Memahami "Zaman Terbaik" Secara Tekstual dan Kontekstual - IBTimes.ID
Perspektif

Memahami “Zaman Terbaik” Secara Tekstual dan Kontekstual

3 Mins read

Dengan merujuk hadis berikut, bahwa zaman yang terbaik itu adalah zaman Nabi. Memang dalam pendekatan teologis kita harus mengimani perkataan Nabi tersebut. Sebab permasalahan permasalahan sosial keagamaan kita tidak lagi bersusah payah dalam mencari jawaban jawaban permasalahan sosial keagamaan. Cukup dikonfirmasi saja kepada Nabi, dan Nabi langsung memberikan respons, apakah melalui wahyu atau Nabi langsung berijtihad. Sehingga memahami zaman terbaik harus secara utuh.

“Sebaik baik zaman adalah zamanku, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya”

Hadis

Memahami Zaman Terbaik

Para sahabat bisa melihat langsung kepada Nabi sebagai sumber keteladanan, dalam berbagai segi kehidupan. Apakah sebagai pemimpin, atau sebagai kepala keluarga. Pada zaman Nabi betul betul kehidupan langsung dipandu oleh wahyu dari Tuhan yang dimediasi oleh Nabi.

Tidak ada perbedaan pendapat yang dapat memecah belah persatuan umat. Setiap ada perbedaan pendapat diantara para sahabat, langsung dirujukkan penyelesainnya kepada Nabi. Hal ini harus diketahui untuk memahami hadis zaman terbaik.

Dalam kaitannya dengan ibadah khususnya ibadah mahdhah, betapa beruntungnya para sahabat Nabi. Mereka dapat beribadah bersama sama dengan Nabi, beribadah dengan khusyuk karena langsung dipimpin oleh seorang yang punya otoritas di bidang peribadatan. Para sahabat bermakmun mengikuti Nabi tanpa ada keraguan sedikitpun.

Nabi berfungsi memberikan pemahaman pemahaman keagamaan bagaimana beribadah dengan benar. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para sahabat, langsung ditegur oleh Nabi dan diperbaikinya. Para sahabat tidak lagi disibukkan dengan mencari ayat mana yang harus dijadikan referensi terhadap persoalan yang mereka hadapi. Mereka langsung menanyakan kepada yang punya otoritas, yakni Nabi.

Setelah  Nabi wafat dan digantikan oleh para khulafaur rasyidin yang empat, maka beralihlah ke zaman berikutnya. Tentunya sudah ada penurunan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi. Khalifah Abu bakar menggantikan Nabi sebagai kepala pemerintahan tapi tidak bisa menggantikan posisi Nabi sepenuhnya, karena Abu bakar bukan berposisi sebagai Nabi.

Baca Juga  Mungkinkah Ada yang Salah dalam Keberislaman Kita?

Pada zaman Nabi, Nabi berfungsi sebagai kepala negara sekaligus sebagai pemutus atau pemberi fatwa di bidang keagamaan. Pada zaman Abu Bakar tugas kepada pemerintahan sekaligus pemutus dibidang keagamaan tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan oleh Abu Bakar. Dirinya harus bermusyawarah dengan para sahabat yang lain. Demikian juga di zaman Umar bin Khattab, sampai khalifah yang keempat Ali bin Abi Thalib.

Pemahaman secara Tekstual dan Kontekstual

Mulai dari zaman Muawiyah ke zaman Abbasiyah pemerintahan sudah mengambil sistem monarki atau kerajaan. Pada zaman ini kita sangat sulit mendapatkan seorang pemimpin yang menguasai pemerintahan sekaligus sebagai seorang ulama. Pemerintah di satu pihak dan ulama di pihak yang lain. Peran dikotomis berlangsung sampai sekarang.

Merupakan suatu kesulitan yang besar untuk mendirikan negara yang berdasarkan khilafah, karena umat Islam semakin besar dan terdiri dari berbagai mazhab pemikiran. Ditambah dengan Nabi tidak mewariskan suatu bentuk pemerintahan yang disepakati. Kalau kita merujuk ke Negara Madinah yang merupakan hasil bentukan dari Nabi, di situ tidak dinamakan Negara Islam Madinah, tapi nilai-nilai keadilan, musyawarah, tasamuh, itulah yang dikedepankan.

Pendekatan dalam memahami hadis di atas, bisa dengan pendekatan tekstual dan kontekstual. Pendekatan tekstual adalah pendekatan dengan melihat teks hadis.  Bahwa zaman yang terbaik adalah zaman Nabi, itu kita tidak bisa menyangkal, karena kita beribadah langsung dipantau oleh Nabi, kita beribadah bersama sama dengan Nabi.

Bisa juga kita mencoba memahami hadis ini dalam pendekatan kontekstual. Bahwa selama kita konsisten menjalankan ajaran ajaran Nabi. Kita mengimani Nabi sekalipun kita tidak sezaman dengan Nabi. Kita tidak pernah melihat Nabi seperti para sahabat, tetapi kita meyakini ajaran ajarannya, dan konsisten menjalankan ajaran ajarannya.

Baca Juga  New Normal: Mengurai Skenario Tatanan Baru Pasca-Pandemi

Kita adalah Saudara Nabi

Ini seperti diinformasikan dalam hadis bahwa, bahwa Nabi pernah bersabda bahwa “Beruntunglah orang yang melihatku dan beriman kepadaku”, kemudian Nabi melanjutkan sabdanya, “Beruntunglah orang yang beriman kepadaku tapi dia tidak pernah melihat aku, Nabi mengulangi sabdanya ini tiga kali, kemudian Nabi mengatakan, mereka mereka itu adalah saudara-saudaraku”.

Ini adalah pernyataan Nabi yang sangat rasional. Betapa Nabi sangat mencintai umatnya sekalipun sangat berjauhan jarak antara Nabi dan umatnya. Bahkan dipertegas dengan perulangan tiga kali menyebut untuk umatnya  yang tidak sempat  bertemu dengannya.

Jadi secara kontekstual bahwa sekalipun kita berjauhan zaman dengan Nabi, tapi tingkat kepercayaan kita kepada Nabi itu tidak pernah turun bahkan konsisten menjalankan ajaran ajarannya, itu sama dengan berada di zaman Nabi.

Kita tidak boleh menterjemahkan hadis di awal secara pesimis, bahwa semakin jauh zaman kita dari Nabi akan semakin amburadul. Secara teks memang seperti itu, tapi kita tidak boleh berhenti pada penafsiran teks hadis. Substansi dari hadis itu bahwa di zaman apapun kita berada sepanjang kita kita konsisten beriman kepada Nabi, kita akan dirindukan oleh Nabi, dan di cap oleh Nabi, sebagai saudaranya.

Memang ada perbedaan dengan para sahabat dengan kita, karena para sahabat hampir tiap hari melihat Nabi, dalam pergaulan sehari-hari dan selalu bersama sama dengan Nabi dalam beribadah, sehingga dengan mudah merasuk keimanan dalam dirinya. Para sahabat mudah dalam melakukan aktivitas ibadah karena berada dalam kontrol Nabi.

Sekalipun kita berada jauh dari zaman Nabi dan cuma mendapatkan warisan dari Nabi yakni Al-Qur’an dan Hadis, tapi perlakuan Nabi terhadap umatnya yang datang kemudian itu sangatlah istimewa.

Baca Juga  Membangkitkan GBHN: Rencana Perubahan ke-5 UUD 1945

***

Itu mungkin karena tingkat kesulitan kita dalam beribadah, agak berat di banding dengan para sahabat. Secara visual kita tidak melihat Nabi dalam beribadah, tetapi yang kita dapatkan adalah peninggalan peninggalan atau warisan warisannya berupa Al-Qur’an dan hadis dengan penjelasan penjelasan para ulama kepada kita, sebagai pewaris para Nabi.

Mudah mudahan kita semua masuk dalam kategori umat yang beruntung. Umat yang selalu konsisten menjalankan ajaran-ajaran Nabi sekalipun kita sangat jauh dari zaman Nabi. Aamin.

Editor: Nabhan

Avatar
24 posts

About author
Kepala Madrasah Aliyah Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat.
Articles
Related posts
Perspektif

Nasehat Terbuka untuk Yahya Waloni

4 Mins read
Esensi Dakwah Yahya Waloni adalah pendakwah Islam yang berlatar belakang mualaf. Hal ini menjadi nilai tambah sehingga beliau sering diundang ceramah oleh…
Perspektif

Bisakah Ramadhan Menyelamatkan Indonesia?

5 Mins read
Datangnya Ramadhan Tantangan dan ujian terasa sudah menyatu dengan kehidupan. Tak ada hidup tanpa di dalamnya juga terisi dengan problematika. Kita yang…
Perspektif

Isu Terorisme: Soal Agama atau Ketidakadilan?

3 Mins read
Membaca “Islam Radikal” Banyak orang yang memberikan perspektif mengenai kekeliruan dalam melihat soal terorisme dan kaitannya dengan Islam yang memang tidak pernah…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa