Yang Mempengaruhi Marx (2): Feuerbach dan Alienasi Agama
Filsafat

Yang Mempengaruhi Marx (2): Feuerbach dan Alienasi Agama

2 Mins read

Setelah Hegel, nama Ludwig Feuerbach diyakini sebagai sosok yang menginspirasi Marx muda. Feuerbach dikenal sebagai seorang filsuf yang kerap mengkritik hakikat agama, baginya agama merupakan sumber keterasingan (alienasi) manusia. Masih menurutnya, agama itulah yang membuat manusia tidak berkembang dan berjuang.

Feuerbach dan Agama

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa agama dapat mendominasi perilaku manusia dan menghasilkan sumber keterasingan bagi manusia? Karena menurut Feuerbach, agama hanyalah proyeksi artifisial yang lahir dari protes dan ekspektasi manusia akan kondisi dunia yang memprihatinkan. Agama hanyalah khayalan kebaikan di dunia manusia.

Karena itulah mengapa manusia selalu taat dan taat pada agama. Feuerbach pun menyadari mengapa kondisi orang miskin tetap melarat meski ia beragama. Jawabannya karena mereka lebih suka melakukan pengharapan dan pertolongan dari semua sifat baik yang sebelumnya dia wujudkan dalam sosok Tuhan, mereka tinggal menunggu Juruselamat datang. Tanpa pernah berpikir untuk melakukan perlawanan dan bertahan dengan perjuangan dengan caranya sendiri.

Kritik terhadap agama yang dibuat oleh Feuerbach inilah yang diangkat dan dimodifikasi oleh Marx. Keterasingan manusia adalah fokus Marx dalam memeriksa kembali kritik ini. Pertanyaannya berkisar mengapa manusia terasing? Setelah melalui proses analisis yang mendalam, akhirnya Marx mampu merumuskan sumber alienasi manusia, yang sebenarnya adalah pekerjaan.

Bekerja, menurut Marx, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Sumber keterasingan manusia bukanlah agama, agama hanya digunakan sebagai pelarian akibat penindasan itu sendiri. Sedangkan dunia inilah yang membuat orang tertindas. Dan dunia menggunakan alat berupa pekerjaan untuk mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.

Bagi Marx, kerja adalah alat obyektifikasi manusia. Dalam bekerja, manusia mampu menunjukkan kemampuan dan kemampuannya sendiri. Intinya, dia bisa dikatakan manusia ketika dia bekerja, dalam setiap pekerjaan pasti ada tujuan berupa sebuah produk. Dan produk itu adalah alat legitimasi sekaligus penegasan mengapa ia pantas disebut manusia, karena melalui produk ini ia mampu mengobjektifkan gagasan menjadi produk sesuai dengan kemauannya.

Baca Juga  Al-Kindi (1): Filsuf Pertama di Dunia Islam

Sumber Alienasi

Sayangnya, bagaimanapun, pekerjaan juga menciptakan sistem kepemilikan pribadi. Hak milik pribadi lahir karena pembagian kerja yang lahir dari sistem kapitalis untuk efisiensi waktu dan tenaga. Namun pada kenyataannya, hak milik pribadi merupakan sumber alienasi bagi manusia karena disadari atau tidak adanya sistem ini juga membuat masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas sosial.

Dalam sistem ekonomi kapitalis terdapat dua kelas yang berlawanan, kelas atas dan kelas bawah. Kelas atas diwakili oleh para pemilik modal dan kelas bawah ditempati oleh para pekerja, mereka saling bertentangan karena kepentingan yang berbeda. Dalam konteks hubungan kerja, justru kelas pekerja yang paling dirugikan karena terasing dari pekerjaannya.

Mereka terisolir karena tidak dapat memiliki produk yang merupakan alat obyektifikasi diri, semua bentuk hasil produksi dimiliki sepenuhnya oleh pemilik modal dan pekerja sama sekali tidak memiliki hak atas barang tersebut.

Isolasi lainnya adalah bahwa bekerja tidak lagi menyenangkan tetapi membatasi pekerja, bekerja bukan lagi sarana untuk mewujudkan pembangunan gubuk karena hanya sebagai syarat untuk bertahan hidup. Pekerjaan dilihat hanya dari nilai ekonomi.

Kritik Marx terhadap kerja dan sistem kepemilikan pribadi diilhami oleh kritik Feuerbach terhadap agama yang menjadi salah satu teori paling berpengaruh. Kemudian kritik ini menjadi modal pandangan materialisme historis yang dilahirkan oleh Marx beberapa saat kemudian. Diktum Marx tentang jalan sebenarnya sejarah tentang perjuangan antar kelas adalah buah dari kritik publik yang dibuat sebelumnya.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa dinamika pemikiran Marx selalu berkembang. Ketika Marx bersentuhan dengan pemikiran Hegel, Marx muda lebih fokus pada hal-hal teoritis, sehingga tidak mengherankan jika pada saat itu ia lebih cocok dianggap sebagai filsuf muda. Sedangkan ketika berkenalan dengan pemikiran Feuerbach, Marx terlihat sudah menua dan mengalihkan fokusnya ke ekonomi, sehingga lebih pantas disebut ekonom di akhir hayatnya.

Baca Juga  Karl Marx dan Iklim (2): Hubungannya dengan Kapitalisme

Kemarin beberapa tahun sejak Das Kapital diluncurkan, sebuah magnum opus yang paling fundamental dalam karir menulis Marx. Dan saat ini beberapa poin dalam Das Kapital masih sangat relevan untuk dipahami guna menganalisa struktur ekonomi masyarakat, karena itu adalah hukum yang akan terus dikembangkan Marxisme. Seperti Marx yang selalu mempelajari dan mempertanyakan segala hal yang dirasa aneh, dicerna oleh akal.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Fadhel Fikri
4 posts

About author
Penulis aktif di situs PikiranKita | Media Penulisan dan Edukasi Pemikiran. Co-Founder Lingkar Studi Filsafat (LSF) Sophia.
Articles
Related posts
Filsafat

Monadologi GW Leibniz: Rasionalisasi Entitas Melalui Ayat Kauniyah

4 Mins read
Sebelum membahas monadologi GW Leibniz, kita perlu mengulas hakikat manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan potensi akal dapat mengetahui kebenaran. Melalui bimbingan wahyu,…
Filsafat

Berjalan di Atas Keyakinan yang Ekstrim

3 Mins read
Awal pertengahan 2020, saya tidak sengaja mendapatkan sebuah booklet yang mengumpulkan esai-esai pendek. Esai yang berisikan pikiran-pikiran yang membahas tentang sains –baik…
Filsafat

Ramai-Ramai Menyerang Agama

4 Mins read
Mempertanyakan keabsahan agama, tentu saja bukan perkara baru. Sejak dari kebangkitan rasionalisme di Eropa Abad Pertengahan, hingga hari ini, ketika Space X…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa