back to top
Kamis, April 9, 2026

Penyebab Konflik Iran Dengan Barat

Lihat Lainnya

Badrut Tamam
Badrut Tamam
Penulis lepas, Blogger dan Content Publisher #tamamtalk #mataairlerengsemeru #menitigelombangrindudipulaumukaseribu

Mengapa Iran selalu disebut “Ancaman”? Mengapa setiap ketegangan global, nama Iran hampir selalu muncul? Apakah ini soal agama? Soal minyak? Atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam? Bagaimana jika konflik Iran dengan Barat bukan dimulai dari program nuklir? Bukan dari revuolusi? Tetapi dari satu pengkhianatan yang terjadi puluhan tahun lalu? Sebuah operasi rahasia, sebuah kudeta, sebuah negara yang merasa dikhianati. Dan sejak saat itu, hubungan Iran dan Bara tidak pernah benar-benar pulih.

Untuk memahami Iran hari ini, kita harus membongkar luka lama yang belum pernah sembuh. Mari kita pahami bersama. Hubungan Iran dan Barat, tidak dimulai dengan kebencian. Pada awal abad ke-20 Iran yang saat itu masih sering disebut Persia berada dalam kondisi rapuh. Dinasti Qajar melemah, ekonomi tidak stabil, dan infrastruktur tertinggal. Dan pada tahun 1908, sebuah penemuan mengubah segalanya. Iya, itu adalah “minyak. Ladang minyak besar ditemukan di wilayah Barat daya Persia. Bagi dunia industri yang sedang berkembang, minyak adalah masa depan. Karena hal itu, Inggris bergerak cepat. Melalui konsensi yang sangat tidak seimbang, perusahaan yang kelak dikenal sebagai BP mendapatkan hak eksplorasi dan produksi minyak Persia.

Perusahaan BP atau British Petroleum, perusahaan minyak dan gas multinasional milik Inggris yang berkantor pusat di London. Sebagian orang Indonesia mungkin sering mengisi bahan bakar kendaraanya dengan menggunakan produk BP ini, bahkan tanpa tahu perusahaannya asal dari mana. Kembali kepada topik intinya. Masalahnya bukan pada kerjasama antara Inggris dan Iran. Melainkan, masalahnya ada pada pembagian keuntungan. Di mana, sebagian besar profit mengalir ke Inggris, Iran hanya menerima remah-remah dari kekayaan alamnya sendiri. Bagi rakyat Iran, ini bukan sebatas kontrak bisnis. Ini simbol ketidakadilan. Simbol bahwa kedaulatan mereka dikendalikan oleh kekuatan asing. Dan disinilah benih ketidakpercayaan mulai tumbuh.

Baca Juga:  Kata Siapa Filsafat itu Cuma Omong Kosong?

Masuk ke era 1940-an dan 1950-an, gelombang nasionalisme mulai menyapu dunia pasca perang dunia II. Di Iran seorang tokoh karismatik muncul, Mohammad Mosaddegh. Ia bukan revolusioner agama, ia bukan diktator militer, ia adalah politisi terpilih secara demokratis. Saat itu, ia menjabat sebagai perdana menteri Iran pada tahun 1951 hingga 1953. Mohammad Mosadegh membawa satu pesan sederhana, “Minyak Iran harus milik Iran”. Tahun 1951, ia menormalisasi industri minyak. Dan keputusan ini mengguncang London. Yang menyebabkan Inggris kehilangan akses terhadap salah satu sumber energi terpentingnya. Sebagai respons Inggris memblokade ekspor minyak Iran. Dari situ, ekonomi Iran mulai tertekan. Tapi, Mosadegh tidak mundur. Di mata rakyat Iran, ia adalah simbol harga diri nasional. di mata Barat ia adalah ancaman terhadap kepentingan strategis. Ketegangan antara Barat dan Iran pun meningkat.

Dan ditengah ketakutan global terhadap komunisme saat perang dingin, Amerika mulai melihat Iran sebagai potensi resiko geopolitik. Karena ketegangan Barat dengan Iran itulah pada tahun 1953, sebuah operasi rahasia diluncurkan. Nama sandinya “Operation Ajax” dirancang oleh Central Intelligence Agency (CIA) bekerjasama dengan Secret Intelligence Service atau dinas intelijen rahasia Inggris, yang biasa dikenal sebagai MI6. Strateginya tidak langsung denga tank atau invasi militer, melainkan melalui propaganda media, manipulasi opini publik, demonstrasi bayaran, hingga tekanan terhadap militer Iran. Tujuannya jelas, yaitu menjatuhkan Mosadegh.

Dan pada tahun 953, pemerintahan demokratis itu runtuh, Mosadegh ditangkap. Lalu kekuasaan penuh dikembalikan kepada Muhammad Reza Pahlavi. Bagi Amerika dan Inggris, ini merupakan sebuah kemenangan strategis. Mereka berhasil menjaga Iran tetap berada di orbit Barat. Tapi, bagi rakyat Iran ini adalah bukti bahwa demokrasi mereka dihancurkan demi minyak.sejak saat itu, satu narasi tertanam kuat dalam ingatan kolektif yaitu “Barat berbicara tentang kebebasan, tetapi bertindak demi kepentingan”. Dan narasi itu akan meledak 26 tahun kemudian.

Baca Juga:  Remaja di Barat Alami Krisis Identitas, Apa Penyebabnya?

Di bawah Mohammad Reza Pahlavi, Iran berubah cepat. Reformasi besar diluncurkan melalui “Revolusi Putih” Pendidikan diperluas, perempuan mendapat hak lebih besar, industrialisasi dipercepat. Saat itu, Iran menjadi sekutu strategis Amerika Serikat di Timur Tengah. Militer diperkuat, bahkan senjata modern dibeli dalam jumlah besar. Namun modernisasi ini tidak merata. Kesenjangan sosial melebar, elit perkotaan semakin kebarat-baratan. Sementara banyak masyarakat tradisional merasa terasingkan. Dan dibalik kemajuan itu berdiri polisi rahasia yaitu “SAVAK”.

SAVAK sendiri adalah Biro Intelijen dan keamanan negara Iran saat itu, yang dibentuk oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi pada tahun 1957 dengan bantuan CIA dan juga Mossad. Penangkapan tanpa pengadilan, penyiksaan, penindasan oposisi, modernisasi tanpa kebebasan, kemakmuran tanpa keadilan. Dan tekanan itu terus menumpuk di internal Iran pada masa kekuasaaan Reza Pahlavi. Hingga akhirnya pada tahun 1978-1979 demontrasi besar meledak, mulai dari mahasiswa, ulama sampai kaum miskin kota, semua turun ke jalan. Shah Reza Pahlavi kehilangan kendali, dan dari pengasingan di Prancis, seorang ulama kembali yaitu Ruhollah Khomeini. Ia membawa pesan tegas, “Iran harus bebas dari dominasi Barat, Iran harus kembali pada identitas Islamnya”.

Kemudian pada Februari 1979, Shah Mohammad Reza Pahlavi melarikan diri dan Republik Islam Iran berdiri. Namun konflik dengan Barat belum mencapai puncaknya. Pada november 1979 mahasiswa revolusioner menyerbu kedutaan Amerika di Tehran, Ibukota Iran. Setidaknya 52 diplomat Amerika disandera selama 444 hari. Di Amerika ini sebuah pengkhianatan nasional. namun di Iran ini merupakan simbol bahwa mereka tidak akan lagi tunduk.

Sejak saat itu, hubungan diplomatik Iran dengan Barat terputus. Sanksi ekonomi terhadap Iran pun dimulai. Alhasil, permusuhan menjadi permanen. Tahun-tahun berikutnya, Iran dipenuhi konflik tidak langsung. Seperti perang Iran-Irak pecah pada tahun 1980. Kala itu, Iran merasa Barat mendukung Saddam Husein (Presiden Irak) yang mana Iran dan Irak terlibat konflik berkepanjangan yang dipicu oleh beberapa faktor krusial. Sanksi ekonomi kepada Iran pun diperketat. Isolasi internasional semakin dalam, namun Iran tidak pasif. Ia lantas membangun jaringan pengaruh regional seperti di antaranya: di Lebanon melalui Hizbulloh, di Suriah mendukung Bashar al-Assad, di Irak melalui milisi Syiah dan di  Yaman melalui Houthi.

Baca Juga:  Fikih Muyassar: Inovasi Tata Kelola Haji Kemenag RI

Barat melihat ini sebagai ekspansi agresif. Sedangkan Iran melihatnya sebagai strategi bertahan dari ancaman eksternal. Lalu muncul isu baru, porgram nuklir. Iran bersikeras programnya untuk energi damai. Tapi Barat khawatir akan senjata nuklir Iran. Sempat perjanjian dicapai, tapi lalu dibatalkan. Ketegangan naik turun pun tidak bisa terelakan. Oleh karenanya, rakyar Iran kembali menanggung dampaknya melalui sanksi ekonomi Barat. Lantas mengapa konflik ini tak pernah selesai?

Jawabannya adalah karena ini bukan sebatas konflik diplomatik, ini konflik memori. Kejadian 1953 masih hidup dalam buku sejarah Iran. Peristiwa 1979 masih hidup dalam identitas politiknya. Barat melihat Iran sebagai ancaman stablitas regional, dan Iran melihat Barat sebagai kekuatan yang pernah menggulingkan pemerintah sahnya. Kepercayaan Iran telah retak. Dan dalam politik internasional tanpa kepercayaan setiap langkah terlihat seperti ancaman. Hari ini dunia melihat Iran melalui lensa sanksi dan nuklir. Namu jauh di dalam sejarahnya, konflik ini berakar pada satu pertanyaan mendasar. Siapa yang mengendalikan nasib Iran? Apakah konflik ini berakhir dengan diplomasi? Atau akan menjadi percikan yang memicu krisis global berikutnya? Untuk memahami itu, kita harus menyelami kembali lebih dalam peristiwa 1953. Karena mungkin, semuanya bermula dari sana.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru