back to top
Jumat, Juni 26, 2026

Tak Cukup untuk Salat, Dosen UNY Tekankan Masjid Hadir sebagai Pusat Solutif bagi Umat

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Masjid tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat menunaikan ibadah ritual, tetapi juga memiliki peran solutif dan mampu menjadi pusat pelayanan umat yang menghadirkan solusi atas persoalan ekonomi, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Semangat inilah yang menjadi ruh pelatihan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk para takmir masjid di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.

Pelatihan bertajuk “Membangun Ekosistem Masjid Solutif” tersebut berlangsung di SMP IT Muhammadiyah An-Najah Jatinom, Kamis (25/6/2026), dan diikuti sekitar 30 takmir masjid dari berbagai desa di Kecamatan Jatinom.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan studi banding ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, sebagai salah satu contoh pengelolaan masjid yang dinilai berhasil menghadirkan pelayanan berbasis kebutuhan jamaah.

Ketua Tim Pengabdi UNY, Syukri Fathudin Achmad Widodo, menegaskan bahwa paradigma Manajemen Masjid Solutif harus dimulai dari perubahan cara pandang para pengelola masjid.

“Apapun latar belakang organisasi keagamaan kita, masjid adalah rumah bersama untuk tumbuh kembang. Pengelolaan masjid hari ini perlu menyentuh masalah utama jamaah. Jika jamaah mempunyai utang, maka pengelola masjid perlu mencarikan solusi,” ujarnya.

Menurut Syukri, keberhasilan sebuah masjid tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan ibadah, tetapi juga sejauh mana masjid mampu menjadi tempat masyarakat mencari jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.

Masjid yang Menggerakkan Umat

Pelatihan Manajemen Masjid Solutif juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar-takmir. Dalam sesi diskusi, berbagai tantangan yang dihadapi pengelola masjid mengemuka, mulai dari sulitnya regenerasi pengurus hingga minimnya keterlibatan generasi muda.

Baca Juga:  Transcendent God, Rational World: Menyegarkan Teologi Maturidi di Era Modern

Riza, takmir Masjid Al-Hidayah Krajan, membagikan pengalaman menarik ketika berhasil menarik minat remaja melalui kegiatan olahraga tinju (boxing) yang dikelola secara profesional. Sebaliknya, Sunardi dari Masjid Mustaqim Krajan mengungkapkan bahwa sebagian besar masjid masih didominasi pengurus lanjut usia sehingga inovasi berjalan lebih lambat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim UNY menghadirkan sejumlah praktik baik dari berbagai masjid di Indonesia. Anggota tim, Sudiyatno, mencontohkan Masjid Nurul ‘Ashri yang aktif menggerakkan ekonomi umat dengan membeli hasil panen petani secara langsung.

Ia juga mengulas keberhasilan Masjid Jogokariyan yang mengembangkan pelayanan berbasis data jamaah.

“Mereka punya data yang akurat tentang jamaah. Melalui data tersebut, takmir bisa mengidentifikasi secara pasti apa kebutuhan warga dan tindakan apa yang harus segera dilakukan,” jelasnya.

Sementara itu, Benni Setiawan membagikan pengalaman Masjid Al-Falah Sragen yang dikenal berani menerapkan strategi pelayanan berbasis kepercayaan jamaah. Salah satu inovasinya ialah memperbarui desain kotak infak agar lebih representatif dan memudahkan masyarakat bersedekah.

Melalui pelatihan Manajemen Masjid Solutif, para takmir di Jatinom diharapkan mampu membangun tata kelola yang lebih terbuka, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.

Sebab, ketika masjid hadir bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan dan penyelesaian persoalan umat, maka fungsi sosial Islam akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. (NS)

Baca Juga:  Hamim Ilyas Tinggalkan Warisan Pemikiran Islam Progresif

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru