Ziauddin Sardar dan Penafsiran Ulang Terhadap Wahyu - IBTimes.ID
Ulama

Ziauddin Sardar dan Penafsiran Ulang Terhadap Wahyu

3 Mins read

Ziauddin Sardar adalah intelektual muslim kelahiran Pakistan dan tumbuh besar di Inggris. Ia banyak menulis buku-buku keislaman, masa depan Islam, peradaban Islam, dan pembacaan terhadap Alquran secara progresif. Ia lahir pada tanggal 31 Oktober 1951 di Punjab. Sardar adalah salah satu dari sedikit sekali futurolog kontemporer yang dimiliki oleh peradaban Islam.

Usia remajanya ia habiskan di Inggris. Di sana, ia merasa diperlakukan secara rasis oleh orang-orang Eropa. Perlakuan semacam ini juga dirasakan oleh imigran dari Asia lainnya. Menginjak usia dewasa, Sardar bekerja di King Abdul Aziz University. Setelah lima tahun berada di Saudi, ia bekerja untuk Majalah Nature dan Majalah New Scientist.

Karir Ziauddin Sardar

New Scientist adalah majalah mingguan berbahasa Inggris yang terbit pertama kali pada 22 November 1956. Berbicara tentang sains dan teknologi. Sedangkan Nature adalah jurnal mingguan yang berkantor di London. Pada awal 1980, ia mendirikan Inquiry, sebuah majalah yang berbicara tentang negara-negara muslim dan mempromosikan pemikiran reformis Islam. Pada 1982, ia menjadi reporter di London Weekend Television.

Pada 1987, ia pindah ke Kuala Lumpur untuk menjadi penasehat dari Anwar Ibrahim. Ketika Anwar Ibrahim terkena kasus dan masuk penjara, Sardar kembali ke London dan menjadi profesor tamu pada mata kuliah sains di Middlesex University dan menjadi kolumnis di The New Statesman, sebuah majalah politik dan budaya di London.

Dia juga menjadi editor bagi beberapa majalah seperti Futures, majalah tentang kebijakan dan perencanaan masa depan, dan Third Text, sebuah jurnal tentang kebudayaan. Sardar menjadi profesor tamu pada City University London pada mata kuliah pos-kolonial. Sejak tahun 2001 hingga 2013, ia menjadi profesor di Fakultas Hukum Middlesex University. Tulisan-tulisannya juga muncul di The Guardian, The Independent, The Times, UK weekly, dan The Internationalist.

Selain menjadi profesor, menulis jurnal, dan menulis majalah, Sardar juga menulis untuk beberapa program televisi. Dia menyusun program Encounters With Islam di BBC pada tahun 1983. Dia juga menyusun program Islamic Science, Islamic Conversations, Battle for Islam, Between the Mullahs and the Military, dan The Life of Muhammad. Semua program tersebut tayang di BBC.

Baca Juga  Atha’ bin Abi Rabah: Menjadi Mulia Karena Ilmu

Pada tahun 2009, Sardar mendirikan Muslim Institute sebagai wadah pembelajaran yang mempromosikan perkembangan pemikiran, riset, dan dialog terbuka. Lembaga ini kemudian meluncurkan jurnal yang menggali kebebasan berpikir dalam Islam pada tahun 2011. Pada tahun 2014, ia meluncurkan Center for Policy and Futures Studies di East-West University.

Penafsiran Ulang Alquran & Hadis

Sardar adalah sarjana muslim yang kritis terhadap agamanya. Ia berpendapat bahwa penafsiran terhadap Alquran dengan pola lama tanpa pembaharuan sangat berbahaya. Perlakuan umat Islam terhadap minoritas, perempuan, dan sikap keberagamaan yang eksklusif harus segera diubah. Bahwa Islam pernah menjadi pemimpin di dunia karena para sarjana muslim bebas berpikir dan mengeksplorasi ide-ide baru. Tidak terjebak pada pola pikir klasik.

Ia konsisten mengkaji bidang reformasi Islam pasca-kolonial. Hal ini menjadi pembicaraan utama dari berbagai tulisannya, termasuk termasuk Islamic Futures: the Shape of Ideas to Come dan The Future of Muslim Civilization. Sardar percaya bahwa masyarakat Islam saat ini telah membiarkan pemikiran kreatif mereka menjadi fosil. Ini adalah situasi yang sangat berbanding terbalik dengan sejarah Islam ketika para sarjana dan ilmuwan membiarkan pikiran mereka bebas berkeliaran dan menciptakan kebangkitan yang luar biasa dalam berbagai wacana, pengetahuan dan teknologi.

Sardar meyakini bahwa setiap generasi harus menafsirkan ulang Alquran dan Hadits sesuai dengan zaman mereka sendiri. Hal ini pula yang menurutnya telah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu. Jika hal ini tidak dilakukan, maka wahyu yang diturunkan oleh Allah akan kehilangan relevansinya.

Kontekstualisasi Syariat

Ia juga menjadi salah satu tokoh yang getol memperjuangkan syariat sebagai solusi kemunduran umat. Tentu syariat yang ia pahami tidak seperti yang dipahami kebanyakan orang, seperti syariat yang hanya berbicara hukum Islam semata.

Baca Juga  Abdul Kahar Muzakkir: Lima Dasar Pemikiran Berdirinya Universitas Aisyiyah

Batasa-batasan syariat lebih luas daripada hukum Islam yang terbatas. Syariat merupakan sistem etika dan nilai, suatu metodologi praktis yang dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah masa kini dan masa depan. Syariat yang dimaknai seperti ini bisa menjadi solusi dari ketertinggalan umat Islam.

Jadi, perjuangan syariat Sardar tidak dengan memasukkan hukum Islam ke dalam peraturan kenegaraan seperti yang banyak dilakukan oleh beberapa orang di Indonesia. Syariat berbicara dalam dimensi yang luas. Ia menjadi parameter kebenaran dalam melihat isu-isu kontemporer seperti nuklir, perubahan iklim, kecerdasan buatan, kerusakan lingkungan, dan lain-lain.

Sebagaimana Syahrur, Ziauddin Sardar juga meyakini bahwa syariat mengandung batas-batas tertentu. Jadi, syariat bukanlah suatu dikotomi hitam-putih halal-haram. Melainkan ia adalah sebuah jalan lebar, yang umat Islam harus berjalan di atasnya, namun tidak boleh keluar dari marka jalan tersebut.

Sehingga, syariat merupakan tuntunan agar Islam menjadi agama yang maju dan tidak terbelakang. Dan ajaran-ajaran Islam adalah ajaran yang sholih li kulli makan wa zaman (relevan untuk setiap ruang dan waktu).

Editor: Yusuf

Avatar
24 posts

About author
Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Articles
Related posts
Ulama

Ibnu al-Haitham; Ilmuan Muslim Pencetus Kamera Obscura dan Ilmu Optik

2 Mins read
Zaman sekarang, ragam jenis kamera yang kian canggih semakin dikembangkan. Kamera bukan hanya dibutuhkan untuk mengabadikan momen seperti foto, namun juga dipakai…
Ulama

Anak Muda Harus Menimba Ilmu dan Hikmah dari Buya Syafii

4 Mins read
Anda dan saya masih terhitung muda. Kita bagian dari generasi muda bangsa Indonesia. Meski tiap hari belajar dan bekerja, tak berarti Anda…
Ulama

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….
Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa