Yang Mempengaruhi Marx (1): Hegel dan Teori Dialektika - IBTimes.ID
Filsafat

Yang Mempengaruhi Marx (1): Hegel dan Teori Dialektika

2 Mins read

Marx adalah penafsir paling ulung di dunia. Seolah ditakdirkan untuk menebak pemikiran Tuhan mengenai hakikat dunia dan perkembangannya, namun percaya atau tidak berada pada posisi yang begitu besar, ternyata Marx masih dipengaruhi oleh beberapa filsuf lain. Marx sendiri mengaku dipengaruhi oleh beberapa pemikiran filsuf lain.

Perkembangan pemikiran Marx terjadi dalam kurun waktu yang lama, dari saat Marx masih muda hingga ia menua. Proses akselerasi pemikirannya tidak pernah berhenti pada satu titik yang nyaman. Itu terus berkembang di masa depan. Perkembangan pemikiran ini juga akan berpengaruh pada pendekatan yang dihasilkan oleh Marx. Sebuah bidang yang akan dikritik Marx terhadap analisis yang berdampak pada teori yang ditemukan Marx.

Namun itu tidak berhenti sampai disitu, walaupun ada kalanya Marx belajar dari ide-ide filsuf lain yang menurutnya baik dan benar. Marx tetap tidak luput dari kritik terhadap ide-ide yang dikaguminya. Kritik ini kemudian membawa Marx pada penegasan teori yang paling berpengaruh, jauh melampaui para filsuf yang idenya ia adopsi.

Setahu saya, Marx tidak pernah secara implisit mengatakan bahwa dia dipengaruhi oleh ide-ide filsuf lain. Tetapi dia kagum dengan teori-teori yang dihasilkan oleh filsuf lain. Ada dua nama yang harus digarisbawahi mengenai kontribusinya dalam membangun dan membina pemikiran Marx baik tua maupun muda. Georg Wilhem Friedrich Hegel dan Ludwig Feuerbach karena “mendidik” Marx menjadi ahli.

Marx dan Hegel

Pertemuan pertama antara Marx dan Hegel terjadi ketika Marx masih menjadi mahasiswa filsafat di Universitas Berlin, ketika Marx melarikan diri dari negara Prusia karena para penguasanya yang represif. Jadi kondisi terkendali inilah yang mendasari mengapa Marx menginginkan perubahan, seperti halnya kelas proletar dalam teori kelasnya. Saat itu di Berlin, Marx terkesima dengan pemikiran Hegel yang menjunjung tinggi nilai-nilai rasionalitas dan kebebasan. Sejauh ia termasuk dalam kelompok radikal yang disebut Hegelian Left.

Baca Juga  Maqashid Syariah dari Al-Ghazali ke Syamsul Anwar

Marx sangat kagum pada awalnya dengan Hegel, rasa keheranan ini tumbuh ketika dia mengetahui metode berpikir Hegel yang sekarang dikenal sebagai dialektika. Menurut Hegel, dialektika adalah dialog yang dimulai dari pernyataan yang ditolak dan dibenarkan, tetapi kekurangan dari pernyataan pertama mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Dialektika juga akan digunakan oleh Marx sebagai metode dalam menganalisis pandangan sejarah materialis.

Jika dialektika adalah salah satu dari banyak hal yang diadopsi oleh Marx dari filsafat Hegel, perlu dicatat bahwa ada dua kritik yang memungkinkan beberapa orang untuk berbagi posisinya dengan Hegel. Pertama, ini tentang ide absolut. Hegel berpendapat bahwa ide absolut yang telah dikonsep oleh Roh Semesta (Tuhan) tidak dapat diperdebatkan, kita hanya dapat memahami dan memaafkan.

Hal ini jelas ditentang oleh Marx, menurut Marx kita tidak perlu setia dan pasrah dalam merespon dan mengatasi semua masalah. Bagi Marx, semua masalah harus dilihat secara proporsional. Segala bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial yang muncul dalam masyarakat harus segera dilawan, digulingkan dan dihilangkan. Segala bentuk ketimpangan sosial dan ekonomi harus segera digeneralisasikan. Hal ini pernah saya singgung dalam tulisan saya yang berjudul Nikotin Agama.

Kritik Marx Terhadap Hegel

Kedua, ketika Marx datang ke Berlin, Hegel sudah terkenal sebagai ahli teori yang paling sukses pada masanya. Seolah-olah tidak ada yang luput dari pandangan Hegel, semuanya terkendali dalam dikte teoretis. Tapi disitulah Marx melontarkan kritik pedasnya, jika semua sudah dipikirkan, lalu mengapa kondisi saat itu tidak seimbang?

Marx kemudian mengisi potongan-potongan filsafat Hegel yang luput dari para pendahulunya, apa yang hilang dari filsafat Hegel masih berkubang di dunia teoretis. Filsafat Hegel hanya memperhatikan realitas sosial, tanpa mengubah realitas sosial sedikit pun. Pengurungan ini dengan hati-hati digarisbawahi oleh Marx, baginya filsafat harus praktis. Filsafat harus mampu mentransformasikan realitas sosial, menjadi alat teoritis untuk perubahan.

Baca Juga  Monadologi GW Leibniz: Rasionalisasi Entitas Melalui Ayat Kauniyah

Dan kemudian apa yang dikritik oleh Marx dari filsafat Hegel menjadi kenyataan, menjadikan filsafat Marx bukan hanya teori tetapi juga praktis. Pembuktiannya dilakukan oleh seorang pemuda dari Uni Soviet bernama Lenin yang memimpin gerakan buruh Soviet untuk menggulingkan kekuasaan feodal sang tsar. Berbekal filosofi Marx sebagai senjata teoritis, Lenin menerapkan teori ini pada Revolusi Bolshevik tahun 1917. Selebihnya? Sejarah.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Fadhel Fikri
4 posts

About author
Penulis aktif di situs PikiranKita | Media Penulisan dan Edukasi Pemikiran. Co-Founder Lingkar Studi Filsafat (LSF) Sophia.
Articles
Related posts
Filsafat

Monadologi GW Leibniz: Rasionalisasi Entitas Melalui Ayat Kauniyah

4 Mins read
Sebelum membahas monadologi GW Leibniz, kita perlu mengulas hakikat manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan potensi akal dapat mengetahui kebenaran. Melalui bimbingan wahyu,…
Filsafat

Berjalan di Atas Keyakinan yang Ekstrim

3 Mins read
Awal pertengahan 2020, saya tidak sengaja mendapatkan sebuah booklet yang mengumpulkan esai-esai pendek. Esai yang berisikan pikiran-pikiran yang membahas tentang sains –baik…
Filsafat

Ramai-Ramai Menyerang Agama

4 Mins read
Mempertanyakan keabsahan agama, tentu saja bukan perkara baru. Sejak dari kebangkitan rasionalisme di Eropa Abad Pertengahan, hingga hari ini, ketika Space X…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa