back to top
Selasa, Maret 10, 2026

Cendekiawan Muslim Dunia Syed Muhammad Naquib Al-Attas Wafat di Usia 94 Tahun

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Dunia Islam berduka atas wafatnya cendekiawan dan pemikir peradaban Islam terkemuka, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Filsuf asal Malaysia tersebut meninggal dunia pada usia 94 tahun di Kuala Lumpur, Ahad (8/3) pukul 18.47 waktu setempat.

Kabar wafatnya tokoh pemikiran Islam ini disampaikan oleh Menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia (Bidang Agama), Senator Dr. Zulkifli Hasan, melalui unggahan di media sosial.

“Almarhum dikenal sebagai seorang mujaddid, pemikir, dan cendekiawan yang menghidupkan kembali obor ilmu dan adab di dunia Islam,” kata Senator Dr. Zulkifli Hasan dilansir Bernama pada Ahad (08/03/2026) malam.

Ia menambahkan bahwa wafatnya Al-Attas bukan sekadar kehilangan seorang tokoh intelektual, tetapi juga kehilangan salah satu figur penting dalam pengembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

“Kepergian almarhum bukan hanya kehilangan seorang tokoh, tetapi juga kehilangan permata ilmu pengetahuan bagi umat Islam,” ujarnya.

Warisan Pemikiran dan Lembaga Intelektual

Sepanjang hidupnya, Syed Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai salah satu pemikir Islam kontemporer yang berpengaruh. Kontribusinya meliputi berbagai bidang keilmuan seperti filsafat Islam, sejarah, teologi, pendidikan, hingga kajian peradaban.

Ia juga dikenal sebagai pendiri Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), sebuah lembaga akademik yang berfokus pada kajian pemikiran dan peradaban Islam. Melalui ISTAC, Al-Attas bersama para akademisi melakukan penelitian dan pengembangan ilmu yang memberikan perspektif kritis terhadap peradaban Barat sekaligus memperkuat wacana peradaban Islam.

Baca Juga:  Lazismu Kirim Bantuan 20 Unit WC Umum Portabel untuk Dukung PHBS Warga Gaza

Selain itu, pemikiran Al-Attas turut memberikan kontribusi pada lahirnya sejumlah institusi penting di Malaysia, seperti Angkatan Pemuda Islam Malaysia (ABIM), Universitas Nasional Malaysia (UKM), serta Institut Alam dan Peradaban Melayu (ATMA).

Selama karier intelektualnya, Al-Attas menulis lebih dari 30 buku yang menjadi rujukan penting dalam kajian filsafat dan peradaban Islam. Karya-karyanya banyak membahas konsep adab, sufisme, kosmologi, serta hubungan antara ilmu pengetahuan dan peradaban.

Pengaruh intelektualnya juga diakui secara internasional. Pada tahun 2024, ia masuk dalam daftar “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” yang dirilis oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre di Yordania.

Pada tahun yang sama, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menganugerahkan gelar Profesor Kerajaan (Royal Professor) kepada Al-Attas. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam di Malaysia.

“Royal Professor Tan Sri Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah pendiri Institute of Islamic Thought and Civilisation (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam/ISTAC) yang juga merupakan pemikir peradaban Islam kontemporer yang sangat dihormati dan disegani di dalam dan luar negeri,” kata Sultan Ibrahim saat penganugerahan tersebut.

Jenazah almarhum rencananya disemayamkan di Masjid At-Taqwa di kawasan Taman Tun Dr Ismail (TTDI). Setelah itu, almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Islam Bukit Kiara.

Kepergian Al-Attas meninggalkan warisan intelektual yang besar melalui karya-karya dan lembaga yang ia dirikan. Pengaruhnya juga terus hidup dalam membentuk wacana pemikiran Islam modern.

Baca Juga:  Jemaah Haji yang Sudah Niat Ihram Tapi Masih Pakai Pakaian Berjahit Wajib Bayar Dam

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru