back to top
Rabu, Juni 17, 2026

Haji Bukan Sekadar Dongeng

Lihat Lainnya

Arus kepulangan jamaah haji Indonesia ke Tanah Air selalu menghadirkan suasana yang istimewa. Setelah menempuh perjalanan spiritual yang panjang di Tanah Suci. Para jamaah kembali membawa berbagai pengalaman batin yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Tangis haru keluarga yang menyambut, doa-doa yang mengiringi perjalanan pulang. Serta rasa syukur atas kesempatan menunaikan rukun Islam kelima menjadi pemandangan yang berulang setiap tahun dan senantiasa menyentuh hati.

Momentum kepulangan jamaah haji menjadi pengingat bahwa kemabruran tidak diukur dari banyaknya cerita yang dibawa pulang. Melainkan dari perubahan sikap dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Gelar haji bukanlah simbol prestise sosial semata, tetapi amanah moral untuk menghadirkan keteladanan di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Di situlah makna haji menemukan relevansinya, yakni ketika nilai-nilai yang dipelajari di Tanah Suci mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata setelah kembali ke Tanah Air.

Ibadah Istimewa

Menurut pakar tafsir Al-Qur’an, Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul Lentera Al-Qur’an (2008). Ibadah haji tidak dapat dipahami secara baik jika tidak memahami siapa Nabi Ibrahim dan keistimewaannya. 

Minimal ada tiga keistimewaan Nabi Ibrahim yang dicerminkan dalam ibadah haji. Pertama, Nabi Ibrahim menemukan Tuhan melalui pencarian dan pengalaman ruhani. Kedua, melalui Nabi Ibrahim, kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan oleh Tuhan. Ketiga, Nabi Ibrahim adalah satu-satunya nabi yang bermohon agar diperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati. Dan permohonan tersebut dikabulkan oleh-Nya (hlm. 168).

Baca Juga:  Adakah Honor Pendakwah di Muhammadiyah?

Dalam persepsi saya, syarat minimal seorang pelaku untuk mendapatkan predikat mabrur dalam hajinya adalah mampu memahami Nabi Ibrahim dan keistimewaannya itu. Kemudian, pemahaman tersebut diaplikasikan dalam perilakunya sepulang dari menjalani ibadah yang istimewa itu. Apakah itu?

Yaitu, pertama, mampu menggali kesadaran tauhidiyah sehingga tidak memposisikan dirinya seperti Tuhan Yang Absolut. Kesadaran sebagai “yang relatif” mampu membuka diri sebagai pribadi yang tidak anti-kritik atas setiap kesalahan yang diperbuatnya.

Kedua, mampu menjaga dan menjunjung harkat serta martabat sesama manusia dengan tidak gemar mengeksploitasi sesama manusia. Dalam banyak sisi kehidupan sekarang, penumbalan terhadap sesama hadir dalam bentuk fitnah, hasutan, maupun adu domba demi merengkuh kepentingan serta keuntungan ekonomi, sosial, maupun politik (kekuasaan).

Ketiga, mampu menjaga dan merawat kehidupan yang harmonis dengan mengarusutamakan nilai-nilai kehidupan berkemanusiaan yang berkeadaban. Yang mampu memberikan ruang kehidupan yang lebih luas dan bermanfaat bagi banyak orang.

Menanti Komitmen, Bukan Dongeng

Sudah menjadi tradisi, bila ada yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, sanak saudara, kerabat, tetangga, dan rekan berduyun-duyun mengunjungi kediamannya. Hal yang lazim pula bagi mereka yang baru pulang berhaji dan mendapatkan kunjungan sejawatnya untuk memberikan doa—baik diminta maupun tidak. Menurut keyakinan yang berkembang di masyarakat. Doa yang diberikan oleh mereka yang baru pulang haji itu makbul sebelum melewati hari ke-40.

Baca Juga:  Baca Doa Ini Ketika Tanaman Anda Baru Berbuah

Sambil memberikan doa, mereka yang baru pulang haji biasanya menyuguhkan cerita seputar pengalamannya selama di Tanah Suci. Biasanya yang paling banyak diceritakan adalah pengalaman-pengalaman unik dan menarik selama berada di Makkah. Utamanya pengalaman-pengalaman pribadi yang memberikan legitimasi bahwa ibadahnya berjalan secara sempurna. Kadang disertai sedikit rasa bangga manakala apa yang dilakukan melebihi apa yang dilakukan oleh jamaah haji yang lain.

Sayangnya, dari sekian kali mengunjungi mereka yang pulang dari haji. Belum satupun oleh-oleh selain kurma, sajadah, air zam-zam, tasbih, dan lain-lain yang kini sangat mudah kita dapatkan di Surabaya. Atau cerita-cerita biasa seputar hiruk-pikuk Kota Makkah selama musim haji—berupa komitmen dari mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Sebagai misal, komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih religius daripada sebelum berangkat haji. Komitmen menjadi pribadi yang tidak gampang mengeksploitasi orang lain. Komitmen untuk tidak mengambil harta orang lain secara haram, atau komitmen untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap kehidupan sesamanya.

Haji sebagai Ikhtiar Mengikis Keserakahan

Haji akan kehilangan makna transformatifnya apabila hanya berhenti sebagai ritual yang sukses secara administratif dan seremonial. Tetapi gagal menghadirkan kepekaan sosial, kejujuran, serta keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, ukuran kemabruran tidak seharusnya diletakkan pada banyaknya kisah spiritual yang diceritakan atau simbol-simbol religius yang ditampilkan. Melainkan pada keberanian untuk mengikis keserakahan, menahan hasrat mengeksploitasi orang lain, dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan bersama. 

Baca Juga:  Penerapan Standar Penyembelihan Halal di Penyembelihan Hewan Kurban Tahun 1447 H/2026 M

Jika perubahan itu tidak tampak setelah seseorang kembali dari Tanah Suci, maka pertanyaan yang patut diajukan bukanlah seberapa jauh ia telah menempuh perjalanan haji, melainkan seberapa dalam makna haji benar-benar meresap dalam dirinya.

Dengan demikian, mudah-mudahan ratusan ribu jamaah haji Indonesia yang sudah mulai meninggalkan Tanah Suci Makkah dan kembali ke Tanah Air ini tidak sekadar membawa oleh-oleh, dongeng, serta jajanan yang sudah dipesan sebelumnya di Pasar Keputran Surabaya. Tapi yang lebih utama adalah membawa komitmen untuk menjadi insan kamil; manusia yang telah terpotong sifat-sifat kehewanannya yang rakus dan serakah sehingga yang tersisa adalah jiwa-jiwa kemanusiaan yang luhur. Karena sejatinya, “haji mabrur” menurut Rasulullah dicirikan oleh tiga hal, yaitu: (1) thayyibul kalam (santun dalam tutur kata), (2) ifsya’ul salam (menebarkan kedamaian), dan (3) ith’amut tha’am (mengenyangkan orang lapar).

(Editor: Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru