Sayyid Qutb: Ideologi Radikal itu Jahiliyah Modern! - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Sayyid Qutb: Ideologi Radikal itu Jahiliyah Modern!

3 Mins read

Sayyid Qutb dikenal sebagai tokoh modern Islam yang sangat kontroversial dengan berbagai macam pemikirannya yang kritis dan mendalam. Sehingga, banyak orang di zamannya yang menganggap ia berbahaya.

Salah satunya, Presiden Mesir, yakni Gamal Abdul Nasser. Ia yang telah menjatuhkan hukuman gantung kepada Qutb dan ketiga orang pemimpin Ikhwanul Muslimin (organisasi yang didirikan oleh Hasan al-Banna). Tak heran jika banyak hasil pikirannya yang dijadikan landasan utama bagi banyak aliran radikal, terutama para anggota Ikhwanul Muslimin.

Biografi Sayyid Qutb

Sayyid Qutb merupakan seorang tokoh Islam monumental yang syarat akan kontroversi. Qutb lahir pada abad ke-20, tepatnya pada 9 Oktober 1906 di Kampung bernama Mausyah (terletak di Provinsi Asyuth di daerah dataran tinggi Mesir).

Merupakan anak dari 7 bersaudara, tetapi dua di antaranya telah meninggal dunia ketika masih kecil. Ayahnya bernama al-Haj Qutb bin Ibrahim, dan ibunya bernama Sayyidah Nafash Qutb. Ketika berusia 10 tahun, Qutb telah berhasil menghafal Al-Qur’an dan menjadi seorang hufadz.

Kemudian saat berusia 13 tahun, Qutb mampu memiliki dan memahami ilmu yang luas tentang Al-Qur’an dalam ruang lingkup pendidikan agama. Hal ini membawa banyak pengaruh besar bagi dirinya. Menyadari hal ini, orang tuanya memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke daerah Halwan (sekitar Kairo).

Hingga pada 1929, ia berkesempatan untuk menimba ilmu di Tajhiziyah Darul Ulum (sekarang Universitas Kairo). Kemudian pada 1933, ia dinyatakan lulus dari sana dan mendapatkan ijazah diploma tarbiyah dan strata 1 bidang sastra dengan gelar Lc. Lalu bekerja kurang lebih salama 6 tahun di Departemen Pendidikan.

Kemudian, menjadi pegawai kantor dan berganti profesi lagi ke Lembaga Pengawasan Pendidikan Umum selama kurang lebih 8 tahun. Ketika bekerja di sinilah, Qutb mendapatkan tugas untuk kuliah kembali selama 2 tahun lamanya di Amerika Serikat. Tepatnya di Wilson Teacher’s College (sekarang University of the District of Columbia) serta Greeley College di Colorado, juga Stanford University, lalu kemudian lulus dengan gelar MA.

Baca Juga  Aku Ingin Mengenang Sapardi dengan Sederhana

Apa itu Jahiliyah Modern?

Term jahiliyah sendiri berada di wilayah pusat dalam aspek keragaman Islam di dunia. Qutb melakukan penafsiran mengenai jahiliyah modernnya ini melalui dua tahapan, pertama ketika ia masih hidup bebas dan semasa ia dipenjarakan oleh Naser.

Sayyid Qutb tidak membatasi ruang gerak jahiliyah modern. Pada umumnya, orang awam akan menganggap bahwa jahiliyah hanya akan fokus pada satu zaman, yakni pra-Islam ketika Nabi belum lahir. Tetapi, Qutb berbeda aliran dengan pemahaman ini.

Baginya, kata “jahiliyah” bukan hanya melulu perihal apa yang terjadi di zaman pra-Islam saja. Tetapi, jahiliyah adalah suatu proses yang terjadi berulang-ulang, di mana terdapat penyimpangan jalan dari Islam yang dilakukan oleh masyarakat suatu daerah.

Tidak peduli itu terjadi di masa lalu, masa sekarang, atau bahkan di masa yang akan datang. Semua itu Qutb jelaskan dalam karyanya yang berjudul Ma’alim fi al-Thariq.

Makna jahiliyah modern sendiri muncul dari hasil penafsiran Sayyid Qutb yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya. Tepatnya di Mesir yang masyarakatnya melakukan praktek tersebut di hadapan Qutb.

Berkat adanya pemandangan tak mengenakkan ini, ia berhasil menulis sebuah kitab karangan yang berjudul Fi Zilal al-Qur’an. Karya ini memang dikhususkan oleh Qutb untuk membahas mengenai term jahiliyah modern dari hasil pemikirannya.

Dalam berbagai gerakan Islam, hasil pemikirannya yang kritis dan tajam yang sudah tersebar luas dijadikan sebagai rujukan utama, terutama oleh para anggota Ikhwanul Muslimin dan organisasi berbau radikal lainnya.

Dipenjara dan Hukuman Eksekusi Mati

Ketika berada di penjara, Qutb telah menyelesaikan 30 juz dari buku Tafsir Fi Zilal al-Qur’an yang ia tulis sebelumnya. Dalam buku tafsir tersebut, Qutb dengan sangat gamblang menjelaskan bagaimana jahiliyah modern yang terjadi di masanya. Karena ketika itu Mesir juga marak dengan sekularisme.

Sayyid Qutb mempunyai sikap dan pribadi yang sangat keras, apalagi ketika berhadapan dengan hegemoni Barat dan hal-hal lain yang menyangkut mereka. Lebih tepatnya Qutb adalah seseorang yang sangat anti Barat. Karena menurutnya, Barat adalah sebab dari hancur dan merosotnya sistem pemerintahan suatu negara atau wilayah.

Baca Juga  Mu'ti: Tuduhan Pak Din Radikal itu Salah Alamat

Masyarakat Mesir saat itu digambarkan Qutb sebagai masyarakat jahiliyah Arab pra-Islam, karena sikap mereka yang tidak islami dan anti Islam.

Pada tanggal 28 Agustus bertepatan dengan 12 Jumadil Tsani 1386 H sore hari, setelah 7 hari dikeluarkannya surat keputusan mengenai hukuman eksekusi terhadap Sayyid Qutb dan dua orang lainnya, para pimpinan redaksi media massa dihubungi dari kantor Sami Syaraf dan sekretaris dari Gamal Abdul Naser (presiden Mesir ketika itu) terkait penerangan dan pengeluaran berita mengenai selesainya eksekusi dari Sayyid Quthb, Abdul Fatah Ismail, dan Muhammad Yusud Hawwasy.

Editor: Lely N

Titik Damayanti
1 posts

About author
Mahasiswa program studi Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Pernah bekerja sebagai penulis artikel di Penulis Amanah. Sangat berminat menulis esai. Menjadi anggota aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Forma Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA Surabaya.
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read
Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral

3 Mins read
Dunia pemikiran Islam Indonesia kembali terguncang dengan kembalinya kehadirat Tuhan seorang pemikir Islam garda depan, cendekiawan yang sufistik Dr KH Jalaluddin Rakhmat….

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa