal usaha di bidang pendidikan mencapai 27.000 unit yang terdiri dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi (Kemendikbud, 2020).

Salah satu amal usaha yang juga menjadi semangat awal berdirinya Muhammadiyah adalah pada bidang Pendidikan. Lembaga Pendidikan Muhammadiyah berhasil melahirkan berbagai tokoh pendiri bangsa, misalnya Soeharto (mantan Presiden RI) yang merupakan alumni SMP Muhammadiyah (Schakel Muhammadiyah) di Yogyakarta.

Lalu ada HM. Rasyidi (Menteri Agama RI Pertama), pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Mu’allimin Muhamamdiyah Yogyakarta. Ada Jenderal Besar Sudirman (Bapak Tentara Nasional Indonesia), yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah Muhammadiyah di Cilacap. Ia juga aktif di Pandvinder Muhammadiyah (sekarang Kepanduan Hizbul Wathan). Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang dibesarkan di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga punya semangat bahwa seluruh masyarakat di Indonesia harus bisa sekolah. Salah satu contoh populer yang kita ketahui ada dalam film Laskar Pelangi. Sebuah film yang menceritakan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah di Belitung yang hampir ditutup karena kekurangan siswa. Bahkan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Papua 90% merupakan putra asli Papua dan tidak sedikit dari mereka adalah non-muslim.

Baca Juga  Nasikh Mansukh, Peralihan Ayat Madaniyah ke Ayat Makiyyah

Ulasan singkat diatas merupakan semangat moderasi Muhammadiyah, yang terus berokbar, eksis, dan menebar kebermanfaatan bagi anak bangsa hingga saat ini, yang terbukti berhasil mewujudkan pemerataan pendidikan, dan mengayomi masyarakat terpinggirkan di bidang pendidikan.

Moderasi Ekonomi

Selain menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Total aset kekayaan Muhammadiyah juga tidak main-main jumlahnya. Dikutip dari Detikfinance.com (29/10/2020), Muhammadiyah memiliki aset tanah lebih dari 21 juta meter persegi. Jumlah tersebut tersebar dari mulai tataran Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Ranting. Belum lagi nilai penempatan dana Muhammadiyah yang disimpan dalam bentuk giro dan deposito di tiga bank syariah milik anak usaha bank BUMN. Nilainya bisa mencapai Rp. 15 Trilliun (Finansial.Bisnis.com (16/10/20)).

Menurut Ketua PP Muhammadiyah bidang Ekonomi Anwar Abbas, jika ditotalkan seluruh aset Muhammadiyah baik berupa dana yang disimpan di Bank maupun berupa aset berbentuk fisik, bisa mencapai Rp 400 triliun. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah organisasi masyarakat keagamaan. Tidak heran jika Muhammadiyah secara ekonomi sangat mandiri untuk menghidupi rumah tangganya sendiri. Muhammadiyah bukan tipe organisasi yang manja, dan gemar menengadahkan tangannya untuk meminta belas kasihan dari negara.

Justru, Muhammadiyah berusaha membantu negara mencukupi anggaran yang masih kurang dan rumpang. Terbukti Muhammadiyah merelakan anggaran BPJS sebanyak Rp 500 miliar untuk di hutang oleh negara dan akhirnya menunggak pada 2019 lalu. Muhammadiyah tidak lantas memberontak kepada pemerintah hanya disebabkan adanya tunggakan tersebut. Justru, di masa pandemi Covid-19, Muhammadiyah secara Jor-Joran (Baca: Totalitas) membantu penanganan Covid, melalui Muhammadiyah Covid Command Center (MCCC).

Selain itu sistem ekonomi ala Muhammadiyah, tidak terjangkit penyakit kapitalis. Dimana keuntungan bisnis dicari sebanyak-banyaknya, serta keuntungannya hanya dinikmati oleh segelintir individu ataupun kelompok golongan tertentu saja. Terbukti dari salah satu Klub baru milik Muhammadiyah (PS HW UMY), keuntungan penjualan jerseynya sebanyak 10 persen disumbangkan kepada Lembaga Amil, Zakat, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), untuk kemudian dimanfaatkan guna kepentingan filantropi. Hal inilah yang menjadi salah satu bukti konkret moderasi sekaligus best practice Muhammadiyah dalam bidang ekonomi, yang bisa diakui aksi nyatanya hingga detik ini.

Baca Juga  Muhammadiyah Aid Serukan Galang Dana Nasional untuk Palestina

Moderasi Muhammadiyah dalam Kemanusiaan

Muhammadiyah sejak awal berdiri sudah tergerak untuk membantu kemanusiaan. Dimulai dari peristiwa meletusnya gunung kelud pada tahun 1919, Muhammadiyah sudah terjun ke lapangan membantu korban-korban bencana.

Hingga secara resmi pada tahun 2007 Muhammadiyah memiliki lembaga cepat tanggap bencana, yang dinamai Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Lembaga ini pada pandemi Covid-19 juga mengerahkan satuan tugas (Satgas) bernama MCCC. Satuan tugas ini merupakan gabungan tim dari Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), dan Lazismu.

Dihimpun dari Republika (2021), dalam gerakan Muhammadiyah Melawan Pandemi, persyarikatan Muhammadiyah sudah menggelontorkan dana pandemi sebanyak Rp 1 Triliun dengan penerima manfaat sebanyak 32,3 juta jiwa. Sebanyak 117 unit Rumah Sakit beserta tenaga kesehatan (Nakes) sebanyak 9621 orang dan relawan sebanyak 75 ribu orang diterjukan untuk menanganai pasien Covid. Data di atas tidak sekadar angka-angka, namun bentuk nyata komitmen Muhammadiyah
kepada Bangsa.

Tiga hal yang telah penulis sampaikan diatas adalah derap langkah nyata Muhammadiyah untuk menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Muhammadiyah tidak berhenti berwacana pada moderasi beragama saja. Namun, melalui tiga pendekatan moderasi Pendidikan, Ekonomi, dan Kemanusiaan, Muhammadiyah berhasil membangun moderasi kebangsaan dan keindonesiaan yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun, pada kesempatan Milad Muhammadiyah ke-109, mengapresiasi atas kiprah Muhammadiyah mewarnai perjalanan bangsa, bersinergi, membangun kekuatan, berjuang, merawat, dan memajukan Indonesia. Sekali lagi, hal tersebut menjadi penegasan atas kontribusi Muhammadiyah pada moderasi Keindonesiaan dan Kebangsaan. Khususnya pada tiga bidang vital negara yang telah penulis ulas diatas.

Editor: Yusuf

*)Tulisan ini adalah juara 3 Lomba Kepenulisan Revolusi Mental PP IPM – Kemenko PMK

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
3 posts

About author
Ketua PD IPM Kota Yogyakarta Bidang Advokasi. Anggota Bidang Kader PK IMM A.R Sutan Mansur, UNY
Articles
Related posts
Perspektif

Menerapkan Pendidikan Berbasis Hati dalam Dunia Pendidikan

3 Mins read
“Selamat Hari Guru Nasional bagi yang memperingatinya. Semoga dengan Hari Guru Nasional, pengabdian guru dan jajarannya semakin ikhlas dan semakin diridhoi Allah…
Perspektif

Bagaimana Asal Mula Munculnya Pendidikan Seksual?

4 Mins read
Di Eropa, sudah lebih dari setengah abad pendidikan seksual diterapkan menjadi salah satu subjek dalam kurikulum sekolah. Bermulai dari Swedia pada tahun…
Perspektif

Dua Cara Membangun Iklim Positif di Lingkungan Sekolah

2 Mins read
Sekolah merupakan sebuah lembaga pembelajaran formal yang berisi siswa sebagai aktor pembelajar dan guru sebagai aktor pengajar yang bertujuan untuk menciptakan generasi…

Tinggalkan Balasan