back to top
Sabtu, Mei 2, 2026

Simfoni Pukul Dua Dini Hari: Bergema dari Sajadah Lapuk, di Atas Layar yang Masih Kosong

Lihat Lainnya

Dini hari pukul 02.00 WIB. Saya masih terbangun. Menjentikkan jari di atas tuts keyboard; bersiap menulis. Mata tajam menatap layar. Kening agak mengerut. Leher tegang.  Imajinasi sedikit terbuka, bagai persiapan membuka pintu minimarket; kriyet. 

Suara gesekan pintu minimarket yang terbuat dari kaca. Menggesek lantai yang dipel bersih bagai kaca. Menguar di imajinasi yang datang secara tiba-tiba. Lantas saya seperti berjalanan mengitari belanjaan yang tertata rapi di rak minimarket. Rasakan kedinginan ruangan. Mengambil satu dua barang. Berjalan menuju kasir untuk bayar tagihan belanja. Pulang dengan tatapan mata senang.

Ah, mulut saya tiba-tiba menguap tepat pada pukul 02.10 WIB. Dan selama sepuluh menit, saya menyadari kertas pada aplikasi di layar komputer masih kosong. Belum satu huruf pun saya ketik. Lantas saya bersiap untuk mengetik: jari tangan sudah siap di atas tuts keyboard yang berbentuk kotak-kotak. Serupa tahu kotak yang dijual tetangga sebelah rumah saya, pikir saya sambil membayangkan keberangkatan tetangga saya menuju pasar dengan mengayuh sepeda onthel-nya. 

Tanpa pernah terbayang, apakah kaki yang kerap digunakan untuk ngontel dan mengenakan sandal jepit berwarna putih kusam atau kuning kusam, pernah digunakan untuk masuk minimarket atau sebaliknya? Hanya lewat saja setiap dini hari menjelang. Sebab minimarket sudah tutup. Pegawai sudah lelah. Kerja seharian.

Para pengunjung juga pasti wegah, igau batin saya. Datang ke minimarket dini hari seperti ini. Sekalipun di kota saya, ada beberapa minimarket yang buka dua puluh empat jam. Namun demikianlah tetangga saya, sukanya hanya ngontel sepeda. Lewat depan minimarket menuju pasar yang riuh.

Maka demikianlah, saya masih menghadap layar komputer dengan imajinasi liar. Namun layar masih menampilkan kekosongan – bagai tangan tetangga saya yang kerap pulang dengan tangan kosong. Tanpa belanjaan dari minimarket seberang jalan

Ah, lagi pula sekarang sudah pukul 02.35 WIB. Lima belas menit tidak terasa telah menguap sia-sia. Dengan jari yang masih berada di atas tuts keyboard. Dan tatapan mata yang masih kosong tanpa mengetik satu huruf pun. 

Baca Juga:  Kumandang Dakwah Sang Pembaharu dari Paciran: Kiai Muhammad Ridlwan Syarqawi

Mata tertegun menyaksikan jemari saya yang tiba-tiba terasa kelu dan sedikit pegal. Barangkali serupa kaki tetangga saya,  pikir saya mengira-ira, yang kerap dlojoran setiap pagi selepas pulang dari pasar. Sambil pelan-pelan dipijiti sendiri kakinya dari ujung telapak kaki yang kapalan sampai pangkal paha dengan kulit keriput kusam. 

Takut bayar tukang pikit, kata tetangga saya – menguar tiba-tiba dari dalam kamar yang pengap. Begitu ditanya tetangga lain lagi, yang kerap pergi ke spa untuk rasakan pijatan yang menenangkan di atas kursi perawatan. Dengan wajah cerah ceria dengan tampilan kuku tangan serta kaki, bersih bagai pintu kaca minimarket. 

Begitu ditanya tetangga saya yang jual tahu kotak dengan tampilan jempol kaki sampai jentiknya; penuh dengan kotoran kuku. Akibat sering terkena debu jalanan. Sesekali digunakan untuk menyibak kubangan air sisa hujan beberapa jam silam. Ngendon di tanah berkubang dekat pasar. 

Kantuk menguat tiba-tiba. Maka saya putuskan untuk meninggalkan komputer begitu rupa. Rebahan sejenak di kasur. Kepala saya letakkan di bantal yang empuk. Bukan di atas tangan yang ditekuk, pikiran saya kembali melayang saat tubuh saya rebahan. Terbayang tetangga saya yang kadangkala nglentuk di atas tangan yang ditekuk. Saat tertidur di waktu subuh menjelang. Menunggu pembeli yang tak kunjung datang menghampiri. 

Takut kesiangan, seru pembeli. Namun wajar saja, pikiran saya setuju, sebab di pasar seringkali ramai lalu lalang. Dengan jalanan yang tak pernah lengang. Sekalipun ada becak atau delman yang ngetem. Tetap saja pembeli merasa khawatir bila datang terlambat. Apalagi pulang naik becak atau delman. Lama. Takut datang terlambat ke minimarket sebagai pekerja. Atau datang sebagai tukang belanja. Toh sama-sama datang ke minimarket. Bukan ke pasar. 

Baca Juga:  Matinya Kepakaran dan Keulamaan di Era Media Sosial

Kriyet, terdengar suara menguar. Entah dari ranjang saya yang mulai rapuh, atau dari bunyi sepeda onthel yang sudah renta. Lagipula waktu sudah menujukkan pukul 03.00 WIB. Tertangkap dari layar handphone saya. Barangkali itulah bunyi dari sepeda onthel tetangga saya. Menuju pasar untuk bertemu dengan kuli panggul yang sedang sibuk memikul beratnya sayuran. Berjalan krengkelan dari truk pengangkut sayur menuju ruko penjualan. 

Bau amis pindang bercampur ayam potongan kerap menguar di pasar. Ditambah bau apak sayur yang busuk – akrab di hidung. Tanah nggronjal dan becek, kerap menjadi alas. Air yang menggenang di jalan berkubang, kerap memantulkan sarung yang dikenakannya.

Suara adzan tiba-tiba terdengar. Pukul 04.15 WIB, batin saya saat menatap layar handphone di sebelah bantal tempat tidur. Saya ketiduran memang. Dengan layar komputer yang masih menyala dan lembar kertas yang masih kosong. Terlihat begitu rupa dari ujung tempat tidur saya. Takut menguar bunyi kriyet lagi, pikir saya. Jika saya bergerak menuju kertas yang kosong dari balik komputer. 

Maka saya putuskan untuk tetap berada di tempat tidur sejenak saja. Sebelum berangkat menuju Langgar. Bau sisa ampas kopi dan abu rokok di sebelah komputer, menguar dalam kamar yang pengap. Dan warna taplak yang mulai memudar terlihat dari sudut tempat tidur. Mungkin saja warna taplak itu serupa warna sajadah lapuk yang kerap dibawa tetangga saya, batin saya kemudian. Ditaruh di kresek hitam. Dicantolkan di stang sepeda onthel tuanya. 

Baca Juga:  Hukum Cashback pada E-Commerce Menurut Islam

Takut tinggalkan salat, gumam tetangga saya yang masih akrab di telinga. Saat tetangga seberang jalan rumahnya, bertanya mengenai sajadah lapuk yang nyembul dari kresek hitam yang tergantung. Demikianlah tetangga saya, ke mana-mana membawa sajadah lapuknya. Entah saat menunggu pembeli, atau menunggu saat adzan tiba. Laksanakan salat. 

“Menghadap Gusti Pengeran,” nasihat Ibu tiba-tiba membangunkan saya. Sebab tanpa terasa, saya kembali menutup mata. Ngantuk.

Kriyet, suara yang sama kembali menguar. Namun dapat saya pastikan dari ranjang tempat tidur saya. Lagipula jam segini tetangga saya sudah pasti telah menjajar tahu kotak-kotaknya di atas meja yang rapuh. Di sudut pasar dekat Langgar. Menata tahu yang kerap dimasak dan dijualnya sendiri. Sekalipun barangkali, usia tetangga saya sama seperti usia sepadha onthel-nya.

Selesai ambil wudhu, suara Mbah Modin terdengar dari Langgar. Mengabarkan tetangga saya telah berpulang. Di sudut Langgar tempat tetangga saya menghadap Gusti Pengeran; dengan kondisi sujud. 

“Takut tinggalkan salat,” demikian kata Ibu saya. Persis seperti ingatan saya saat kami berpapasan. Ibu mengabarkan berita yang sudah gempar sejak saya ketiduran. 

Tetangga saya pulang dengan tutupan mata senang, pikir saya sambil menyibak selambu kamar yang kusam. Menatap kertas yang masih kosong dengan tatapan mata nrocoh. Sementara komputer masih tetap menyala. 

Dari seberang rumah, terdengar suara dari tetangga sekitar; menyumbangkan seluruh air mata. Pukul lima pagi. Tepat ketika tetangga saya dimandikan jenazahnya.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru