back to top
Senin, Juni 15, 2026

Madzhab Kemanusiaan Tarekat ASMiyah

Lihat Lainnya

Piet Hizbullah Khaidir
Piet Hizbullah Khaidir
Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi & Publikasi MTT PWM Jawa Timur

Sudah empat tahun berlalu Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif (ASM) telah berpulang keharibaan Allah Swt. Bagi saya pribadi, hari kepulangan Buya ASM terasa berat. Pertama, karena pada hari wafat Buya bersamaan dengan hari Promosi Doktoral saya. Tercekat sejenak ketika mendengar kabar Buya ASM wafat, dalam suasana saya sedang presentasi disertasi doktoral saya. Kedua, karena bangsa ini telah kehilangan orang yang tulus dan teguh dalam pendirian dan membela kemanusiaan.

Tahun keempat wafatnya Buya ASM ini, perlu dijadikan momentum mengingat warisan pemikiran beliau, dan juga gerakan beliau. Sebagai kader persyarikatan, rasanya perlu terus mengingat dan belajar dari nilai-nilai pemikiran dan gerakan beliau. Sebagai kader yang pernah berkecimpung sejak awal pendirian Ma’arif Institute bersama Kang Muslim Abdurrahman dan Bang Jeffri Geovani, saya ikut merasakan secara langsung denyut nadi pemikiran dan gerakan beliau.

Buya ASM yang pikiran dan tindakannya melampaui sekat-sekat agama, etnis, ras, partai politik, dan macam-macam sekat lainnya telah hadir sebagai sosok yang humanis. Sosok yang melihat segala hal terkait manusia dari sisi kemanusiaan. “Perbedaan agama, suku bangsa, ras, dan golongan, bukanlah alasan kita untuk saling bertikai, menyakiti dan apalagi membunuh”.

Riwayat Hidup dan Pemikiran Buya ASM

Membaca riwayat hidup Buya ASM adalah membaca lembaran sejarah tentang ketekunan, kesederhanaan, dan pergulatan tiada henti dalam mencari kebenaran. Lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, perjalanan hidupnya membentang dari desa kecil hingga ke panggung intelektual global di Chicago, di mana persentuhannya dengan pemikir besar seperti Fazlur Rahman semakin menajamkan nalar kritisnya.

Baca Juga:  Sama-sama Memakai Rukyat, Mengapa Awal Syawal 1445 H di Belahan Dunia Berbeda?

Namun, terlepas dari segala pencapaian akademis dan posisi puncaknya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya tetaplah “Buya”—seorang ayah, guru, dan sahabat yang membumi. Pemikiran Buya ASM bermuara pada satu titik temu: Islam yang ramah, inklusif, dan mengedepankan keadilan sosial.

Beliau sangat gelisah melihat praktik keberagamaan yang sempit, kaku, dan gemar mengkafirkan liyan. Bagi Buya, pemahaman agama yang otentik haruslah melahirkan empati dan kepedulian terhadap nasib sesama.

Pemikiran ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pembacaannya yang mendalam terhadap realitas sosial bangsa Indonesia yang majemuk, serta komitmennya yang kokoh pada nilai-nilai dasar ajaran Islam.

Geneologi Pemikiran Madzhab Kemanusiaan

Genealogi pemikiran Buya ASM pada hakikatnya berakar kuat pada nilai-nilai universalitas al-Qur’an. Beliau mengajarkan bahwa wahyu Tuhan turun bukan untuk mengasingkan manusia dari realitasnya, melainkan untuk membebaskan dan mengangkat derajat kemanusiaannya. Inilah yang saya sebut sebagai “Madzhab Kemanusiaan”—sebuah corak pemikiran yang menjadikan nilai-nilai humanisme berbingkai ketuhanan sebagai poros utama dalam menafsirkan ajaran agama.

Pesan dan teladan inilah yang terus mengiang di benak saya. Pagi itu, ketika saya hendak melangsungkan promosi doktoral saya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, bayang-bayang pemikiran Buya hadir mengiringi langkah saya.

Saya menulis Disertasi dengan judul Sistem Pengetahuan dalam al-Qur’an (Studi Fenomenologis Tafsir Ibn ‘Arabi dan Fakhr al-Din al-Razi). Karya akademis tersebut pada dasarnya adalah upaya saya untuk meneruskan tradisi pemikiran Buya: menggali kedalaman makna al-Qur’an melalui pendekatan yang filosofis dan fenomenologis, guna menemukan sistem pengetahuan yang dapat menjadi fondasi bagi nalar kemanusiaan yang holistik.

Baca Juga:  Potret Perkembangan Studi Hadis di Syam Abad Ke-8 Hijriyah

Buya selalu memotivasi kader-kadernya untuk tidak pernah berhenti mengkaji al-Qur’an secara serius dan mendalam.

Tarekat ASMiyah

Jika “Madzhab Kemanusiaan” adalah kerangka epistemologis pemikiran Buya ASM, maka “Tarekat ASMiyah” adalah laku praksisnya—jalan hidup yang diterapkan dalam realitas keseharian, pergerakan, dan ranah privat. Sebagai kader ideologisnya, saya merasakan langsung bagaimana tarekat ini diajarkan melalui keteladanan dan pesan-pesan bernas yang beliau sampaikan secara personal.

Saya masih ingat betul momen ketika hendak berangkat menuju perhelatan Muktamar Rekonsiliasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan maju sebagai kandidat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM di Palembang, Sumatera Selatan, tahun 2001. Sewaktu saya menghadap Buya ASM untuk memohon doa dan restu, beliau menitipkan tiga amanah ideologis yang sangat fundamental:

  1. Dakwahkan dalam IMM tentang intelektualitas berlandaskan kemanusiaan berbasis dalil-dalil al-Qur’an. IMM harus menjadi lokomotif gerakan yang menggunakan pendekatan rasional-religius, bukan emosional.
  2. Satukan IMM dalam wajah persaudaraan kemanusiaan. Konflik dan perpecahan tidak boleh merobek ukhuwah; kader IMM harus direkatkan kembali dengan ikatan batin yang tulus.
  3. Bawa IMM ke tengah kancah pergulatan pemikiran mahasiswa dengan membawa nalar kemanusiaan untuk perubahan sosial. IMM tidak boleh eksklusif dan diam di menara gading; ia harus turun gelanggang, memimpin dialektika intelektual mahasiswa demi advokasi sosial.

Nilai-nilai kemanusiaan Buya tidak hanya berlaku di ranah pergerakan dan wacana kebangsaan, tetapi membumi hingga ke wilayah paling domestik. Hal ini terbukti ketika saya hendak menikah. Buya ASM memberikan wejangan yang sangat membekas di hati saya: “Istrimu adalah partner, bukan kanca wingking.” Pesan singkat namun padat ini meruntuhkan budaya patriarki yang kerap mensubordinasi perempuan. Bagi Buya, pernikahan adalah relasi kesetaraan, persahabatan, dan kemitraan dalam merajut peradaban dari skala keluarga.

Baca Juga:  Buya Yang Pergi, Buya Yang di Hati

Akhirul kalam, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif memang telah berpulang secara fisik, namun “Madzhab Kemanusiaan” dan “Tarekat ASMiyah” yang beliau wariskan akan terus hidup dan berdenyut dalam nadi sejarah bangsa ini.

Kemanusiaan bagi Buya bukanlah sekadar jargon teoretis, melainkan sikap hidup yang menuntut pembelaan terhadap yang mustad’afin, persaudaraan lintas batas, serta perlakuan yang adil dan setara kepada setiap insan, baik di arena pergerakan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan maupun di dalam bilik keluarga.

Tugas kita hari ini—sebagai kader, anak ideologis, dan pelanjut cita-citanya—adalah memastikan bahwa api pemikiran dan laku kebajikan tersebut tidak pernah padam. Merawat ingatan tentang Buya ASM adalah dengan terus menghidupkan nalar kemanusiaan untuk perbaikan umat, bangsa, dan alam semesta.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru