back to top
Senin, April 6, 2026

Era Baru Penjajahan Profesi Guru

Lihat Lainnya

Nu'man Suhandi
Nu'man Suhandi
Guru di SMP Muhammadiyah 7 Blimbing dan SMA Muhammadiyah 2 blimbing

Saya ingin mengawali tulisan saya mengenai wajah dunia pendidikan saat ini dengan mencukil istilah “Manusia Multidimensional”. Salah satu pikiran sederhana Kuntowijoyo, ilmuwan Indonesia bidang filsafat dan sosiologi dalam karyanya yang berjudul paradigma Islam: intepretasi untuk aksi. Yang sampai saat ini masih relevan dengan menyebut bahwa sebagai Manusia Multidimensional adalah mereka yang memiliki tanggungjawab moral untuk ikut serta membentuk manusia yang seimbang. Tidak hanya intelektual, tapi juga spiritual dan emosional melalui pendidikan.

Mungkin manusia multidimensional inilah yang saat ini lebih cocok dan relate disebut sebagai guru atau pendidik. Guru tidak hanya diharapkan dapat mengajar materi pelajaran, tapi juga dapat menjadi teladan, mentor, dan pembimbing bagi siswa dalam mengembangkan karakter, moral, dan kepribadian mereka.

Pada tempo dua puluh tahun kebelakang, terdapat banyak latarbelakang seseorang menjadi guru di Muhammadiyah. Mulai dari yang ingin mengamalkan ilmunya, melanjutkan perjalanan mengajar orang tuanya, hingga mungkin karena tidak ada lagi pilihan pekerjaan yang bisa dimasuki. Betapa pun demikian mereka yang terlanjur terlibat didalamnya dengan sendirinya akan terseleksi secara alamiah. Tentu hal ini karena secara materiil, pendapatan seorang guru memang jauh dari panggung kemewahan. Oleh karena itu, ketekunan dan keluhuran niat akhirnya menjadi buah panggilan jiwa bagi guru yang kini telah menuaih indahnya berproses menjadi guru professional.

Sebagai pengalaman pribadi, bisa dibayangkan bagaimana sarjana perikanan harus mengajar di jenjang SMP dan SMA dengan mengampu mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Tentu saja tidak ada akar ketersambungan secara linieritas, yang tidak mengenal pedagogik pendidikan. Bertahun-tahun harus mengaktivasi pikiran, jiwa dan tenaganya untuk terlibat dalam proses belajar-mengajar. Jikalau bukan karena motivasi terus memperbaiki diri dan tekun belajar, serta ekosistem persyarikatan yang memberikan ruang dan arena dalam proses kaderisasi di amal usaha Muhammadiyah, mungkin tidak akan bisa menjadi guru professional. Ternyata ada banyak orang seperti saya di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Kemudian saya menyebut mereka sebagai kelompok kader yang tersesat di jalan yang benar.

Baca Juga:  Apa itu Demokrasi?

Tetapi dalam perjalanan waktu, seiring dengan tingginya minat menjadi guru yang kini semakin menjanjikan dengan adanya tunjangan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan sertifikasi, terdapat kesadaran kritis yang terbentuk di pikiran. Bahwa apa yang bertahun-tahun saya lakukan dan kini diadaptasi generasi sekarang adalah sebuah kesalahan fatal dalam wajah pendidikan kita. Bahwa manusia multidimensional yang disebut Kuntowijoyo itu hanya berdimensi dalam pranata keluarga dan moral. Sedangkan dalam institusional formal lebih dari itu. Tuntutan nya adalah profesional sehingga ada kesinambungan antara pranata keluarga dengan lembaga pendidikan.

Oleh karena itu, jikalau apa yang dulu saya praktikkan dan kini juga dilakukan generasi sekarang, bisa jadi hal tersebut adalah era penjajahan profesi guru. Maka karena itu perkembangan pendidikan kita bisa jadi akan kehilangan orientasi dan orisinilitas. Hal ini dikarenakan segala profesi bisa masuk untuk mendapatkan legitimasi guru professional hanya dengan mengikuti jenjang pendidikan PPG 6 bulan sampai 2 tahun. Padahal, dulu untuk menjadi guru, proses nya cukup panjang dan melelahkan karena kompetensi yang dimiliki harus paripurna. Tidak cukup hanya penguasaan teori kompetensi pedagogik, professional, kepribadian, dan sosial tapi juga pentingnya pengalaman proses mengajar bertahun-tahun. Selain itu juga dibarengi dengan tempaan masalah setiap hari yang akhirnya diharapkan menjadi passion dan ketulusan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu memberikan keteladanan dan melahirkan perubahan. Tentunya yang lebih baik pada para siswa.

Baca Juga:  PJJ, Kendaraan Menuju Pencerdasan atau Pembodohan?

Persyarikatan sudah lama memiliki majelis yang berfokus pada dunia pendidikan yakni Majelis Dikdasmen mulai dari pusat hingga di akar rumput ranting. Bukan karena Muhammadiyah punya ribuan lembaga pendidikan lantas kemudian ini dianggap sebagai kesempatan dalam melakukan percepatan kaderisasi guru untuk pemula. Hal ini dilakukan untuk memastikan bagaimana mekanisme perekrutan guru yang terjadi saat ini, tidak melanggengkan penjajahan profesi bagi para guru yang sejak awal sudah meniatkan diri untuk bersungguh-sungguh berproses di fakultas pendidikan dan guru. Inilah saatnya persyarikatan menyulam kembali konsepsi dunia pendidikan yang berkeadilan dengan merumuskan proses perekrutan guru yang otentik dan tidak melupakan kesejahteraan guru. Semoga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang juga sekretaris umum PP Muhammadiyah punya perasaan yang sama dengan pemikiran ini. Bahwa telah terjadi penjajahan profesi guru dan itu harus segera dihentikan agar wajah pendidikan kita akhirnya melahirkan manusia multidimensional, seperti istilah dari Kuntowijoyo. Dengan begitu, ada siklus dan ekosistem yang berkesinambungan antara pranata keluarga, lingkungan dan lembaga pendidikan.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds