Umat Islam dalam Gerakan Global Pencegahan Bencana

 Umat Islam dalam Gerakan Global Pencegahan Bencana Ilustrasi: Lazismu Jawa Timur            

Agenda besar usaha pencegahan bencana selanjutnya adalah bagaimana mengubah kondisi warga yang tidak berdaya secara ekonomi dan politik menjadi lebih berdaya. Karena ketidakberdayaan seseorang secara ekonomi dan politik berbanding lurus terhadap besarnya potensi dirinya terdampak bencana.

Menurut John Twigg dalam The ‘characteristics of a disaster-resilient community’ (2009), tingkat risiko bencana sebuah masyarakat bisa naik atau turun tergantung pada naik turunnya tingkat ekonomi maupun besar kecilnya akses masyarakat itu terhadap kebijakan publik.

Du’afa, Mustad’afin, dan Kerentanan Dinamis

Seseorang yang termasuk pada masyarakat ekonomi lemah tentu tidak banyak punya pilihan untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman atau memiliki simpanan sumberdaya untuk menghadapi kondisi darurat. Kejadian darurat bencana bagi mereka yang miskin akan semakin memiskinkan bila tidak ada dukungan dari pihak–pihak yang menguasai sumberdaya. Merekalah yang disebut agama sebagai orang–orang miskin atau du’afa.

Sementara seseorang yang memiliki akses pada kebijakan publik yang rendah juga mempertinggi kemungkinan dirinya terdampak bencana. Sekelompok masyarakat yang tidak berdaya terhadap kebijakan yang merusak lingkungan tempat tinggal mereka tentu akan menjadikan mereka masyarakat yang paling berisiko terdampak bencana. Merekalah orang – orang tertindas, orang–orang mustad’afin. Orang–orang yang terpinggirkan dari kebijakan yang berdampak kepada mereka sendiri.

Merujuk pendapat Kuntowijoyo yang  mengartikan du’afa sebagai ‘orang kecil’ dan mustadh’afin sebagai ‘orang teraniaya’ yang didasarkan pada surah al-Baqarah ayat 266 dan surat an-Nisa ayat 75. Menurut Kuntowijoyo, Alquran memakai kata dhu’afa untuk menggambarkan kesenjangan natural yakni kemiskinan. Sementara itu, kata mustadh’afin untuk menunjukkan adanya kesenjangan struKtural atau ketertindasan.

Melihat pola di atas, maka umat Islam wajib membangun gerakan untuk membela dan memberdayakan mereka yang berisiko tinggi tersebut. Misi keagamaan untuk memastikan mereka yang du’afa dan mustad’afin untuk diberdayakan dan dibela tersebut di atas senafas dengan perjuangan amar ma’ruf nahi munkar, yang dalam sejarah umat Islam di Indonesia dipraktikkan oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan pada tafsir Al-Qur’an surat Al-Maun.

Baca Juga  Mencari Spiritualitas, Hijrah ke Salafi: Mengapa Bukan ke Tasawuf, NU atau Muhammadiyah?

Mereka yang miskin wajib dibantu dengan segala upaya oleh siapapun mereka yang berkelebihan penguasaan dan akses sumberdaya ekonomi, dan mereka yang yatim (dari kebijakan) wajib dibela oleh siapapun yang memiliki  atau menguasai akses pada perubahan kebijakan. Bila kita mampu dan punya akses tetapi kita tidak melakukan apa – apa jangan – jangan  kita akan dianggap menjadi bagian dari orang – orang yang lalai terhadap agama kita.

Beragama yang tidak digunakan untuk membela dan memberdayakan adalah menjadikan agama hanya semacam candu belaka, atau semacam kemewahan yang memabukkan, bahkan hanya menjadi kesalehan yang dimaksudkan untuk bermegah – megahan.

Dalam kata lain, sesungguhnya mereka yang menjadi korban bencana bisa jadi adalah mereka yang tidak terpenuhi hak –  haknya untuk dibela dan diberdayakan, termasuk terlupa dibela dan diberdayakan oleh orang – orang yang mengaku beragama.

Umat Islam, Umat Manusia

Masyarakat dunia telah bersepakat bahwa upaya – upaya pencegahan bencana tersistematisasi dalam kesepakatan global yang disebut Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 yang berisi empat prioritas aksi: 1. Memahami risiko bencana,  2. Memperkuat kelembagaan dalam melakukan manajemen bencana, 3. Investasi dalam pengurangan risiko bencana, dengan memperkuat resiliensi/ketahanan,  4. Menguatkan kesiapan terhadap bencana untuk respon yang efektif dan membangun kembali lebih baik dalam   proses recovery (pemulihan), rehabilitation (rehabilitasi) dan reconstruction (rekonstruksi).

Agenda ini tentu sejalan dengan misi umat Islam sebagai bagian dari umat manusia sedunia. Kita sadar bahwa umat Islam tinggal bersama di atas bumi yang sama dengan semua umat lain tanpa memandang perbedaan agama. Bila terjadi krisis lingkungan di bumi ini, maka umat Islam tentu akan menghadapinya bersama–sama dengan umat yang lainnya.

Baca Juga  Tringulasi Dakwah Muhammadiyah

Bila terjadi bencana besar, maka kerja besar penyelamatan peradaban tentu menjadi agenda kerja bersama. walaupun masing–masing memiliki spiritualisasi kerja kemanusiaan yang berbeda–beda.

Komitmen umat Islam untuk bekerjasama dengan seluruh kekuatan di muka bumi ini adalah wujud dari keteladanan umat Islam dalam semangat fastabiqul khairat. Bumi dan peradaban manusia di atasnya akan selamat bila seluruh elemen umat manusia mempraktikkan ajaran Al Qur’an Surat Al Asr dalam menjaga lingkungan dengan “ ….. mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. Tentu harus dipelopori umat Islam yang meyakininya sebagai wahyu ilahi.

Islam dan Pencegahan Bencana Global

Sepertinya umat Islam Indonesia bisa menjadi contoh dan pelopor dalam gerakan ini. Sebut saja Muhammadiyah dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang didukung semua elemen persyarikatan, Nadhatul Ulama dengan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU), juga Rumah Zakat, Dompet Du’afa Disaster Management, Human Inisiatif (PKPU), BAZNAS Tanggap Bencana, dan berbagai lembaga penanggulangan bencana berbasis lembaga filantropi Islam lainnya yang saat ini aktif dalam upaya–upaya pengurangan risiko bencana.

Bahkan gerakan mereka mewujud dalam kerjasama lintas  iman melalui Humanitarian Forum Indonesia (HFI) bersama Wahana Visi Indonesia (WVI), Yakkum Emergency Unit (YEU), KARINA (Caritas Indonesia), Perkumpulan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat (PPKM), PKPU, Church World Services (CWS) Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia (HfHI), Unit Pengurangan Risiko Bencana Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PRB-PGI), dan Rebana Indonesia.

Meminjam teori Kuntowijoyo, ajaran Islam telah mengalami obyektifikasi dalam bentuk amal sholeh sebagai gerakan kemanusiaan, menjadi bagian dari gerakan global pengurangan risiko bencana.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Arif Nur Kholis

Sekretaris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *