Perspektif

Virus Corona: Aku Bangga Padamu

3 Mins read

Virus corona penyebab penyakit COVID-19 adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan yang kini menular di seluruh diunia. Ya, virus ini menurut WHO orang yang paling rentan terkena yaitu orang yang berusia lanjut dan memiliki masalah medis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, pernafasan kronis, kanker lebih mungkin membuat penyakit menjadi parah dan bisa menyebabkan kematian (Dilansir di situs WHO, Jumat, 1/5/2020). Namun, pernahkah kita berpikir mengatakan “virus corona, aku bangga padamu”?

Virus Corona

Virus corona ini memiliki tanda gejala bagi penderitanya, antara lain: 
1. Demam
2. Merasa kelelahan
3. Batuk kering
4. Sesak nafas
5. Sakit dan nyeri
6. Sakit tenggorokan
7. Dan sangat jarang orang yang akan melaporkan diare, mual, atau pilek

Bagi mereka yang memiliki gejala tersebut, sangat dianjurkan untuk melaporkan kepada tim kesehatan, guna dilakukan tindakan selanjutnya.

Hari demi hari terlewati ternyata virus corona pun bertamu ke Bumi Pertiwi. Awalnya mungkin banyak yang menyepelekan tentang pencegahan virus ini (seperti : mencuci tangan lebih sering, tutup hidung dan mulut saat bersin ataupun batuk dengan siku ataupun kain, jaga jarak antar sesama, dan usahakan tetap dirumah saja), hingga akhirnya meledaknya pengidap virus ini di penjuru Indonesia.

Bahkan banyak diantara kita yang resah, panik ataupun pasrah dengan virus corona. Tapi sadarkah dengan kedatangan virus ini, kita banyak mengambil pembelajaran, di antaranya:

Mengajarkan agar kita senantiasa dekat dengan Allah

Apa kaitannya dekat dengan Allah dengan pandemi seperti ini? Dalam pandemi seperti ini, bahkan sebelum itu kita memang diharuskan dekat dengan Allah, karena Allah-lah poros dari segala kehidupan. Berdoalah semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah. Ingat, berdoa bukan hanya saat kita tertimpa ujian saja, tapi berdoalah setiap saat.

Baca Juga  Kemerdekaan Mengelola Perguruan Tinggi

Pola hidup sehat

Pola hidup sehat? Bukankah sebelum kedatangan virus corona ini kita sudah hidup sehat? Ya, sebelum virus ini datang, kita sudah melakukan pola hidup sehat, tapi banyak juga yang menyepelekan.

Lantas, setelah virus ini adakah perubahan? Saya rasa iya, karena setelah kedatangan virus ini hampir seluruh masyarakat dihimbau untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti : mencuci tangan (setelah memegang barang atau setelah berpergian), menutup hidung dan mulut saat batuk ataupun bersin (dengan menggunakan siku, kain ataupun tisu), mengganti baju setelah berpergian, dan masih banyak lagi pola hidup sehat yang dapat kita terapkan dalam keseharian kita.

Pentingnya menjaga jarak

Jaga jarak apakah penting? Tanpa kita sadari, sebenarnya jarak manusia antara laki-laki dan perempuan perlu diterapkan (seperti yang dicontohkan Rasulullah, yaitu hindari lah bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan). “Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” (H.R Malik, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Tapi perlu digaris bawahi, saat pandemi ini dilarang bersalaman. Sebenarnya yang dilarang bersalaman itu hanya lawan jenis ya, dan untuk sesama jenis itu boleh-boleh saja bersalaman.

Lantas mengapa kini bersalaman sesama jenis kelamin pun dilarang? Dilarangnya bersalaman antar sesama jenis kelamin pun karena untuk mencegah penularan rantai virus, boleh saja bersalaman antar sesama jenis kini dilakukan, asalkan jangan lupa mencuci tangan setelah itu ya.

Membuat kita banyak memiliki waktu luang

Mungkin yang awalnya terbiasa dari pagi hingga larut malam beraktivitas sangat lelah dengan aktivitas nya, sehingga banyak sekali yang menomorduakan kesehatan tubuhnya, ataupun kedekatan dirinya dengan sang pencipta. Dengan kedatangan virus ini, hampir seluruh masyarakat dihimbau untuk di rumah saja.

Baca Juga  Yang Hilang dari Kehidupan Kita: Akhlak

Membosankan, satu kata yang mewakili keadaan saat ini untuk tetap diam dirumah saja. Tapi bisakah kita merenung, dibalik kedatangan virus ini kita memiliki waktu luang yang bisa kita gunakan untuk hal yang bermanfaat (seperti beribadah lebih rajin, meluangkan waktu bersama keluarga, ataupun yang lainnya).

Mengajarkan kita agar tidak sombong

Sombong dan virus ini apa kaitannya? Sebenarnya bukan dari virus ini saja kita diajarkan untuk tetap rendah hati, tapi Allah menegur kita berulangkali agar jangan sombong. Tetaplah rendah hati, karena dunia ini milik Allah semata, dan manusia beserta hartanya adalah titipan yang sifatnya sementara.

Mengajarkan pentingnya berbagi

Sebenarnya diantara kita ada orang-orang yang memerlukan bantuan, tapi kita sering sekali mengabaikannya. Mari buka mata kita, budayakan berbagi, karena disetiap harta yang dimiliki ada hak mereka yang perlu kita berikan.

Sejak ada pandemi Corona ini tak banyak uang, bagaimana caranya untuk berbagi? Sederhana saja, berbagi bisa dengan cara yang ringan saja, serta jangan lupa mendoakan agar saudara sesama muslim kita terbantu.

Saling bantu antar sesama

Saling membantu ataupun saling tolong menolong memang sudah menjadi anjuran dalam agama Islam. Ya itulah yang terjadi, saat corona melanda baik dari jajaran pemerintah, tenaga kesehatan, tim relawan, atau pihak yang turut membantu dalam pencegahan virus ini saling bahu membahu.

Virus Corona, Aku Bangga Padamu

Di balik pandemi virus corona memang menimbulkan banyak kerugian, baik materil dan imateril. Tapi jangan lupa, setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya.

Terakhir, terima kasih virus corona, engkau hadir membawa segala hikmah untuk kami. Allah  takkan memberikan cobaan yang berat tanpa kita dapat lalui bersama. Dan untuk segala pihak, tetap lah berjuang menghadapi wabah pandemi ini, semoga semuanya dapat segera lekas pulih. Virus corona, aku bangga padamu.

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Kebumen
Articles
Related posts
Perspektif

Piala Dunia Qatar: Ajang Syiar Islam Moderat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagelaran akbar sepakbola empat tahunan Piala Dunia (World Cup) tahun 2022 untuk pertama kalinya diadakan di negara…
Perspektif

Mencoba Memahami Konsep Habitus, Kapital, dan Arena Pierre Bourdieu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pierre Bourdieu lahir di kota kecil pedesaan di Perancis tenggara pada 1930, Bourdieu tumbuh di rumah tangga…
Perspektif

Umat Islam Tak Boleh Bersikap Inferior terhadap Sains Modern

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sains Islam sebenarnya tidak kalah penetrasinya dengan sains modern. Namun sayangnya, kajian sains Islam belum banyak di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *