IBTimes.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya membangun kepemimpinan berkemajuan yang berbasis nilai, sistem, dan visi ke depan dalam Pelantikan Rektor serta Pengukuhan Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) periode 2026–2030.
Dalam amanatnya, Haedar menekankan bahwa kepemimpinan tidak sekadar soal jabatan, tetapi tentang kemampuan menggerakkan potensi dan membangun daya dorong internal organisasi. Momentum Muktamar yang akan datang, menurutnya, harus dimaknai sebagai titik kebangkitan energi kolektif, bukan sekadar agenda seremonial.
Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki potensi yang besar, namun keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengenali dan mengoptimalkan potensi tersebut.
“Pada dasarnya setiap orang itu punya potensi. Tapi ada orang yang bisa memobilisasi dan sadar akan potensi itu. Bahwa dari potensinya yang setengah saja, itu bisa menjadi 100%,” jelas Haedar dalam acara yang digelar pada Selasa (28/4).
“Sebaliknya, juga ada orang yang diberi potensi 75%, tapi dia tidak bisa menyadari dan tidak bisa memobilisasi potensi itu. Jadi ya potensinya hanya disitu-situ saja,” tambahnya.
Empat Pilar dan Karakter Kepemimpinan Muhammadiyah
Haedar juga menyoroti karakter kuat Muhammadiyah di Sumatera Utara yang dikenal memiliki militansi tinggi. Ia menilai potensi tersebut perlu terus digerakkan hingga ke level akar rumput, terutama dalam menghadapi realitas kompetisi global yang semakin ketat.
“Karena berada dalam kehidupan yang syarat akan persaingan, atau fastabiqul khairat. Jadi persaingan itu sunatullah, maka Allah mengajarkan kita untuk berfastabiqul khairat atau berlomba-lomba menjadi manusia yang terbaik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Haedar menguraikan empat pilar utama yang menjadi fondasi kepemimpinan Muhammadiyah. Pilar pertama adalah nilai Islam berkemajuan yang menjadi dasar dalam membangun peradaban. Kedua, sistem organisasi yang tertata dan berjalan stabil tanpa tergantung pada figur tertentu.
Pilar ketiga adalah ekosistem relasi dan kepercayaan yang harus dijaga secara konsisten. Sedangkan pilar keempat adalah kepemimpinan itu sendiri yang berfungsi sebagai pengarah utama gerak organisasi.
“Pemimpin memiliki fungsi utama untuk menunjukkan arah (show the time), terutama ketika anggota menghadapi kebingungan. Maka hal itulah yang kemudian menuntut pemimpin untuk memiliki keunggulan dalam ilmu, himah, dan pengalaman,” ulas Haedar.
Selain itu, ia menegaskan empat karakter utama kepemimpinan Muhammadiyah, yakni kepemimpinan yang ikhlas dan penuh hikmah, kepemimpinan berbasis kerja nyata, kepemimpinan yang dinamis dan progresif, serta kepemimpinan profetik yang mampu memadukan nilai duniawi dan ukhrawi.
Menurutnya, kombinasi antara nilai, sistem, dan karakter tersebut akan menjadi fondasi kuat bagi Muhammadiyah untuk terus menjalankan peran dakwah dan tajdid di tengah perubahan zaman.
“Dengan semangat kepemimpinan seperti itu kita akan tetap menjalankan fungsi dakwah dan tajdid kita untuk kemaslahatan dan rahmat bagi semesta alam,” pungkas Haedar. (NS)


