back to top
Jumat, Juni 12, 2026

Ketua LDK Muhammadiyah DIY Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Eko Masjid Menginspirasi Indonesia

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ananto Isworo, resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima Penghargaan Kalpataru 2026. Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi nyata dakwah Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemasyarakatan, termasuk isu lingkungan melalui Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid.

Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan pemerintah kepada individu maupun kelompok yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Pada tahun 2026, terdapat 16 penerima Kalpataru dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Muhammadiyah, penghargaan yang diterima Ananto Isworo tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga menunjukkan bahwa gerakan dakwah Persyarikatan mampu bertransformasi menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan.

Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Eko Masjid

Melalui dakwah komunitas yang dikembangkan LDK PWM DIY, nilai-nilai Islam berkemajuan diwujudkan dalam aksi-aksi konkret yang menyentuh persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Ananto menerima penghargaan tersebut atas kiprahnya merintis Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid yang telah dijalankan sejak tahun 2013. Gerakan tersebut berkembang melalui partisipasi masyarakat dan jaringan rumah ibadah, sehingga menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan dan perubahan sosial.

Menurut Ananto, Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan teknis, tetapi juga melalui pendekatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat berbasis rumah ibadah.

Baca Juga:  Eco Bhinneka Muhammadiyah Dorong UMKM Hijau Lewat Kolaborasi Pemuda Lintas Iman

“Ini saya kira menjadi poin penting bahwa pendekatan penanganan sampah bisa dilakukan melalui pendekatan agama dan berbasis rumah ibadah. Gerakan ini juga telah direplikasi oleh ratusan komunitas. Di Bantul sendiri ada kurang lebih 532 komunitas, kemudian menyebar hingga ke ratusan masjid dan rumah ibadah. Jika dihitung, jumlahnya mencapai sekitar 300 masjid di seluruh Indonesia,” jelas Ananto.

Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya potensi jaringan Muhammadiyah dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Dengan ribuan masjid, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Persyarikatan memiliki modal besar untuk mengarusutamakan isu lingkungan sebagai bagian dari gerakan dakwah dan tajdid.

Sebagai Ketua LDK PWM DIY, Ananto berharap gerakan lingkungan tidak hanya menjadi program sesaat. Juga tumbuh sebagai budaya dalam kehidupan warga Muhammadiyah. Ia juga mendorong agar kepedulian terhadap lingkungan terintegrasi dalam berbagai aktivitas dan agenda Persyarikatan.

“Saya berharap kita di Muhammadiyah bisa bersama-sama melalui ribuan rumah ibadah dan amal usahanya untuk membawa isu lingkungan ini menjadi sebuah habit, bukan sekadar seremonial untuk meraih penghargaan lingkungan. Tetapi betul-betul menjadi kurikulum pokok di Muhammadiyah sehingga peserta didik dan warga Muhammadiyah memiliki ciri khas dan visi bersama untuk mewujudkan keadilan lingkungan,” ujarnya.

Dakwah Muhammadiyah yang Menjawab Persoalan Lingkungan

Selain memperkuat budaya peduli lingkungan, Ananto juga mendorong pemanfaatan aset Persyarikatan secara lebih optimal untuk mendukung keberlanjutan ekologi. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif, di antaranya pengembangan Wakaf Hutan Muhammadiyah dan Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid.

Baca Juga:  Aksi Nyata Aktivis Perempuan Cegah Krisis Iklim

“Hal itu tentu bisa digunakan secara produktif. Misalnya menjadi kebun bibit dan buah Muhammadiyah, menjadi hutan mini Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Dengan demikian akan memberikan dampak terhadap keadilan iklim, mengurangi panas, menyerap emisi karbon, serta menghasilkan oksigen bagi kehidupan,” tuturnya.

Menurutnya, dukungan kebijakan dan kepemimpinan di lingkungan Persyarikatan memiliki peran strategis dalam memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan secara lebih masif dan berkelanjutan. Berbagai Amal Usaha Muhammadiyah juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam transisi menuju energi bersih.

“Sangat besar potensinya. Ini bisa dilakukan oleh rumah sakit, perguruan tinggi, misalnya melalui penggunaan lampu tenaga surya untuk taman dan jalan lingkungan, maupun pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan energi lainnya. Muhammadiyah sebenarnya sudah memiliki konsep 1000 Cahaya. Tinggal bagaimana memperbanyak dan mereplikasi gerakan itu di seluruh lini yang potensial,” pungkas Ananto.

Penghargaan Kalpataru 2026 yang diterima Ketua LDK PWM DIY tersebut menjadi bukti nyata kontribusi Muhammadiyah dalam pelestarian lingkungan. Hal itu menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya hadir di ruang-ruang pengajian. Tetapi juga memberikan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan dan ekologis.

Melalui dakwah komunitas yang berorientasi pada pemberdayaan, Muhammadiyah terus meneguhkan perannya sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menghadirkan rahmat bagi semesta. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru