Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Tiada terkira rasa syukur yang kita panjatkan kepada Allah dalam kesempatan teramat mulia ini. Tentu saja karena rahmat, ridho, hidayah serta nikmat-nikmat lainnya yang senantiasa tercurah kepada segenap umat muslim. Sejatinya nikmat-nikmat yang tak terhingga jumlahnya itu selalu bertebaran dalam setiap detik yang kita lalui. Oleh karenanya hanya hati yang lapang oleh keikhlasanlah yang mampu merasakan kenikmatan-kenikmatan tersebut. Maka tak ada yang lebih tepat atas segala kenikmatan tersebut selain kita berusaha untuk selalu mensyukurinya.
Kepada Nabi Muhammad SAW, tersampaikanlah salawat dan salam penuh sukacita dari kami yang mencintaimu. Manusia pembawa risalah agung, suri tauladan sepanjang zaman, dan kami mohonkan kiranya kami mendapat syafaatmu kelak di hari kiamat. Apapun yang datang darimu akan kami usahakan untuk mengambilnya. Sedangkan apa-apa yang dilarangnya sebisa mungkin untuk kami jauhi sejauh-jauhnya.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Hari raya Idul Adha yang saat ini sedang kita rayakan memang selalu identik dengan beberapa ibadah. Beberapa di antaranya yang populer kita ketahui adalah penyembelihan hewan qurban, melaksanan haji ke tanah suci, mengumandangkan takbir sebanyak-banyaknya, dan membaca kembali kisah-kisah keluarga Nabi Ibrahim. Yang demikian tentu baik-baik saja dan tak ada salahnya kita lakukan. Namun yang perlu kita perhatikan selanjutya adalah jangan sampai kesemuanya itu lalu hanya berfokus pada nilai-nilai seremonialnya saja.
Sehingga akibatnya kita akan disibukkan pada perkara-perkara yang sejatinya hanya bertempat di permukaan saja tanpa pernah menyentuh atau bahkan mungkin abai terhadap nilai yang lebih esensial dan substantif. Jangan sampai yang terjadi kemudian kita lebih semarak dalam merayakan warisan ritual Nabi Ibrahim namun kering kerontang dalam meneladani sifat dan karakter mulia yang dimilikinya. Padahal warisan berupa sifat dan karakter tersebut juga tak kalah pentingnya dengan warisan ritual yang ditinggalkannya.
Maka dari itu perlu kiranya kita memahami kembali sosok Nabi Ibrahim yang ajarannya disebut hanif oleh Allah SWT. Dengan merujuk pada surat Al-Mumtahanah ayat 4 dan An-Nahl ayat 120 yang menerangkan bahwa Nabi Ibrahim ialah suri tauladan. Tentu saja suri tauladan yang dimaksud adalah suri tauladan yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang ada. Serta suri tauladan tersebut berlaku lintas zaman hingga hari kiamat kelak.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Jika kita baca kembali kisah Nabi Ibrahim maka akan kita temukan bahwa beliau bukan saja sekadar tokoh ritual. Di masa mudanya Nabi Ibrahim adalah pemuda pemberani yang memperjuangkan tauhid sampai pada titik darah penghabisannya. Berbekal kebenaran yang ia yakini seyakin-yakinnya, Nabi Ibrahim dengan tanpa ragu menyatakan perlawanannya yang heroik terhadap kebatilan kaumnya. Kaum yang dipimpin oleh raja super kuasa bernama Namrud.
Padahal kita ketahui bersama posisi yang dialami oleh Nabi Ibrahim sangatlah tidak mudah. Ayahnya sendiri adalah seorang pengrajin berhala. Itu artinya bagi kaumnya Nabi Ibrahim adalah putra dari seorang yang punya pekerjaan mulia, yakni pembuat tuhan-tuhan mereka yang akan disembah. Posisi yang mungkin bagi kita amat dilematis itu sama sekali tak menyurutkan Nabi Ibrahim dalam menegakkan tauhid setegak-tegaknya.
Berawal dari keteguhan iman itulah Nabi Ibrahim lalu berhasil melahirkan perlawanan yang bukan saja heroik namun juga perlawanan yang cerdas dan rasional. Keteguhan iman itu pulalah yang melahirkan keberanian atas segala konsekuensi yang akan diterimanya. Sekalipun konsekuensi tersebut mesti bertaruh nyawa, Nabi Ibrahim tak mundur barang satu mili pun.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Mestinya teladan Nabi Ibrahim yang berupa sifat dan karakter tersebut di atas haruslah menjadi tema utama kita dalam merayakan Idul Adha di samping haji dan qurban. Sebab kejadian demi kejadian yang dialami Nabi Ibrahim di masa mudanya itu akan terus menerus berulang dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman. Hal itu sudah menjadi sunnatullah bahwa tauhid akan selalu berbenturan dengan kesyirikan sampai kehidupan di alam semesta ini berakhir. Maka dari itu, menjadi urgen untuk senantiasa melestarikan sifat dan karakter yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim.
Sebab tak bisa dipungkiri bahwa sejatinya Namrud tidaklah benar-benar mati. Ia masih hidup hingga kini hanya saja dalam bentuk dan rupa yang berbeda. Jika disimbolisasikan, Namrud adalah simbol kekuasaan (rezim) yang zalim, penuh dengan kesewenang-wenangan, dan kerakusan yang seperti tanpa ujung. Maka jika kita tengok hari ini rasa-rasanya semua kondisi-kondisi tersebut tidaklah sulit untuk kita temukan. Jelas terlihat oleh mata kepala dan nyata bisa dirasakan dampaknya.
Dengan meneladani sifat dan karakter Nabi Ibrahim kita bisa menghancurkan Namrud dan berhala-berhala modern. Tanpa kita sadari banyak manusia-manusia modern yang menyembah berhala dalam bentuk cinta dunia, jabatan, kekuasaan, popularitas, hawa nafsu, sampai pada perilaku budaya konsumtif. Di tengah zaman yang banyak melahirkan Namrud-Namrud serta berhala-berhala modern ini, masih adakah Ibrahim yang berani berkata benar dan menegakkan keadilan yang bertauhid?
Tidak perlu kita susah payah mencarinya. Ibrahim-Ibrahim masa kini itu bisa kita temukan dalam diri kita sendiri. Ibrahim masa kini ialah yang menjunjung tinggi kejujuran, integritas, teguh dalam bertauhid, dan rela berkorban. Jika kesemuanya itu dapat kita lakukan secara bertahap dan konsisten maka Ibrahim masa kini itu telah ada pada diri kita. Kita tak akan takut dengan ancaman Namrud-Namrud modern. Kita juga tak akan silau kepada berhala-berhala modern.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Pada hari ini umat sangatlah membutuhkan figur sebagaimana Nabi Ibrahim. Betapa krisis figuritas yang saat ini dialami oleh umat Islam membuatnya mudah terombang-ambing dan terjerumus. Maka jangan sampai momentum Idul Adha ini hanya menjadi perayaan tahunan. Kita harus menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk melahirkan kembali Ibrahim-Ibrahim baru di tengah umat. Ketika dunia ini dipenuhi oleh manusia-manusia pengikut Namrud modern maupun penyembah berhala modern, maka jangan ragu untuk memastikan bahwa ada Ibrahim dalam diri kita yang siap melawannya demi Allah Azza wa Jalla.
Wallahu A’lam bis Shawaab.


